Sakramen Perkawinan

Pelayan: Pelayan sakramen perkawinan adalah pasangan yang menikah itu sendiri.
 
Tanda: Pasangan nikah mengucapkan janji kesepakatan nikah mereka dihadapan pelayan tertahbis (bisa Uskup, Imam atau Diakon), di hadapan para saksi dan umat beriman. Janji kesepakatan ini disertai dengan tanda-tanda lain seperti penyatuan kedua tangan dengan stola, meletakkan tangan di atas Kitab Suci dan saling mengenakan cincin.
 
Kata-kata: Kesepakatan nikah yang dinyatakan secara publik oleh pasangan nikah berbunyi antara lain: “Saya ...N... menerima ...N... menjadi istri (suami) saya dan saya berjanji tetap setia kepadanya dalam untung dan malang seumur hidup...”
 
Yang terjadi: Perkawinan adalah tanda kesatuan Kristus dan Gerejanya. Sakramen ini memberikan kepada pasangan nikah kekuatan untuk saling mencintai dengan cinta yang sama yang diberikan Kristus kepada GerejaNya, yaitu dengan saling memberi dan menerima diri, dengan cinta yang dalam dan abadi, serta terbuka kepada pengadaan keturunan. Oleh karena itu kesatuan nikah bersifat tidak terceraikan, yakni apa yang telah disatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Perkawinan bertujuan untuk kebaikan pasangan nikah, kelahiran dan pendidikan anak. Orangtua Kristen menerima tugas untuk mendidik anak-anak dalam iman kristen, melalui keteladanan dalam hidup mereka. Oleh karena itu Konsili Vatikan II menyebut keluarga-keluarga kristen sebagai Gereja domestik.

Suara Gembala

Pesan Puasa Uskup Agung Kupang Tahun 2018

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, Masa puasa atau prapaskah sudah tiba kembali. Kita hadir lagi dalam masa liturgis khusus. Masa pembaruan hidup iman akan sengsara, wafat serta kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

Tokoh

Santa Agatha

Seorang gadis Kristen nan cantik bernama Agatha hidup di Sisilia pada abad ketiga. Gubernur Romawi kafir mendengar kabar tentang kecantikan Agatha dan menyuruh orang untuk membawa gadis itu ke istana untuk dijadikan sebagai isterinya.

Renungan Harian

Takhta adalah Tempat Duduk Sang Pelayan

Kamis, 22 Februari 2018; Pesta Takhta S. Petrus, Ras (P). E Kem.
BcE 1Ptr. 5:1-4; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 16:13-19.
O AllTuh. BcO Kis. 11:1-18. BcO 1Kor. 12:1-11.

Orang-orang Romawi kuno memiliki kebiasaan mengenang orang-orang yang sudah meninggal dunia. Mereka suka berkumpul di pekuburan, makan dan minum layaknya sebuah pesta yang meriah.