Paroki st. Fransisikus Asisi - BTN Kolhua

Nama                                 : Paroki St.Fransiskus dari Assisi
Peletakan batu pertama     : 24 Juni 1994
Jumlah Umat                      : 2.179  jiwa.
Jumlah KK                         : 508  KK
Jumlah Wilayah                  : 7Wilayah
Jumlah KUB                      : 17KUB
Jumlah Stasi                       : 5Stasi/Kapela.
Pastor Paroki pertama        : RD. Simon Tamelab, Pr
 
Dari Wilayah VI Paroki St. Familia Sikumana Menjadi  Paroki St. Fransiskus Dari Assisi Kolhua
Pada tanggal 4 Oktober 2014, Uskup Agung Kupang mentahbiskan gendung gereja St. Fransiskus dari Assisi Kolhua. Pada acara sambutan resmi setelah perayaan Ekaristi, Mgr. Petrus Turang,Pr., menyampaikan bahwa pada tanggal 1 Januari bertepatan dengan Hari Perdamaian Dunia, Stasi St. Fransiskus  Assisi akan diresmikan  menjadi sebuah paroki baru di Keuskupan Agung Kupang.
 
Dua hari sebelumnya, yaitu tanggal 2 Oktober, umat Stasi St. Fransiskus melaksanakan kegiatan ritual ‘pendinginan bangunan’ dengan Natoni dan tuturan ritual penyembelihan hewan kurban oleh bapak Abraham dari Kuaputu, dan dilanjutkan dengan acara symposium (Yunani = drinking party; Bajawa = nalo). Simposium ini berbicang-bincang tentang sejarah Gereja Stasi St. Fransiskus Assisi dan makna syalom (Ibrani: damai sejahtera) sebagai fundasi spiritualitas dan moralitas dari pertumbuhan komunitas Gereja ini.
 
Dari sketsa sejarah yang diperbincangkan itu, jelas ditegaskan bahwa cikal bakal Gereja sebagai Tubuh Kristus dan Umat Allah di tempat ini adalah berawal dari Wilayah VI paroki St. Familia Sikumana, yang didiami oleh umat yang berdiam di perumahan BTN Kolhua. Umat yang pertama tinggal di sini adalah umat KUB St. Fransiskus Asisi. Ketua KUB yang pertama adalah bapa Benediktus Labre. Mereka tinggal di Blok A, B, C, D sejak tahun 1987. Selanjutnya pada tahun 1988 tinggal pula umat di Blok H, I, J, K.  Umat di Blok ini membentuk KUB St. Clara. St. Clara adalah sahabat dari St. Fransiskus dari Asisi.  Dua KUB ini menjadi  wilayah VI dari paroki St. Familia dengan Ketua Wilayah yang pertama adalah bapak Faransiskus Xaverius Fernandez. Pastor Paroki St. Familia Sikumana ketika itu adalah Rm. Andreas Kabelen, Pr.
 
Pada tanggal 24 Juni 1994,  Pastor Paroki Rm. Andreas Kabelen, Pr, bersama umat wilayah VI, yang ketika itu jumlahnya sudah bertambah dengan    umat KUB  St. Maria Renha Rosari, yang berdiam pada Blok M, N, O, P; melakukan peletakan batu pertama untuk membangun sebuah kapela. Jumlah umat pada saat itu adalah 190 kepala keluarga. Ketua Panitia Pembangunan Kapela ini adalah bapak Eddy Lamanepa dari KUB St. Fransiskus Asisi. Dana awal pembangunan Kapela ini berjumlah Rp.5.765.000.
 
Pada tanggal 11 Oktober 1998 Kapela ini ditahbiskan oleh Mgr. Petrus Turang, Pr dengan nama Kapela St. Fransiskus Asisi – Kolhua. Berbarengan dengan itu, umat Wilayah VI ini berubah status menjadi Stasi St. Fransiskus Assisi. Pastor Paroki pada saat itu adalah almarhum Rm. Dominikus Faot, Pr. Ketua Stasi pertamanya adalah bapak Peter Rambung Manggut. Koster yang melayani kegiatan liturgi pada kapela ini adalah almarhum bapa Nikolaus Naratobi dan almarhum bapak Siprianus Johanes Odjan.
 
Dengan dukungan dari Pastor Paroki St. Familia, yang ketika itu dilayani oleh Pater Dagobertus Sota Ringgi, SVD, maka pada rapat Dewan Pastoral Stasi tanggal 24 Februari 2002 diputuskan untuk membangun gereja yang baru. Rapat juga memutuskan bapak Philipus Bara sebagai Ketua Panitia Pembangunan Gereja St. Fransiskus Assisi. Pada tanggal 5 Oktober 2002, bersama pastor paroki, bapak Peter R. Manggut, Philipus Bara, Benediktus Labre, dan Isyak Nuka menghadap YM Uskup Agung Kupang. Mgr. Petrus Turang, Pr menyetujui proposal pembangunan gereja baru dan seperti yang dikisahkan dan  juga ditulis oleh bapa Peter R. Manggut,  bapa Uskup sempat mengungkapkan harapannya dengan pernyataan berikut. “Semoga dari bukit Assisi, Kolhua, mengalir sungai perdamaian ke seluruh penjuru kota Kupang.” Harapan yang dilontarkan ini kiranya menjadi sebuah performasi doa umat dan berkenan menjadi spiritualitas dan moralitas umat Paroki St. Fransikus dari Assisi.
 
Proses pembangunan gedung gereja mengalami dinamika yang unik. Panitia pembangunan pertama berhasil menyelesaikan fundasi, tiang, dan lantai bawah. Kemudian diteruskan oleh Ketua Seksi Pembangunan Stasi, yaitu bapak Albinus Gan, dkk., sampai pada pemasangan atap. Dan setelah ada Pastor Stasi, yaitu Rm. Simon Tamelab, Pr. yang diangkat tanggal 3 Maret 2012, maka kegiatan pembangunan fisik gedung ini menjadi lebih lancar dengan tetap didampingi arsitek dari Fakultas Teknik Unwira, yaitu bapak Donatus Arakian dan bapak Herman Hl. Harmans.   
 
Selanjutnya, untuk mempercepat kelancaran pembangunan gedungnya maka Rm. Agustinus Parera, Pr selaku Pastor Paroki St. Familia mengangkat bapak Damyan Godho untuk menjadi ketua panitia percepatan pembangunan. Bersama bapak Albinus Gan, bapak Hendrik Rani, bapak Fransiskus Piri Niron,  dkk yang tak dapat saya tuliskan satu-persatu di sini,  akhirnya bagian dalam dari gedung gereja ini selesai dan pantas ditahbiskan pada 4 Oktober 2014. Ketua panitia pentahbisannya dipercayakan pada bapak Adrianus Ceme, yang juga ketua Wilayah VI Stasi.
 
Sampai pada akhir tahun 2014 Stasi St. Fransiskus dari Assisi telah didiami oleh umat dari  17  KUB  dan 7 Wilayah. Ketua pelaksana Dewan Stasinya adalah bapak Vincetsius S. Medi Sera.(Oleh: Watu Yohanes Vianey)

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.