Paroki St. Yoseph - Naikoten

Nama : Paroki St.Yoseph Naikoten

Tahun berdiri : 19 Maret 1968

Jumlah Umat : 7.000-an jiwa.

Jumlah KK : 1.824  KK

Jumlah Wilayah : 19 Wilayah

Jumlah KUB : 76 KUB

Jumlah Stasi : 2 Stasi/Kapela.

Jumlah Kongregasi : 2 Biara (PRR dan CSV)

Pastor Paroki pertama : P.Herman Kaiser, SVD

Pastor Paroki sekarang : P.Sebast.Wadjang,SVD

Alamat : Jl. E.R.Herewila No.31, Naikoten II - Kupang.

Telp : 0380-821081

 

SEJARAH SINGKAT

 

Paroki St. Yoseph Naikoten merupakan pengembangan dari Paroki Katedral Kristus RajaKupang. Sebelum terbentuknya paroki Naikoten secara definitif, umat biasanya mengikuti perayaan Ekaristi di beberapa rumah penduduk secara bergiliran. Umat yang berdomisili di Tingkat I dan Airnona misalnya, bergantian menyediakan rumahnya menjadi Altar. Beberapa di antaranya yang patut disebut yakni bapak Frans Lega, bapak Lamber Kape, dan Baba Theresia.

Pada tahun 1967, Biara SSpS mendirikan gedung Taman Kanak-Kanak di depan Polda NTT(sekarang marga PMKRI). Setelah gedung ini selesai dibangun, P.Yohanes Verschuren,SVD, P.Nelissen, SVD dan P.Ande Matutina,SVD bergantian menggunakannya sebagai Kapela. Dengan demikian, pada hari Minggu, umat dari Tingkat I, Airnona dan Oetona merayakan Ekaristi di Kapela baru ini. Jumlah umat pada waktu itu sekitar 200-an orang.

Pada tanggal 19 Maret 1968, bertepatan dengan pesta St.Yoseph, Stasi Naikoten ditetapkan sebagai Paroki dengan pastor paroki pertama adalah P.Herman Kaiser,SVD.  Momen bersejarah inipun terjadi kurang lebih tujuh bulan setelah Mgr.Gregorius Monteiro,SVD ditahbiskan menjadi Uskup pada tanggal 15 Agustus 1967.

Pada tahun 1970, dimulailah pembangunan gedung gereja St.Yoseph di lokasinya yang sekarang, Jl.Herewila no.31 Naikoten II Kupang. P.Herman Kaiser,SVD mempercayakan pembangunan gereja ini kepada panitia, dengan ketuanya bapak Yan Kiapoli (alm) dan Ketua DPP bapak Ir.Sabinus Kantus (alm.)Peletakan batu pertama dilakukan oleh Gubernur NTT saat itu, yakni bapak El Tari.

Di bidang pendidikan, pada tahun 1969, berdirilah TKK,SDK,dan SMPK St.Yoseph. Pembangunan gedung-gedung sekolah ini dipercayakan kepada Br.Beatus,SVD. Ada juga beberapa Bruder yang pernah berkarya di Paroki Naikoten dan terlibat penuh dalam karya pembangunan, seperti Br.Benyamin Naben,SVD, Br.Albert Erasimy, SVD, dan Br. Agus,SVD.

Pada tahun 1975, Suster PRR mulai berkarya di Paroki Naikoten, dengan pimpinan pertamanya adalah Sr.M.Humiliata,PRR. Mereka terlibat penuh dalam pendampingan kelompok-kelompok kategorial seperti Legio Maria, Katekese, kunjungan keluarga, dsb. Pada tahun 2005, muncul lagi satu Konggregasi yang berkarya di Paroki Naikoten, yakni Konggregasi CSV atau sering disebut Sr. Wajah Kudus. Mereka juga terlibat aktif dalam karya pembinaan kategorial seperti,  Legio Maria, Sekami, kunjungan orang sakit, katekese umat, dsb.

Di bidang pembangunan, nama P.Blasius Fernandes, SVD patut dikenang. Dialah yang membangun Aula Paroki Naikoten. Dan  untuk mengenang jasanya, Aula diberi nama Aula Blasius.

Pada tahun 1999, dimulailah pembangunan Menara Gereja dengan tiga candi. Pembangunan Menara ini digagas oleh P.Yulius Bere, SVD, dan baru selesai secara tuntas pada tahun 2004, ketika Rm.Dominikus Faot,Pr menjadi Pastor Paroki Naikoten. Menurut P.Yulius Bere,SVD, tiga Menara adalah lambang tiga kebajikan Kristiani, yakni Iman, Harap dan Kasih, yang mengabdi kepada Tritunggal Mahakudus.

Pada tahun 2011, Rumah Pastoran yang mulai pembangunannya sejak tahun 2008,  selesai dibangun dan diresmikan pemakaiannya oleh Uskup Agung Kupang pada tanggal 11 Desember 2011. Dengan demikian, sejak awal Januari 2012, para Imam sudah menempati rumah Pastoran yang baru. Sedangkan rumah Pastoran yang lama, digusur rata tanah, sehingga halaman gereja menjadi lebih luas. 

 

Para Imam yang pernah menjadi pastor paroki di Paroki Naikoten:

  1. P.Herman Kaiser,SVD (1968 – 1980)
  2. Rm.Daniel Afoan,Pr (1980 – 1984).
  3. P.Johanes Pfeffer,SVD (1985 – 1986)
  4. P.Stef Mite,SVD (1987 – 1988)
  5. Rm.Ande D.Kabelen (1988 – 1989)
  6. P.Blasius Fernandes,SVD (1989 – 1997)
  7. Rm.Arnold Bria (1997 – 1998)
  8. P.Yulius Bere,SVD (1998 – 2002)
  9. Rm.Dominikus Faot,Pr (2003 – 2008)
  10. P.Sebast.Wadjang,SVD (2008 – sekarang)

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Jalan Menuju Pertobatan Itu Selalu Terbuka

Selasa, 21 Nopember 2017, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10
BcO Dan 2:1,25-47

Salah satu ceritera Kitab Suci yang sudah begitu akrab di telinga kita, adalah kisah tentang Zakheus, si Pemungut cukai. Di hadapan orang-orang Yahudi, para pemungut cukai termasuk dalam golongan yang dikatakan sebagai orang-orang berdosa.