Sakramen Ekaristi

Pelayan: hanya uskup atau imam.
 
Tanda: Roti dan anggur yang merupakan simbol dari hasil Bumi dan usaha manusia. Roti dan anggur ini dipersembahkan dalam Misa atau “perjamuan Tuhan” yang merupakan kenangan akan wafat dan kebangkitannya.
 
Kata-kata: dalam perayaan Ekaristi khususnya Doa Syukur Agung, Pelayan mengulurkan tangan ke atas roti dan anggur dan mengundang Roh Kudus untuk menjadikan roti dan anggur itu Tubuh dan Darah Yesus Kristus lalu selanjutnya mengucapkan kata-kata Tuhan sendiri yang ditutup dengan kata-kata “lakukanlah ini untuk mengenangkan daku”. Dengan konsekrasi maka terjadi perubahan substansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Perubahan seperti ini yang dikenal dengan istila “Transsubstantiatio”.
 
Yang terjadi: Ekaristi adalah perjamuan Tubuh dan Darah Kristus yang merupakan roti hidup, santapan jiwa. Dengan menyambut Roti hidup itu manusia dianugerahi bantuan khusus untuk dapat menghidupi iman secara otentik dan penuh. Sakramen ini menghadirkan puncak karya penyelamatan Allah, karena merupakan kenangan sekaligus pengaktualisasian kurban Kristus di salib demi keselamatan umat manusia. Juga merupakan sumber kehidupan kristiani sebab dengan menyantap tubuh Kristus berarti menyatukan diri dengan Kristus, sumber keselamatan. Ekaristi juga adalah sumber kesatuan umat kristen dan ikatan kasih antar umat dalam dan dengan Kristus.

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.