Semua Orang Yang Menyentuh-Nya Menjadi Sembuh

Bacaan: 

Senin, 11 Februari 2019, Santa Perawan Maria di Lourdes,
Hari Orang Sakit Sedunia,

Kej. 1:1-19; Mzm. 104:1-2a,5-6,10,12,35c; Mrk. 6:53-56.
BcO 1Kor. 1:18-31. -- warna liturgi Hijau

Setiap orang sakit tentu ingin sembuh. Keinginan itu kemudian memnggerakkannya untuk melakukan pelbagai macam upaya, agar kesembuhan itu bias dialami. Ada yang datang ke dokter atau rumah sakit. Ada juga yang mengusahakan penyembuhan alternatif lewat ramuan-ramuan tradisional, dan bahkan ada yang sampai menempuh cara-cara yang dirasa cukup naif dan membahayakan imannya, yakni dengan mendatangi dukun atau paranormal.
 
Injil hari ini berkisah tentang Yesus dan murid-murid-Nya yang datang ke daerah Genesaret. Setibanya di sana, ternyata dengan begitu mudah Yesus dikenali oleh orang-orang di tempat itu, yang tentu saja telah mendengar begitu banyak cerita tentang pengajaran Yesus dan juga mujizat-mujizat penyembuhan yang diadakan-Nya. Karena itu tidaklah mengherankan jika kemudian merekapun segera mengusung orang-orang sakit untuk dibawa kepada Yesus. Dan bahkan Ke manapun Yesus pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya orang-orang sakit itu diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan ternyata semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh.
 
Dalam kisah ini, kita bisa menemukan betapa kuatnya keyakinan iman dari orang-orang di Genesaret akan Yesus. Mereka yakin bahwa Yesus akan sanggup melakukan sesuatu yang membawa kebaikan bagi diri mereka, membawa kesembuhan bagi mereka. Itulah yang menggerakkan mereka untuk membawa orang-orang sakit kepada Yesus dan meminta agar diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya.
 
Di sini kita melihat bahwa aspek iman dari orang yang ingin mendapat kesembuhan itu sangatlah menentukan. Mereka percaya bahwa hanya dengan menyentuh atau menjamah jumbai jubah Tuhan Yesus, mereka akan sembuh. Inilah sebuah cara beriman yang sangat sederhana. Iman yang tanpa menuntut penjelasan yang terlalu banyak dan rumit. Iman yang tidak melibatkan terlalu banyak pertimbangan logika untuk percaya akan belas kasihan Tuhan. Dan ternyata iman mereka yang sederhana ini mampu menggerakkan hati Tuhan, mampu membawa mereka kepada kesembuhan. Inilah buah paling nyata dari keterbukaan mata hati dan iman mereka untuk menyadari kehadiran Tuhan bersama mereka, untuk menyadari kehadiran Yesus yang kini melawati mereka.
 
Apa yang bisa kita renungkan dari kisah injil hari ini bagi hidup kita?
 
Pertama, seperti orang-orang di Genesaret, kita harus menjadi orang yang memiliki mata hati dan mata iman yang mau terbuka, sehingga sanggup mengenali dan menemukan kehadiran Tuhan dalam hidup kita, karena sejatinya setiap saat Tuhan datang kepada kita, Tuhan ingin berjumpa dengan kita dan ingin menyatakan kasih-Nya kepada kita. Dan melalui perjumpaan dengan Tuhan kita pun akan mendapatkan daya penyembuhan, daya kekuatan, daya penyelamatan-Nya. Karenanya kita perlu yakin bahwa saat kita datang kepada Yesus dengan segala kerendahan hati, maka Dia akan bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidup kita. Sentuhan Yesus adalah sentuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan.
 
Dan setelah kita mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang menyelamatkan, hal kedua yang perlu kita lakukan adalah menjadi pewarta karya keselamatan itu kepada sesama, sebagaimana orang-orang Genesaret yang mengusung orang-orang sakit untuk dibawa kepada Yesus. Rahmat penyelamatan Allah bukanlah sesuatu rahasia yang harus disimpan untuk diri sendiri saja, tetapi suatu kabar sukacita yang perlu kita wartakan, agar semakin banyak orang juga mengalami rahmat penyelamatan dari Allah.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Santo Paus Leo Agung

Santo Paus Leo I adalah Paus ke-45 dalam sejarah Gereja Katolik. Ia merupakan yang pertama dari 4 orang Paus yang dianugerahi gelar "Agung" (the Great).

Renungan Harian

Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati demi seluruh bangsa

Sabtu, 13 Maret 2019 -
Yeh. 37:21-28; MT Yer. 31:10,11-12ab,13; Yoh. 11:45-56.
BcO Ibr. 13:1-25 --- warna liturgi Ungu

Apa yang dikatakan oleh Kayafas dalam Injil hari ini sekilas nampak sebagai langkah bijaksana untuk keselamatan suatu bangsa. Jika ditinjau dari situasi politik, pendapat tersebut memang masuk akal. Yesus dianggap provokator di kalangan rakyat.