Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita. Kita mengalami perubahan diri baik secara pribadi maupun bersama-sama sebagai persekutuan hidup iman. Kesadaran baru mudah-mudahan tampil sebagai kegembiraan Injil di dalam memelihara keseimbangan hidup tercipta. Pada gilirannya, kita dengan rela dan penuh syukur bergiat dan bergerak dengan semangat penuh pengharapan bersama seluruh ciptaan, mulai dari lingkungan keluarga kita masing-masing.
 
Pada masa puasa tahun ini, kita akan dihantar oleh tema “Keluarga berwawasan ekologis”. Lingkungan keluarga kita menjadi ruang mewaktu, di mana kita dapat menemukan kehendak Allah, Sang Pencipta. Kehendak Allah memanggil dan mengutus kita untuk menjaga serta memelihara lingkungan hidup tercipta. Tujuannya, agar kita menjadi mitra kerja Allah dalam mengupayakan keseimbangan ekologis. Itulah tanggungjawab iman kita, bagaikan “biji sesawi yang tumbuh” guna memperindah kehidupan di dalam keluarga kita yang dipanggil untuk ambil bagian dalam memelihara keindahan dan keberlanjutan lingkungan hidup kita. Kita berupaya membangun hidup berkeluarga yang bersemangat dan siap sedia menghadirkan keselarasan dengan Tuhan, sesama dan alam tercipta.
 
Keluarga kita mempunyai pelbagai jenis pekerjaan. Pekerjaan itu bertujuan untuk menjamin kebutuhan hidup bersama dalam keluarga. Pekerjaan itu bercorak terbuka baik secara manusiawi maupun secara ekologis. Perjalanan pekerjaan itu mendorong keluarga kita untuk membangun sikap dan tindakan hidup berbagi. Di dalam bingkai ini, keluarga menjadi pelaku efektif dalam menumbuhkan lingkungan ekologis yang sesuai dengan cita-cita penciptaan, terutama dalam hubungan dengan sesama. Di dalam mewujudkan “keluarga berwawasan ekologis”, persekutuan hidup iman kita semestinya belajar peduli akan lingkungan tercipta setempat, yang dewasa ini sedang mengalami kemerosotan akibat tindakan dan ulah manusia. Kemerosotan itu memunculkan pelbagai tantangan dan kesulitan dalam membangun kebaikan bersama. Kemerosotan lingkungan ekologis pada dasarnya merugikan hidup keluarga dan mewariskan penderitaan bagi anak cucu pula.
 
Keluarga sebagai kesatuan sosial mendasar tetap mempunyai pengharapan untuk mengalami kehadiran lingkungan hidup yang bersih dan seimbang dalam membangun hidup berkelanjutan bagi semua. Lingkungan hidup demikian merupakan ruang terbuka di mana keluarga-keluarga dapat mewujudkan keamanan pangan, energi, air dan udara. Peduli ekologis oleh keluarga akan memberikan makna bagi perjalanan hidup keluarga dalam memelihara alam tercipta dengan segala isinya. Dengan demikian, peduli ekologis keluarga menjadi suatu bakti atas anugerah lingkungan hidup, di mana makhluk tercipta boleh mengalami kehidupan dalam keseimbangan yang indah. Keluarga-keluarga yang membangun hidup dari usaha tani wajib mengolah dan mengerjakan tanah demikian rupa sehingga tanah garapan berkelanjutan dan berjalan selaras alam. Sedangkan bagi keluarga-keluarga yang membangun hidup dengan upaya lain, khususnya di derah perkotaan seperti kegiatan usaha atau pelayanan publik, hendaknya mengusahakan lingkungan ekologis sesuai dengan tata kelola tanggungjawab yang dipercayakan kepada mereka: persoalan sampah, polusi sosial dan polusi kegiatan (narkoba, unsur kimiawi, sampah rumah sakit, pabrik, pembalakan ilegal, pertambangan tanpa amdal, termasuk kekerasan) agar kegiatan kita tidak merusak atau merugikan lingkungan hidup bersama.
 
Pendidikan ekologis dalam keluarga sejatinya amat perlu. Sejak dini anak-anak mendapat bimbingan untuk peduli akan lingkungan hidup, misalnya dengan menanam pohon, hemat air, buang sampah pada tempatnya atau memelihara ternak dalam bingkai disiplin hidup. Pendidikan ekologis akan menumbuhkan dalam diri anggota-anggota keluarga rasa hormat akan keindahan yang terungkap dalam alam tercipta. Keindahan ini akan menjadi bentuk katekese ekologis dalam hidup keluarga. Inilah bagian pewartaan kabar gembira dalam keluarga. Dengan memelihara dan merawat lingkungan, keluarga memperindah karya ciptaan Allah, yang memang diperuntukkan bagi kebaikan manusia. Pada gilirannya, keluarga juga akan mengalami kesejukan serta kenyamanan hidup sebagai bagian utuh dari kerukunan hidup keluarga, karena lingkungan yang seimbang secara ekologis amat berpengaruh pada hidup sosial, ekonomi, politik dan budaya keluarga. Keluarga hadir dan bergerak mengembangkan lingkungan hidup yang menumbuhkan kesegaran serta kesejukan hidup seluruh alam tercipta dalam keselaran dan keseimbangan yang berkelanjutan. Keluarga menghayati aras pembangunan kesejahteraan yang berkelanjutan secara manusiawi dalam memberdayakan lingkungan hidup bersama.
 
