Sejarah Singkat Keuskupan Agung Kupang

23 Oktober 1989, Kabar Sukacita datang dari Vatikan untuk Diosis Kupang. Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan dua Bulla Romana.  Yang pertama, Vatikan mengumumkan peningkatan status Keuskupan Sufragan Kupang menjadi Keuskupan Agung Kupang sebagai Keuskupan Agung Ke-8 Di Indonesia. Kedua, mengangkat Mgr. Gregorius Monteiro, SVD menjadi Uskup Agung Kupang yang pertama. Sungguh besar cinta Allah bagi umat di Keuskupa Agung Kupang.
 
Kini, 25 tahun sudah Rahmat “Agung” itu dikecapi dan dinikmati oleh Persekutuan Gerejawi di Keuskupan ini. Sungguh suatu rahmat yang harus disyukuri dan dalam perayaan syukur bersama. Banyak kisah sudah terjalani dan inilah sebagian kecil kisah yang masih dapat terlukis dalam perjalanan Ziarah Keuskupan ini dari masa ke masa.
 
Gereja Awal di Timor
Dari beberapa catatan sejarah, diketahui bahwa pada sekitar tahun 1512, dua orang Misionaris Katolik mulai menebarkan Cinta Allah di Tanah Timor. Kedua misionaris ini adalah Frei Antonio Taveiro OP dan Frei Antonio da Cruz, OP. Kehadiran dan karya mereka sungguh direstui Allah, sehingga menghasilkan buah berlimpah bagi pangkuan Gereja Kristus. Daerah-daerah pedalaman Pulau Timor perlahan-lahan terbuka untuk menerima warta kasih Tuhan.
 
Menurut catatan dari para Misionaris Dominikan, sekitar tahun 1556 – 1560, di daratan Timor sudah ada sekitar 5000 jiwa penduduk yang beragama Katolik. Selain kedua Misionaris diatas, ada seorang Imam Allah lagi yang sering disebut-sebut sebagai seorang imam yang lama berkarya di wilayah Kupang dan sekitarnya, yakni Pater Antonio Tancipo.
 
Perjalanan panjang Cinta Kasih Allah di Tanah Timor, khususnya di Kupang dan sekitarnya semakin pesat, perkembangan umat Katolik yang pesat ini menjadi alasan serius untuk mendirikan sebuah rumah Pastoran di Kupang. Tahun 1936, mulai dipikirkan secara serius tempat untuk mendirikan Rumah Pastoran. Akhirnya diperoleh sebidang tanah yang dipakai untuk mendirikan rumah pastoran, di mana sekarang berdiri Gereka Kristus Raja Katedral Kupang.
 
Misi Katolik di Timor, dan Kupang khususnya berlanjut dan terus berkembang. banyak cobaan dan tantangan dihadapi oleh Gereja kala itu, namun Cinta Kasih Allah tak pernah lepas dari perjalanan iman Umat kala itu.
 
Hinggatahun 1967, tepatnya tanggal 13 April 1967, Paus Paulus VI menetapkan Kupang menjadi suatu Dioses atas dasar Bulla Romana yang dikeluarkan Propaganda Fidei No. 2684/87. Pater Gregorius Monteiro, SVD yang saat itu menduduki jabatan Rektor Seminari Menengah St. Pius XII Kisol – Manggarai Diangkat Menjadi Uskup. Beliau ditahiskan oleh YM. Uskup Agung Ende, Mgr. Gariel Manek, SVD pada tanggal 15 Agustus 1967, di Lapangan Frater Merdeka - Kupang, dengan Motto Tahbisan “Opus Justitiae Pax” (Karya Keadilan Adalah Damai).
 
Saat itu wilayah Keuskupan Kupang meliputi Dati II Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS) dan Perwakilan Sabu. Awalnya, Keuskupan Kupang terdiri dari 9 Paroki, yakni Paroki Kristus Raja Katedral Kupang, Paroki Buraen, Paroki So’E, Paroki Niki-Niki, Paroki Put’Ain, Paroki Rote, Oinlasi, Paroki Noelmina dan Paroki Oepoli.
 
Opus Justitiae Pax
“Karya Keadilan Adalah Damai” menjadi arah dasar Pastoral Keuskupan Kupang masa Mgr. Gregorius Monteiro, SVD. Uskup Monteiro, dalam karya penyebaran Cinta Kasih Allah memiliki tugas yang cukup berat, karena Kupang kala itu terkenal sebagai Keuskupan Diaspora; yang mana memiliki umat dari perlbagai daerah dan suku, serta tersebar di pempat pelayanan luas meliputi 2 kabupaten.
 
