Takhta adalah Tempat Duduk Sang Pelayan

Bacaan: 

Kamis, 22 Februari 2018; Pesta Takhta S. Petrus, Ras (P). E Kem.
BcE 1Ptr. 5:1-4; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 16:13-19.
O AllTuh. BcO Kis. 11:1-18. BcO 1Kor. 12:1-11.

Orang-orang Romawi kuno memiliki kebiasaan mengenang orang-orang yang sudah meninggal dunia. Mereka suka berkumpul di pekuburan, makan dan minum layaknya sebuah pesta yang meriah. Pada kesempatan itu mereka meletakkan sebuah kursi di tengah-tengah dan kursi itu tidak diduduki orang karena di khususkan bagi arwah yang mereka peringati. Kursi menjadi tanda kehadiran orang yang sudah meninggal dalam perjamuan tersebut.

Pada abad keempat kebiasaan orang Romawi kuno ini diadopsi dan masuk dalam liturgi Gereja. Gereja menghormati sebuah kursi atau takhta atau “Cathedra” sebagai simbol kehadiran rohani Petrus, kepala Gereja di Roma. Dalam dokumen Depositio Martyrum, tahun 354 memperingati “Natale Petri de Cathdera” atau Takhta santo Petrus setiap tanggal 22 Februari.

Kita merayakan Pesta Takhta Suci berarti merayakan Martabat kepausan. Takhta ini biasa disebut cathedra, tempat duduk bagi Uskup untuk melayani, mempersatukan
dan mengajar umat Allah di keusukupannya. Itu sebabnya kita mengenal Gereja katedral yakni bangunan Gereja di mana terdapat kursi atau Takhta dari uskup setempat. Uskup sebagai pemersatu dan pelindung seluruh gereja lokal atau keuskupannya. Paus adalah Uskup di Roma. Ketika ia duduk di Takhtanya, ia juga melayani, mengajar dan mempersatukan seluruh Gereja universal. Paus adalah servus servorum Dei (hamba dari para hamba Allah).

Petrus dalam bacaan hari ini mengingatkan para penatua, khususnya pengganti rasul-rasul untuk menggembalakan kawanan domba Allah yang telah dipercayakan kepada mereka, bukan dengan terpaksa tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, bukan untuk mencari keuntungan tetapi dengan pengabdian diri (1Ptr 5:2). Pesan Petrus bagi para penatua masih aktual hingga saat ini. Sebuah pesan yang sangat menantang bagi para gembala. Artinya bahwa dalam menjalankan tugas kegembalaan, para gembala haruslah menjalaninya dengan sukarela sesuai kehendak Allah dan tidak mencari keuntungan, popularitas dan lain sebagainya. Para gembala membawa umat Allah kepada Kristus bukan bagi dirinya sendiri.

Para gembala menurut Petrus, bukanlah orang yang berbuat seolah-olah mau memerintah dengan kuasa penuh, dengan tangan besi, tetapi menjadi teladan bagi kawanan domba. Gembala yang baik bagi kawanan domba selalu mencari domba untuk melayani dan menyelamatkan. Gembala menunjukkan teladan yang baik bagi kawanan domba Allah. Dengan demikian mereka juga akan menerima mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu dari Tuhan sendiri. Gembala yang baik rela menyerahkan nyawa bagi domba-dombanya. Tuhan Yesus adalah gembala yang baik dan Ia menginspirasikan Gereja untuk menghayati kehidupan yang sama. Para gembala hendaknya seperti Kristus yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani bahkan menyerahkan nyawanya.

Karenanya marilah pada hari ini kita berdoa, memohon supaya Tuhan memberikan anugerah berlimpah bagi Bapa Paus. Semoga ia menjadi gembala yang baik, wakil Kristus yang melakukan pekerjaan-pekerjaan Kristus di dunia ini dengan sempurna sehingga gereja ini menjadi Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolis.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

B. Marie-Leonie Paradis

Elodie Paradis dilahirkan di desa L'Acadie di Quebec, Canada pada tanggal 12 Mei 1840. Orangtuanya miskin, namun mereka adalah orang-orang Katolik yang saleh. Mereka mencintai gadis kecil mereka.

Renungan Harian

Iman Yang Bertumbuh Bagai Biji Sesawi

Minggu, 17 Juni 2018
Hari Minggu Biasa XI (H). E KemSyah.
BcE Yeh. 17:22-24;
Mzm. 92:2-3,13-14,15-16; 2Kor. 5:6-10;
Mrk. 4:26-34.
O AllTuh.

Ungkapan “Kerajaan Allah” seringkali kita jumpaidalam Injil Markus dan Lukas. Ungkapan ini sejatinya bukanlahmenunjuk pada suatuwilayah atau pemerintahan, melainkan menunjuk pada kebesaran, kemuliaan, kekuasaan Tuhan yang diberitakan kedatangannya kepada umat manusia.