Apa yang dapat dilakukan oleh keluarga berwawasan ekologis? Wawasan ekologis pertama-tama terarah kepada pembangunan pola pikir yang mampu mencermati lingkungan hidup menurut makna dan fungsinya. Artinya, keluarga mampu mengatur hubungan hidupnya dengan lingkungan setempat, khususnya keluarga-keluarga yang membangun hidup dari pertanian, peternakan dan kenelayanan. Mereka berpikir tentang pertanian, peternakan serta kenelayanan yang selaras alam dan ramah lingkungan, termasuk upaya-upaya yang bercorak organik demi keberlanjutan makna dan fungsi hidup. Selanjutnya, bila mereka menggunakan unsur-unsur kimiawi seperti pupuk atau pestisida, maka mereka memakainya dengan takaran yang sehat, tepat dan tidak merusak lingkungan ekologis. Dengan demikian mereka memperoleh pangan serta gizi yang sehat dan berkelanjutan sesuai dengan kemampuan alam tercipta. Keluarga berwawasan ekologis menghadirkan dan menyelaraskan cara hidup, termasuk kerjasama kooperatif, yang menyokong kebaikan bersama keluarga dan masyarakat sekitar.
 
Gerakan keluarga berwawasan ekologis mudah-mudahan semakin hadir dalam persekutuan gerejawi kita yang terbentuk oleh keluarga-keluarga. Ketekunan serta keberlanjutan dalam menumbuhkan daya dukung alam tercipta merupakan upaya pemberdayaan martabat manusiawi. Martabat manusiawi tumbuh dan berkembang dengan baik dan benar, bila manusia sendiri setia dalam melaraskan diri dengan Kehendak Pencipta. Dengan demikian keluarga kita semakin menampilkan diri sebagai bagian utuh dari kalangan anak-anak Allah, pewaris dalam Kerajaan Allah. Dengan mewujudkan diri sebagai anak-anak yang setia dalam hubungan dengan karya penciptaan, keluarga-keluarga kita menghayati pembaruan dan pertobatan ekologis dalam suatu pengharapan yang penuh gairah. Kita maju mengambil bagian dalam panggilan untuk memperindah serta memelihara kesuburan daya dukung alam tercipta demi kebaikan bersama: “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan kekal.” (1Ptr. 1:23). Pada kenyataannya, keluarga dan masyarakat sekitar seringkali dikuasai oleh “budaya memperalat atau pun membuang”. Kita perlu mengatasi sikap acuh tak acuh dan pemusatan pada diri sendiri untuk belajar bersolidaritas, karena “kita yang kuat,” kata st. Paulus, “wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri” (Rom. 15:1).
 
Dengan merenungkan tema APP 2017 “keluarga berwawasan ekologis”, mudah-mudahan keluarga-keluarga kita semakin tersedia untuk bersyukur atas alam tercipta. Keluarga-keluarga dengan hati kreatif menjaga, memelihara, merawat serta melaraskan kegiatan hidup demi kebaikan bersama. Karya-karya, biarpun kecil, dalam memberdayakan lingkungan ekologis pada gilirannya akan menghadirkan kegembiraan hidup keluarga dalam melantunkan pujian serta mengagungkan kemuliaan Tuhan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapa-mu yang di sorga” (Mat. 5:16).
 
Uskup mengucapkan “selamat menjalani masa puasa” dengan gembira mudah-mudahan sikap rela berbagi menyata dalam perwujudan solidaritas Kristiani kita dengan menyisihkan sesuatu untuk kemanusiaan yang rentan dan membutuhkan uluran tangan. Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus merahmati  keluarga-keluarga kita dalam masa istimewa ini: keluarga kita bangkit dan bergerak dengan habitus baru, yaitu keluarga berwawasan ekologis.
 
 
Diberikan di Kupang, 11 Januari 2017
Salam hormat dan berkat,
† Petrus Turang
Uskup Agung Kupang

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Jalan Menuju Pertobatan Itu Selalu Terbuka

Selasa, 21 Nopember 2017, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10
BcO Dan 2:1,25-47

Salah satu ceritera Kitab Suci yang sudah begitu akrab di telinga kita, adalah kisah tentang Zakheus, si Pemungut cukai. Di hadapan orang-orang Yahudi, para pemungut cukai termasuk dalam golongan yang dikatakan sebagai orang-orang berdosa.