Lagi-lagi Karya Allah Sungguh sangat indah. dalam perjalanannya, keuskupa muda ini, yang sebelumnya “hanya” memiliki 9 Paroki, berkembang menjadi 15 Paroki di tahun 1989 (termasuk Alor yang ditarik dari Keuskupan Larantuka ke Keuskupan Kupang pada 25 Jnuari 1982).
Pesatnya perkembangan umat dan iman Katolik membuat Paus Yohanes Paulus II, mengeluarkan dua Bulla Romana pada 23 Oktober 1989 yakni Meningkatkan Status Dioses Kupang menjadi Diosis Agung Kupang dan Bulla kedua Mengangkat Mgr. Gregorius Monteiro, SVD menjadi Uskup Agung Kupang yang pertama.
 
Dengan demikian, wilayah gereja di Nusa Tenggara Timur (NTT) terbagi menjadi dua Keuskupa Agung, yakni Keusupan Agung Ende, yang membawahi Keuskupan Sufragan Larantuka, Keuskupan Sufragan Ruteng dan Keuskupan Sufragan Denpasar, dan Keuskupan Agung Kupang yang membawahi Keuskupan Sufragan Atambua dan Keuskupa Sufragan Weetabula.
 
Dalam perkembangan Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Monteiro juga mendirikan Seminari Menengah Santo Rafael di Oepoi pada tanggal 15 Agustus 1984 dan Seminari Tinggi Santo Mikhael di Penfui pada tanggal 29 September 1991. Kedua seminari ini kini telah menghasilkan Imam-Imam baik Projo maupun Religious yang berkarya dan tersebar di seluruh dunia.
 
Tigapuluh tahun setelah menjabat sebagai Uskup, Mgr. Monteiro mendapatkan seorang Uskup Koajutor yakni Mgr. Petrus Turang, Pr, yang ditahbiskan pada 27 Juli 1997, bertempat di arena pameran Fatululi - Kupang. dengan Motto Tahbisan “Pertransiit Benefaciendo” (Dia Berkeliling Sambil Berbuat Baik  Kis,10:38).
 
Pertransiit Benefaciendo
Tiga bulan setelah mendapatkan Uskup Koajutor, dan karena sakit yang telah lama diderita, Mgr. Gregorius Monteiro, SVD meninggal dunia. Keuskupan Agung Kupang berduka. Kehilangan Uskup dan Uskup Agung pertama yang sangat dicintai umatnya. Beliau dimakamkan di sisi Timur Gereja Kristus Raja Katedral Kupang.
 
Sepeinggal Mgr. Monteiro, Vatikan kemudian mengangkat Uskup Koajutor Kupang, Mgr. Petrus Turang menjadi Uskup Agung ke-2 Keuskupan Agung Kupang. Mgr. Petrus kemudian melanjutkan karya yang sudah dimulai pendahuluya. Dengan Motto “Pertransiit Benefaciendo”, Kupang melangkah dari Keuskupan Diaspora, menuju Keuskupan Agung yang lebih dinamis. Hingga kini, Keuskupan ini telah memiliki 29 Paroki (termasuk Paroki Tarus yang akan diresmikan tanggal 26 Oktober 2014 dan Paroki BTN yang akan diresmikan 1 Januari 2014).
 
Dengan Imam Projo berjumlah 100 orang, beberapa serikat dan imam, taekat biarawan-biarawati, Keuskupan Agung Kupang siap melangkah menuju Jubileum Peraknya pada tanggal 23 Oktober 2014.
 
Selamat memasuki Jubileum Perak Keuskupan Agung Kupang! Sungguh, Cinta Kasih Allah sangat besar bagimu. “Perayaan Perak haruslah menjadi Perayaan Syukur bersama Persekutuan Gerejawi di Keuskupan ini” pesan Mgr. Petrus Turang Pr dalam setiap kesempatan.* (Carolus – Dari Berbagai Sumber))

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Jalan Menuju Pertobatan Itu Selalu Terbuka

Selasa, 21 Nopember 2017, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10
BcO Dan 2:1,25-47

Salah satu ceritera Kitab Suci yang sudah begitu akrab di telinga kita, adalah kisah tentang Zakheus, si Pemungut cukai. Di hadapan orang-orang Yahudi, para pemungut cukai termasuk dalam golongan yang dikatakan sebagai orang-orang berdosa.