Panggilan serta Perutusan Pastoral KAK 2015

Pengantar
Pada Tahun 2014, Keuskupan kita telah menjalani Tahun Injil Orang Miskin. Persekutuan gerejawi setempat telah mengalami panggilan serta perutusan”Injil Orang Miskin” sebagai wujud perjumpaan dengan Tuhan dan sesama,khususnya mereka yang berkekurangan. Sejatinya, persekutuan gerejawi setempat sudah menumbuhkan kembali hati nurani “kegirangan Injil” dalam pergumulan hidup ini.
Pada bagian akhir tahun 2014, Gereja Katolik Universal serta Konferensi Waligereja Indonesia telah mengajak serta memusatkan perhatian pastoral pada persoalan hidup keluarga. Bahkan, pada pesan Natal 2014, PGI-KWI telah mengangkat tema “Berjumpa dengan Tuhan dalam keluarga”.
Tahun 2015 juga sudah ditetapkan oleh Sri Paus Fransiskus sebagai Tahun Hidup Bakti.  Gereja bersyukur atas kehadiran Hidup Bakti yang buktinya telah melayani perkembangan martabat manusiawi, khususnya melalui pendidikan dan kesehatan serta pelayanan kemanusiaan lain. Gereja berdoa agar kehadiran Hidup Bakti mampu menanggapi tantangan kemanusiaan dewasa ini yang semakin canggih dan cepat berubah.
Pada galibnya, Gereja kita mudah-mudahan semakin tersedia untuk mendorong pertumbuhan hati nurani yang bangkit dan bergerak demi keseimbangan hidup material, moral dan spiritual. Gereja berkewajiban memberikan sumbangan bagi pemajuan komunikasi manusiawi yang menghargai martabat sesama, terutama mereka yang miskin, tertinggal, tertindas dan tersingkir dari pergaulan sosial.
 
Dasar Rencana Pastoral
Panggilan serta perutusan Gereja adalah mewartakan Kerajaan Allah, suatu lingkungan perjumpaan dengan Tuhan dan sesama dalam kebenaran, keadilan, kedamaian, belas kasihan dan cinta kasih. Oleh karena itu, perencanaan pastoral bersumber pada hidup doa, yaitu komunikasi dengan Tuhan, di tengah tantangan dunia yang membutuhkan keadilan dan perdamaian demi memajukan martabat manusiawi sepenuhnya dan seutuhnya menurut teladan Yesus Kristus. Perencanaan pastoral adalah proses evangelisasi yang terus menerus melahirkan kesaksian kemuridan secara baru. Ringkasnya, perencanaan pastoral adalah upaya pembentukan spiritual di mana persekutuan gerejawi setempat terhimpun untuk mewujudkan perjumpaan dengan Yesus Kristus.
 
