Pesan Puasa Uskup Agung Kupang Tahun 2018

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, Masa puasa atau prapaskah sudah tiba kembali. Kita hadir lagi dalam masa liturgis khusus. Masa pembaruan hidup iman akan sengsara, wafat serta kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus. Masa rahmat, di mana kita mendapat kesempatan untuk menemukan kembali keadaan kita sebagai anak-anak Allah. Kita bersyukur kepada Tuhan atas masa rahmat ini. Kita memanfaatkannya sebagai lingkungan liturgis di mana kita berani belajar kembali sebagai murid-murid Kristus yang membawa kerukunan hidup: “Hendaklah damai sejahtera Yesus Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh.” (Kol 3:15).
Masa rahmat ini selalu mengajak kita untuk membarui serta menekuni janji permandian kita. Kita sadar akan panggilan hidup untuk menuju kekudusan. Kita bersekutu kembali dengan Tuhan, sumber segala kelimpahan hidup. Kita mengalami kembali sukacita sebagai orang-orang percaya kepada Yesus Kristus. Kita mendulang kembali dorongan perutusan untuk menumbuhkan kesadaran iman yang merangkul dan bersekutu dengan semua orang. Kita mendapat dorongan lagi untuk membangun kepenuhan hidup yang saling peduli. Kita memberikan perhatian khusus bagi saudara-saudari yang berkekurangan baik material maupun spiritual. Kita belajar kembali untuk saling menyapa, saling menerima, saling memajukan serta saling memperkuat persekutuan gerejawi kita untuk berbuat baik. Rasul Paulus berkata: “Dan Ia, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Allah, Bapa kita, yang dalam kasih karunia-Nya telah mengasihi kita dan yang telah menganugerahkan penghiburan abadi dan pengharapan baik kepada kita, kiranya menghibur dan menguatkan hatimu dalam pekerjaan dan perkataan yang baik.” (2Tes 2:16-17).
 
Saudara-saudari terkasih,
Menurut kebiasaan yang baik, kita mendapat bantuan pencerahan melalui tema Aksi Puasa Pembangunan. Tahun 2018 tema APP adalah “Membangun solidaritas sosial demi keutuhan ciptaan”. Kita memusatkan pikiran dan perenungan atas ajakan APP guna meningkatkan ketaatan iman dalam hubungan dengan Tuhan dan sesama kita guna memelihara “keutuhan ciptaan”. Kita bergerak lagi untuk menekuni panggilan ekologis, yaitu perutusan untuk menghadirkan keselarasan lingkar hidup menurut Kehendak Sang Pencipta. Di dalam kehidupan sosial yang bercorak ekologis, kita berusaha untuk mewariskan lingkungan hidup yang seimbang dan setimpal. Kita tidak menguras habis sumber daya bagi keperluan kebersamaan hidup. Kita memperkuat keberpihakan yang berkelanjutan bagi semua, khususnya bagi angkatan yang mendatang, dengan semangat solidaritas yang berkelanjutan. Dengan demikian lingkungan hidup ini bermanfaat bagi kita sekarang dan mereka yang datang setelah kita. Kita melapangkan kegembiraan Injil yang berkelanjutan dalam persekutuan gerejawi kita. Kita berjuang untuk menjadi persekutuan yang bermurah hati terhadap keutuhan hidup ekologis bersesama dengan cintakasih yang berkelanjutan.
 
Saudara-saudari terkasih,
Di tengah perkembangan masyarakat yang semakin memusatkan pada kepentingan diri sendiri, persekutuan gerejawi kita berani belajar mengutamakan kepentingan sesama. Peduli satu sama lain hendaknya menjadi harapan dalam menjalani masa puasa. Hati kita digerakkan kembali untuk bersikap baik terhadap kepentingan sesama. Kita menghadirkan wawasan hidup yang terbuka dan menyambut sesama dengan penuh syukur. Oleh karenanya, kita merenungkan kebersamaan hidup yang merukunkan dalam rangkulan bersesama. Kita berani keluar dari kawasan nyaman diri sendiri dan menyadari anugerah panggilan persaudaraan dengan siapa saja seperti umat perdana: “Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” (Kis 4:34-35).
 
Saudara-saudari terkasih,
Masa puasa semestinya dipandang sebagai waktu yang mendobrak. Kita siap sedia untuk mengadakan perubahan gaya hidup. Perubahan hidup yang mengarus-utamakan komunikasi manusiawi yang bercorak Ilahi. Kita belajar kembali bagaimana persekutuan Ilahi menjadi teladan bagi kita untuk menjalani kerukunan hidup di dunia kita. Di dalam perbedaan, kita menyumbang sikap dan tindakan bersekutu demi keutuhan lingkungan hidup bersama. Perbedaan itu, termasuk perbedaan pilihan politik, menjadi tanda nyata kekayaan bersama yang memberikan kesempatan untuk berdialog sebagai saudara-saudari dalam peradaban kasih. Dengan demikian, masa puasa menjadi “masa liturgis yang menggelitik” dalam perjalanan kita sebagai murid-murid Kristus, karena “syukur kepada Allah yang telah memberikan kemenangan kepada kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (1Kor 15:57-58). Kita mengutamakan kerukunan hidup, baik dalam keluarga, paroki, pekerjaan maupun masyarakat, sebagai anugerah Tuhan dalam perjalanan hidup di dalam lingkungan tercipta bersama.
 
Saudara-saudari terkasih,
Dengan menyadari bahwa keyakinan Kristiani kita berada dalam gejolak perkembangan keduniawian, kita berjumpa kembali dengan perutusan untuk menumbuhkan keugaharian. Kita mengamalkan sikap pantang dan tindakan berpuasa. Kita membangun kembali sikap kehati-hatian terhadap rangsangan duniawi, agar iman Kristiani kita semakin cerdas dalam melakukan pilihan hidup secara bijak dan bertanggungjawab. Kita tidak perlu terlena oleh gaya kemegahan konsumeristik yang sering menjerumuskan kita ke dalam kebingungan, kekurangan serta kerisauan. Kita bangun kembali pengharapan Kristiani dalam cintakasih: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan seiman.” (Gal 6:9-10). Kita berani menghayati hidup ini menurut prinsip-prinsip Kristiani, yaitu kebenaran, kebaikan, keadilan dan perdamaian guna memajukan lingkungan hidup tercipta. Inilah solidaritas sosial Kristiani guna melindungi keutuhan ciptaan dengan berlaku tanpa kekerasan, tanpa diskriminasi dan tanpa korupsi.
 
Selamat menjalani dan menunaikan masa liturgis puasa!
 
Kupang, 1 Pebruari 2018
 
Salve in Christo,
Mgr.PetrusTurang                                                                                             
Uskup Agung Kupang

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Santo Ignasius dari Antiokia,

Ignasius adalah murid Santo Yohanes, Rasul dan Penulis Injil. Bagi Yohanes, Ignasius adalah murid yang mengesankan: ia pandai, saleh dan bijaksana. Oleh karena itu ia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokia.

Renungan Harian

Tetaplah Berbuat Baik

Rabu, 17 Oktober 2018
Pw S. Ignasius dr Antiokhia, UskMrt (M).
BcE Gal. 5:18-25;
Mzm. 1:1-2,3,4,6;
Luk. 11:42-46; atau dr RUybs.
BcO Sir. 15:11-20.

Tentulah kita pernah mendengar pepatah yang mengatakan apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai.