Semoga Damai Tinggal Di Hatimu

“Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada anak-anak, kepada saudari dan saudari yang sudah menerima sakramen Krisma, kepada pastor dan juga para katekis yang sudah mempersiapkan mereka. Selamat pesta kepada umat di paroki ini yang kini sudah memasuki usianya yang ke-50. Semoga kita selalu mengalami kegembiraan, terutama karena kehadiran Roh Kudus, sehingga kita bisa terus menerus menyelami makna kehadiran Yesus Kristus yang datang ke dunia ini, supaya kita bisa sama-sama mengalami dan membagikan kasih kepada semua orang yang merindukan damai di dunia ini.”
 
Demikian disampaikan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang pada kesempatan Perayaan Ekaristi syukur 50 tahun berdirinya Paroki Santa Maria Immaculata Kapan, yang diadakan pada Senin, 18 Desember 2018.
 
Lebih lanjut pada perayaan yang dirangkaikan pula dengan penerimaan sakramen krisma ini, Bapa Uskup mengatakan bahwa seringkali damai itu terasa sulit untuk diwujudnyatakan. Hal ini dikarenakan oleh sebuah kenyataan bahwa damai tidak pernah tinggal di dalam hati manusia, ia hanya menjadi ucapan bibir belaka.
 
“Kita banyak kali berbicara tentang damai sejahtera, tetapi sesudah itu dia melayang, diterbangkan oleh angin. Kalau damai itu tinggal di dalam hati kita, maka ia tidak akan bisa diterbangkan angin. Oleh karena itu, dalam mempersiapkan diri menyambut perayaan Natal, mari kita senantiasa mohon agar damai yang dibawa oleh Sang Bayi kecil itu sungguh-sungguh menjadi pegangan, menjadi bagian dari hidup kita. Terutama di dalam menghadapi tantangan-tantangan dunia sekarang ini yang tidak selalu gampang, karena terlalu banyak pertikaian, pertentangan, perselisihan antar negara, antar kelompok, di dalam rumah tangga, antar umat beragama, dan lain sebagainya,” kata Mgr. Petrus.
 
Karena itulah, dengan mengutip apa yang menjadi isi pesan Natal 2017 yang dikeluarkan oleh KWI dan PGI, Bapa Uskup berharap agar damai itu tinggal di dalam hati setiap manusia. “Semoga Tuhan Yesus, Dia menggerakkan hati kita semua dengan damai yang hinggap di hati kita untuk selalu membawa damai, memberikan satu rasa aman, sau rasa penerimaan, menyapa, satu perasaan bahwa orang-orang di sekitar kita terlindung, dimajukan dan juga terintegrasi, sehingga tidak ada yang dikucilkan, tidak ada yang disepelekan dalam perjalanan hidup bersama kita di dunia ini.”***

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Mari Membangun Dunia Baru Yang Harmonis

Selasa, 5 Desember 2017,
Filipus Rinaldi, Bartolomeus Fanti, Sabas
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24
BcO Yes 2:6-22; 4:2-6
warna liturgi Ungu

Rencana keselamatan terus menerus disampaikan Tuhan kepada umat-Nya.