TantanganPastoral Tahun 2015

  1. Lingkungan sosial yang berubah cepat mendorong Gereja untuk membangun budaya baru dalam pelayanan pastoral, agar kehadirannya mampu menanggapi kegembiraan serta keprihatinan hidup secara efektif, kreatif dan inovatif.
  2. Kerjasama antar para pelaku pastoral, khususnya para pemimpin dan pemuka umat, mutlak perlu demi mekarnya persaudaraan dan persahabatan: kerjasama yang benar akan membangun bentuk-bentuk kerukunan pastoral dan pada gilirannya mengembangkan kerukunan antar sesama.
  3. Perlunya pengembangan pengetahuan serta teknologi perencanaan pastoral yang merangkul seluruh keprihatinan hidup persekutuan gerejawi setempat, khususnya dalam katekese dan liturgi. Komitmen pastoral yang tertib dan melibatkan seluruh umat mengisyaratkan suatu solidaritas pastoral yang jujur, agar Kegirangan Injil semakin menjadi kebanggaan dalam pelayanan pastoral.
  4. Para  imam memiliki kewajiban pastoral untuk belajar terus menerus, agar mereka mampu membaca tanda-tanda perkembangan sosial secara kreatif demi pembangunan persaudaraan dalam persekutuan gerejawi setempat. Syarat utama adalah kerjasama pastoral bersaudara di antara para imam sendiri.
  5. Perubahan iklim pasti berpengaruh dalam pelayanan pastoral, khususnya di daerah perdesaan di mana bagian terbesar umat menjalani hidup dan penghidupan melalui usaha pertanian. Kecakapan pastoral setempat mendaku bahwa para pemimpin umat setempat mendorong upaya-upaya pemberdayaan lingkungan hidup, agar karya ciptaan Tuhan terpelihara dan berkembang demi kesejahteraan bersama.
  6. Lapangan kerja tetap menjadi persoalan mendasar bagi manusia. Dengan bekerja, manusia membangun hidupnya dan sesama dalam kesehatan dan ketercukupan. Kejahatan sosial dalam “perdagangan manusia” harus lenyap dalam persekutuan gerejawi setempat, agar sesama sungguh menjadi saudara dan saudari kita. Pekerjaan yang layak dan cukup tersedia membangun harga diri martabat manusiawi dan pada gilirannya mendorong tumbuhnya persaudaraan.
  7. Pendidikan pembangunan martabat manusiawi, khususnya di kalangan generasi muda, harus memusatkan perhatian pada nilai-nilai kemanusiaan guna membangun kepercayaan diri dan kesaling-percayaan antar sesama. Dengan demikian, hati nurani berkembang dalam kebijaksanaan guna membangun peradaban kasih.

 
Gerakan Rencana Pastoral

  1. Perhatian pada perkembangan hidup anak-anak dalam persekutuan gerejawi setempat, seperti SEKAMI, agar sejak usia dini anak-anak belajar menjadi sesama dengan karakter bersaudara.
  2. Perhatian pada perkembangan pemahaman akan Hidup Bakti di kalangan persekutuan gerejawi setempat, agar keterlibatan di dalam HIdup Bakti membangun sikap dasar misioner Gereja setempat.
  3. Perhatian pada gerakan Aksi Puasa Pembangunan dengan tema “Hidup sehat dan berkecukupan”, khususnya dalam menumbuhkan nurani peduli sesama  dalam keadilan dan perdamaian.
  4. Perhatian pada perkembangan lingkungan hidup dengan membangun sikap suka menanam dan memelihara lingkungan hidup yang sehat berdasarkan eko-sistem organik. Kenyataan ini akan mendukung harapan manusia untuk dapat hidup sehat dan berkecukupan secara material, moral dan spiritual.
  5. Perhatian pada pastoral keluarga guna mendorong kerukunan hidup dan keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan hidup, tanpa terperangkap dalam mentalitas konsumeristik yang berlebihan. Dengan cara demikian,kita menghambat korupsi dalam keluarga, seraya menghormati serta memajukan keragaman khususnya dalam keluarga-keluarga muda.
  6. Perhatian pada pemberdayaan sesama warga yang berkekurangan dalam hidup dan penghidupan,agar komunikasi sosial dapat terjalin dalam keadilan dan perdamaian, seraya mempertimbangan kerjasama yang baik dengan program pembangunan masyarakat setempat.
  7. Perhatian pada pemberdayan Dewan Pastoral Paroki atau Stasi, agar kehadirannya semakin mampu membangun gerakan persaudaraan serta persahabatan dalam persekutuan gerejawi setempat. Mereka wajib berkomitmen untuk berbagi karunia yang dianugerahkan demi kebaikan bersama sebagai tanda “kegirangan Injil” dalam persekutuan gerejawi setempat.
  8. Perhatian pada pemberdayaan koordinasi pastoral se-keuskupan, agar kehadirannya menjadi berkat yang mendukung rencana pastoral setempat di paroki, stasi, kapela dan KUB. Olehnya, koordinasi pastoral perlu mengadakan rapat atau pertemuan berkala demi menggerakkan pelayanan pastoral yang semakin efektif, kreatif, inovatif dan aktif berdasarkan semangat persaudaraan injili.
  9. Ringkasnya, gerakan rencana pastoral terpusat pada perhatian untuk
  • Menggerakkan serta melibatkan keluarga, khususnya kaum muda, dalam komitmen evangelisasi dan misioner
  • Merayakan keragaman budaya dalam memajukan pembentukan iman Kristiani yang terbuka, pun untuk hidup bakti
  • Menggunakan sumber daya yang tersedia dengan bijaksana dan rasa syukur
  • Membangun komunikasi iman yang efektif dalam menghayati kerukunan bersaudara (internal) dan kerukunan bersahabat (eksternal) dalam konteks keseimbangan hidup dan penghidupan.

