Sakramen Perkawinan

Pelayan: Pelayan sakramen perkawinan adalah pasangan yang menikah itu sendiri.
 
Tanda: Pasangan nikah mengucapkan janji kesepakatan nikah mereka dihadapan pelayan tertahbis (bisa Uskup, Imam atau Diakon), di hadapan para saksi dan umat beriman. Janji kesepakatan ini disertai dengan tanda-tanda lain seperti penyatuan kedua tangan dengan stola, meletakkan tangan di atas Kitab Suci dan saling mengenakan cincin.
 
Kata-kata: Kesepakatan nikah yang dinyatakan secara publik oleh pasangan nikah berbunyi antara lain: “Saya ...N... menerima ...N... menjadi istri (suami) saya dan saya berjanji tetap setia kepadanya dalam untung dan malang seumur hidup...”
 
Yang terjadi: Perkawinan adalah tanda kesatuan Kristus dan Gerejanya. Sakramen ini memberikan kepada pasangan nikah kekuatan untuk saling mencintai dengan cinta yang sama yang diberikan Kristus kepada GerejaNya, yaitu dengan saling memberi dan menerima diri, dengan cinta yang dalam dan abadi, serta terbuka kepada pengadaan keturunan. Oleh karena itu kesatuan nikah bersifat tidak terceraikan, yakni apa yang telah disatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia. Perkawinan bertujuan untuk kebaikan pasangan nikah, kelahiran dan pendidikan anak. Orangtua Kristen menerima tugas untuk mendidik anak-anak dalam iman kristen, melalui keteladanan dalam hidup mereka. Oleh karena itu Konsili Vatikan II menyebut keluarga-keluarga kristen sebagai Gereja domestik.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Beato Innosensius XI, Paus

Benedetto Odescalchi -demikian nama Innosensius- lahir di Como, Italia pada tanggal 19 Mei 1611. Masa pontifikatnya (1676-1689) ditandai dengan suatu perjuangan panjang lagi berat melawan campur tangan Raja Louis XIV dari Prancis (1643-1715) dalam urusan-urusan Gereja.

Renungan Harian

Mari Menjadi Saudara Yang Baik Dan Benar

Rabu, 15 Agustus 2018 - Hari Biasa
Yeh. 9:1-7; 10:18-22; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:15-20.
BcO Za. 10:3-11:3.
warna liturgi Hijau

Saling mengoreksi seringkali menjadi hal yang tidak mudah. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidakpedulian, atau juga karena ada keengganan satu terhadap yang sama lain .