Paroki ARYOS - Niki-Niki

Gereja Paroki ARYOS Niki-Niki

Pada zaman sesudah kemerdekaan, seluruh daratan Timor terkumpul dalam satu keuskupan yang pusatnya di Atambua. Jauh sebelumnya berdatangan para imigran Thionghoa yang datang ke Timor untuk berdagang. Mereka berbaur dengan masyarakat setempat bahkan terjadi kawin-mawin dengan para raja di Timor yang sudah dipermandikan menjadi Katolik pada zaman kekuasaan Portugis. Inilah yang mengakibatkan kebanyakan dari mereka menjadi Katolik.
 
Pada tahun 50-an seorang cina dari Atapupu bernama Yoseph Chang Fuk Tae datang ke Niki-Niki dengan kepentingan berdagang. Setelah tiba di Niki-Niki, ia kawin dengan seorang wanita keuturunan raja yakni Maria Banunaek. Mereka menjadi orang Katolik pertama di Niki-Niki. Kebanyakan mereka yang sudah Katolik berasal dari Kefa dan Belu. Pasangan ini melahirkan seorang anak perempuan bernama Anastasia Tjang (Tjang pean moe) yang menikah dengan Go Kim Low. Mereka tinggal di Soe karena suaminya berdagang di sana. Mereka memiliki anak tunggal yang namanya Yasinta go (Aci Go Po Nio). Ketika Ayahnya meninggal, mereka kembali ke Niki-Niki di rumah Kungnya (Kakeknya) tahun 1953 yang dikenal dengan nama ROSARIO. Di rumah kakekanya ini, saudari Yasinta Go mengajarkan iman katolik kepada 6 orang. Lambat laun banyak orang yang masuk katolik termasuk orang-orang Thionghoa yang berada di niki-Niki. Salah satu diantaranya Yoseph Anton Wun Pean Man dan Maria Margaretha Tjung Sim Moe.
 
Tahun 1953 juga paroki Soe terbentuk dan Niki-Niki menjadi salah satu stasinya. Dua kali seminggu pater Lecko dan Pater Kooy datang melayani sakramen. Tahun 1955 saudari Yasinta Go menikah dengan Yohanes Lay A siu. semenjak menikah ibu Yasinta Go kurang aktif lagi mengajarkan iman Katolik. Namun rumah mereka masih digunakan untuk merayakan Ekaristi. Ajaran agama dilanjutkan oleh Yoseph Anton wun Pean Man, dengan mendirikan kapela sementara. Tahun 1956 datang seorang dari Noemuti namanya Nikolaus Tfuanai. Ia diminta oleh Pater Lecko untuk mengajarkan Agama Katolik.
 
Pertumbuhan umat semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Persis pada tahun yang sama, Pater Koy ditugaskan ke Soe menggantikan Pater Vincentius Lechovic. Pada tahun 1957 atas permintaan raja Laka Louis Don Lorowik Banunaek, Raja wilayah Amanatun, ia mulai menjelajahi wilayah ini menggunakan sepedamotor atau berjalan kaki. Raja Banunaek yang waktu itu menjabat sekaligus sebagai camat di oinlasi, meminta Pater Kooy untuk membuka beberapa sekolah di daerahnya. Katanya kalau mau supaya agama Katolik berkembang, harus dibangun sekolah agar orang mengenal apa itu Agama Katolik.
 
Bersamaan dengan itu pada tahun 1959, Peraturan Pemerintah Nomor 10 memberikan kebebasan kepada orang-orang berkebangsaan China untuk kembali ke negeri asalnya. Sekolah-sekolah untuk anak-anak China pun ditutup. Salah satunya sekolah Hok Tong.Sebagian warga turunan China (Tionghoa) ada yang memilih untuk tetap tinggal di Indonesia. Mereka yang memilih untuk tinggal mendesak seorang tokoh masyarakat Tionghoa beragama Katolik, Bapak Yoseph Anton Wun Pean Man untuk segera mendirikan sekolah Katolik guna menampung siswa-siswa dari sekolah China yang ditutup. Atas restu Yang Mulia Mgr. Theodorus van den Tillaart, SVD, Uskup Dioses Atambua, maka Pater Cornelis W. Kooy, SVD, Pastor KapelanNiki-niki saat itu, dan Bapak Yoseph Anton Wun Pean Man mendirikan SD Katolik Yaswari Niki-niki III. Tepat pada tanggal 1 Agustus 1960, berdirilah SDK Yaswari Niki-niki III.Seminggu kemudian, tepatnya 8 Agustus 1960, SMP Katolik Santo Aloysius pun didirikan berkat kerja keras Bapak Yoseph Wun Pean Man dan guru muda berbakat, Sebastianus Fouk Runa. Guru Sebastianus Fouk Runa diberi mandat langsung oleh Uskup Theodorus untuk menjalankan misi pendidikan Katolik di Niki-niki.
 
