Sakramen Perkawinan

Pelayan: Pelayan sakramen perkawinan adalah pasangan yang menikah itu sendiri.
 
Tanda: Pasangan nikah mengucapkan janji kesepakatan nikah mereka dihadapan pelayan tertahbis (bisa Uskup, Imam atau Diakon), di hadapan para saksi dan umat beriman. Janji kesepakatan ini disertai dengan tanda-tanda lain seperti penyatuan kedua tangan dengan stola, meletakkan tangan di atas Kitab Suci dan saling mengenakan cincin.
 
Kata-kata: Kesepakatan nikah yang dinyatakan secara publik oleh pasangan nikah berbunyi antara lain: “Saya ...N... menerima ...N... menjadi istri (suami) saya dan saya berjanji tetap setia kepadanya dalam untung dan malang seumur hidup...”
 
Yang terjadi: Perkawinan adalah tanda kesatuan Kristus dan Gerejanya. Sakramen ini memberikan kepada pasangan nikah kekuatan untuk saling mencintai dengan cinta yang sama yang diberikan Kristus kepada GerejaNya, yaitu dengan saling memberi dan menerima diri, dengan cinta yang dalam dan abadi, serta terbuka kepada pengadaan keturunan. Oleh karena itu kesatuan nikah bersifat tidak terceraikan, yakni apa yang telah disatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Perkawinan bertujuan untuk kebaikan pasangan nikah, kelahiran dan pendidikan anak. Orangtua Kristen menerima tugas untuk mendidik anak-anak dalam iman kristen, melalui keteladanan dalam hidup mereka. Oleh karena itu Konsili Vatikan II menyebut keluarga-keluarga kristen sebagai Gereja domestik.

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.