TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya di desa Noehaen. Kata-kata yang disampaikan pada 31 Agustus 1959 ini kemudian menjadi sebuah langkah awal yang membuka lembaran baru dalam hidupnya untuk menjadi seorang guru agama katolik. Sebuah tugas perutusan yang pada mulanya ingin ia tolak, tapi kemudian penolakan itu menjadi sirna hanya karena ketakutannya kepada sang pastor Belanda ini yang pada saat itu bertugas sebagai Pastor Paroki santo Yohanes Pembaptis Buraen. “Waktu itu saya ingin bilang ke pater Pfeffier kalau saya tidak tahu tempat itu dan saya tidak mau ke sana, tapi saya takut kalau nanti akan dikutuk oleh pater, jadi saya bilang iya saja.”
 
“Tanggal 3 September 1959 saya untuk pertama kalinya tiba di Noehaen. Di sini benar-benar saya hanya menemukan dua keluarga dengan jumlah 11 jiwa yang beragama katolik. Malam itu kami lalu berkumpul untuk doa Rosario dan setelah itu saya pun kembali ke Buraen dengan berjalan kaki. Rutinitas itulah yang saya lakukan setiap minggunya selama enam bulan, hingga akhirnya saya dihadiahi seekor kuda oleh istri dari raja Koroh,” kenang sang guru agama tua yang kini lebih dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama Tuan Gu tentang awal karyanya di wilayah Noehaen.
 
Karya kerasulan yang dilakukan dengan penuh perjuangan dan pengorbanan oleh pria kelahiran 16 September 1930 ini, tidaklah sia-sia. Pada tahun 1966, umat katolik yang awalnya hanya dua keluarga telah berkembang menjadi 40 kepala Keluarga, dengan jumlah jiwa mencapai lebih dari dua ratus orang. Pesatnya pertumbuhan jumlah umat ini kemudian memunculkan persoalan baru, yakni kecemburuan dan ketidaksukaan dari pihak-pihak lain. Banyak ancaman yang kemudian diterima oleh Tuan Gu dan bahkan cap sebagai PKI pun pernah dikenakan kepada Tuan Gu dan umat katolik lainnya. Namun semuanya itu tak membuat beliau dan umat katolik lainnya gentar. “Hanya berkat, cinta kasih dan penjagaan Tuhanlah yang membuat saya dan umat katolik di Noehaen ini bisa bertahan. Semakin kami ditekan, justru semakin banyak orang yang ingin untuk dibaptis menjadi katolik, sehingga pada tahun 1969 kami lalu memutuskan untuk membangun sebuah gedung gereja katolik di wilayah ini,” kisah Tuan Gu.
 
Kecintaan pria yang semulanya menerima tugas perutusan hanya karena takut ini kepada wilayah pelayanannya kemudian semakin bertambah setelah ia bertemu dengan tambatan hatinya yang merupakan salah satu gadis asli Noehaen, bernama Maria Poli. Keduanya lalu memutuskan untuk menikah pada tahun 1973. Buah dari pernikahan mereka, lahirlah 8 orang putera dan puteri. Namun sayang, hanya empat orang yang kemudian bertumbuh hingga dewasa. Dan dari keempat anak ini, Tuan Gu kini telah memiliki 13 cucu dan 2 cicit.
 
Setahun sebelum istrinya meninggal, tepatnya tahun 1994, Tuan Gu memutuskan untuk pensiun dari tugasnya sebagai Guru Agama Katolik di Noehaen. Tetapi itu tidak lantas berarti selesailah tugas pewartaannya. Ia lalu mengambil tugas dan peran yang baru dalam karya pewartaan, yakni sebagai pendamping dan pengarah bagi para katekis muda, pengurus stasi dan pengurus Kelompok Umat Basis.
 
Kini di usianya yang tak lagi muda dan telah memasuki 86 tahun, Tuan Gu masih nampak segar walau rambutnya hampir memutih semuanya dan kulitnya pun mulai keriput termakan usia. Saat ditanya apakah rahasianya agar tetap segar dan sehat dan apa harapannya ke depan, dengan sedikit tertawa Tuan Gu menjawab, “Hanya karena cinta dan kasih Tuhanlah sehingga saya masih sesehat sekarang ini. Jika bukan karena cinta Tuhan, saya tentu sudah mati karena membela iman katolik. Semua ini hanya karena cinta Tuhan. Dan untuk harapan saya yang terbesar, salah satunya kini telah dijawab oleh Tuhan melalui Yang Mulia Uskup Agung Kupang, yakni dengan meningkatkan status stasi Noehaen menjadi Paroki santo Stefanus Noehaen. Semoga peningkatan status ini juga membuat hidup iman umat di wilayah ini semakin bermutu dari waktu ke waktu.”***

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.