Dari Soe sebagai basis kegiatan pastoral, Pater kooy menjelajahi daerah yang amat luas di TTS. Pada awal tahun 1962, Mgr. Th. Van den Tillaart mengadakan perjalanan Krisma di Soe. Uskup juga tiba di Niki-Niki dan melihat perkembangan yang ada. Maka di putuskanlah pembentukan paroki Niki-Niki. Pater kooy menjadi pastor yang pertama dan menetap di Niki-Niki.
 
Paroki baru ini memiliki wilayah pastoral yang luas yakni Oinlasi, Putain, Oeekam. Waktu tiba di Niki-Niki, Pater membeli rumah seorang Thionghoa dan menetap disitu sebagai pastoran pertama. Sementara itu baru pada tahun 1968 mulai dibangun Gereja yang sekarang dan baru pada tahun 1968 umat Aryos resmi menggunakan gedung Gereja yang permanen di atas tanah yang dahulunya dibangun sekolah Thionghoa. Tanah yang diatasnya dibangun merupakan pemberian dari keluarga besar Taifa-Banamtuan. Tanah itu diberikan untuk pengembangan Gereja dan pendidikan. Termasuk tanah untuk membangun SD Yaswari III, SMPK Aloysius dan SMAK Stella Maris.  Sementara ia mendorong umat untuk membangun gereja dan pastoran yang baru.
 
Perkembangan umat secara pesat terjadi sesudah peristiwa G-30 S PKI, di mana  banyak orang kafir yang masuk dalam partai ini diwajibkan untuk memilih agama yang ada. Banyak yang masuk katolik. Perkembangan baru ini mendorong pater Kooy untuk mendirikan beberapa sekolah baru terutama di Oinlasi dan Kapela-kapela baru. Ia mewajibkan umat menghafal Katekismus berbahasa Dawan. Umat menerima sakramen tobat sebelum ekaristi. Ia tak lupa membawa obat-obatan dan merawat orang sakit. Umat katolik yang minoritas merasa semakin kuat dengan hadirnya polisi atau pegawai pemerintah yang beragama katolik.
 
Dibalik perkembangan itu, ada juga hambatan yang menghadang. Pater Kooy dan katekisnya sering mendapat lemparan batu, ban mobil dikempeskan. Semuanya itu datang silih berganti namun tak satupun menyurutkan bertambahnya umat katolik. Sejak pelayanannya di niki-niki, ia memimpin ekaristi dengan membelakangi umat. Baru pada tahun 70-an mendekati 1980, ia merayakan ekaristi dengan menghadap umat.
 
Salah satu kegembiraan bersama umat paroki Aryos yaitu persis pada tanggal 9 juli 1982, seorang Putra Paroki Niki-Niki, Vincentius Wun SVD ditahbiskan; anak dari Bpk. Yosep Anton Wun Pean Man dan ibu Margarita Tjung.
 
Perkembangan gereja di Niki-Niki semakin gemilang teristimewa dalam bidang pendidikan yakni hadirnya SMAK Stella Maris Niki-Niki pada tanggal 16 Juni 1984 dan hadirnya Susteran RVM dari Filipina untuk karya pastoral pendidikan, kesehatan dan pengembangan umat pada tahun 30 Juni 1984. Pertumbuhan panggilan secara khusus pun menjadi salah satu faktor perkembangan paroki ini. Hal ini dibuktikan dengan ditahbiskannya dua imam projo perdana pada tanggal 3 Oktober 2002. Demikian berlanjut hingga sekarang sekarang. Dari tahun ke tahun, paroki Aryos terus berkembang hingga sekarang memiliki lima stasi. Masing-masing adalah stasi Niki-Niki, Polen, Naukae, Supul dan Stasi Oetfo. Umat semakin bertambah dalam jumlah dan semakin berkembang dalam iman Katolik.

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Jalan Menuju Pertobatan Itu Selalu Terbuka

Selasa, 21 Nopember 2017, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10
BcO Dan 2:1,25-47

Salah satu ceritera Kitab Suci yang sudah begitu akrab di telinga kita, adalah kisah tentang Zakheus, si Pemungut cukai. Di hadapan orang-orang Yahudi, para pemungut cukai termasuk dalam golongan yang dikatakan sebagai orang-orang berdosa.