 
Pendukung keutuhan rencana pastoral

  1. Displin serta  ketekunan dalam mengatur harta benda persekutuan gerejawi setempat, sesuai dengan peruntukkannya dalam kejujuran dan keseimbangan.
  2. Formasi para pelaku pastoral secara berkesinambungan, agar kerelaan serta kemurahan hati semakin teguh dan selalu diperkuat dalam semangat bersaudara.
  3. Sarana dan prasarana pastoral setempat dipelihara dengan baik guna mendukung pelayanan pastoral yang ditetapkan dalam rencana pastoral setempat.
  4. Tanggungjawab karya pastoral dilaksanakan dengan tupoksi yang jelas, agar kerjasama bersaudara yang melibatkan semakin nyata dan menghasilkan buah-buah hidup iman yang memerdekakan dan menyelamatkan.
  5. Wewenang pastoral adalah pelayanan yang ikhlas demi kepentingan seluruh persekutuan gerejawi setempat, seraya memelihara hidup sehat yang seimbang dan bermartabat pastoral.

 
Penutup
Kehadiran pelayanan pastoral adalah anugerah dan kegembiraan persekutuan gerejawi kita. Kita selalu memasrahkan tanggungjawab pastoral pada penyelenggaraan ilahi, agar kita mampu memberikan pelayanan dengan rendah hati dan penuh rasa syukur. Komimen pelayanan pastoral kita berfaedah, jika kita mampu menggerakkan persaudaraan yang melibatkan seluruh persekutuan gerejawi setempat. Mudah-mudahan hembusan Roh Kudus dan perlindungan Perawan Maria senantiasa menjadi inspirasi kita terdalam dalam menjalani perutusan karya pastoral. Tuhan Yesus Kristus, Kepala dan Pemimpin karya pastoral Gereja, pasti menyertai peduli dan keprihatinan pastoral kita dalam konteks lingkungan hidup bersaudara. Sebagaimana Yesus Kristus datang untuk melayani kita, maka marilah kita mohon rahmat, agar wujud “pelayan satu sama lain” menjadi  jiwa pastoral bersama.
 
Catatan pinggir:
Paroki kita adalah rumah spiritual di mana kita berjumpa satu sama lain untuk menghayati, mengalami dan merasakan bersama kehadiran Yesus Kristus; di mana kita mengungkap- kan sikap saling menerima dalam keramah-tamahan Kristiani; di mana kita melibatkan diri secara aktif dalam pelayanan sesama,khususnya perhatian akan kehidupan keluarga, agar membina budaya panggilan untuk pewartaan Injil; di mana kita bangkit dan bergerak bersama untuk peduli akan kesejahteraan bersama dalam dunia kita; di mana kita belajar untuk menjadi pintu gerbang iman bagi sesama yang papa material, moral dan spiritual; di mana kita berbagi sukacita iman melalui kesaksian hidup; di mana kita memelihara lingkungan hidup dengan bijaksana.
 
Kupang, 3  Januari  2015
 
Mgr.Petrus Turang

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.