Orang Muda Katolik Membangun Hati Yang Murni

Ribuan Orang Muda Katolik (OMK) Keuskupan Agung Kupang (KAK) hadiri Perayaan Ekaristi Hari Orang Muda Sedunia ke-30, tingkat Keuskupan, tanggal 29 Maret 2015 di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, Kupang. Perayaan itu mengambil tema: "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8). Tema itu merujuk pada pesan Paus Fransiskus yang disampaikan untuk Orang Muda Sedunia sebagai  lanjutan peziarahan rohani menuju Krakow-Polandia, di mana pada bulan Juli 2016 nanti, Perayaam Hari Orang Muda Sedunia secara internasional akan diadakan.
 
Perayaan yang dipadukan dengan Liturgi Minggu Palma, diawali dengan pemberkatan daun palma di aula terbuka dalam Taman Ziarah itu. Minggu Palma, suatu perayaan liturgis saat mengenang kembali Kristus yang dalam ketaatanNya kepada Bapa di surga, Dia memberikan teladan bagi umatNya untuk selalu mencari apa itu kehendak Allah.
 
Dalam amanah pembukanya, Mgr. Petrus Turang yang memimpin perayaan itu mengajak OMK KAK bersyukur kepada Tuhan atas masa muda yang Tuhan kurniakan,” Kita berhimpun di sini untuk bersyukur kepada  Tuhan karena kita mendapat saat untuk menjadi orang muda. Saat untuk menjadi orang mudah adalah saat yang istimewa, itu tidak akan kembali kedua kali. Satu kali saja.”  Karena itu uskup mengajak Orang Muda Katolik untuk memanfaatkan masa muda dengan baik. “Masa muda diberikan Tuhan kepada kita dan kita manfaatkan demikian rupa untuk membangun hati kita, hati yang murni.”  
 
Usai pemberkatan daun palma, semua yang hadir, sambil menyanyikan lagu “Hosana putera Daud....” dengan daun palma di tangan, berarak menuju kapela St. Yohanes Paulus II di puncak bukit taman ziarah itu, tempat perayaan ekaristi akan berlangsung.
 
Berikut ini, saduran (dari rekaman audio) Pesan Uskup untuk OMK KAK yang disampaikan sesaat sebelum perayaan ekaristi berakhir.
 
"Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah" (Mat 5:8).
 
Hari ini Minggu Palma dan bertepatan dengan Perayaan Hari Kaum  Mudah Sedunia dalam Gereja Katolik universal. Kedua peristiwa ini terpadu dalam satu gerak keremajaan persekutuan Gerejawi kita. Keremajaan ini adalah bentuk suatu perjalanan bersama menuju suatu lingkungan hidup yang penuh sukacita, bahagia dan berpengharapan.
 
Mengapa sukcaita dan bahagia?
Karena kedua peristiwa ini mengungkapkan suatu perjalanan menuju  puncak kemenangan, kemenangan atas dosa manusia. Minggu Palma mengungkapakan kemenangan Yesus yang taat sampai wafat di kayu salib sedangkan Hari Kaum Muda sedunia membuka kemungkinan untuk menemukan kemurnia hati.
 
Mengapa pengharapan?
Karena kedua peristiwa iman ini membuka suatu masa depan yang memberikan dasar iman bagi gerakkan persekutuan gerejawi yang sering berada dalam kegelapan sehingga kurang mampu bahkan tidak berani menghadap masa depan. Kedua peristiwa ini memberikan kepastian hidup,  percaya seutuhnya kepada Yesus Kristus yang sudah menang atas masa depan.
 
Dengan merayakan Minggu Palma kita dengan segenap hati masuk kembali bersatu dengan bentuk perwujudan kehendak Allah didunia ini. Ketaatan Yesus memperlihatkan suatu teladan yang memberikan kepastian bahwa kebaikan BapaNya lebih kuat dari kejahatan yang ada dalam dunia.  Memang pengaruh dunia yang sangat melekat pada keduniawian, mendapat suatu ‘cetak biru’ yang baru, di mana setiap orang percaya mampu  menggariskan perjalanan hidup imannya. ‘Cetak biru’ ini adalah tanda dari kerahiman Allah bagi manusia khususnya bagi kaum muda yang dalam upaya mencapai masa depan sering menghadapi pelbagai sentuhan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.
 
Kita sering hanya ingin tinggal dalam suasana Hosana tanpa menyadari bahwa hosana adalah jalan menuju suatu keadaan yang meminta pengorbanan. Dengan menilik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern khususnya teknologi komunikasi nampaknya kita sering terperangkap pada gegap gempitanya, hiruk-pikuknya media sosial sehingga kita melupakan makna keheningan dalam perjalanan hidup kita, keheningan yang menguatkan hubungan manusia bukan hanya facebook tetapiface to face. Semua ilmu pengetahuan membuka kemungkinan supaya hubungan manusia jauh lebih baik.
 
Dalam keheningan Yesus menemukan kemurnian hati menurut kehendak BapaNya. Yesus belajar menjadi taat seutuhnya sampai mati. Hari Kaum Mudah 2015 mengambil tema: “Berbahagialah orang yang murni hatinya  karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8). Tema yang diusulkan Sri Paus mudah-mudahan mengajak Kaum Mudah Katolik belajar membangun kharakter dirinya sebagai murid Kristus dan mengalami kerahiman Tuhan dalam perjalanan hidup ini.
 
Kepada umat di Roma, Rasul Paulus berpesan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Rom 12:1-2).
 
Kesempurnaan jiwa raga dalam menjadi murid Kristus menjadikan kita garam dunia dan dengan demikian kita semakin mampu memandang Allah dalam perjalanan hidup ini. Garam biar sedikit membuat makanan jadi enak. Maka Orang Mudah Katolik hendaknya belajar  untuk menemukan cara bagaimana menjadi garam dalam pergaulan hidup kita.
 
Memandang Allah memang tidak mudah bagi kita Orang Mudah Katolik tetapi bila kita dengan segenap jiwa raga bergerak menjadi garam dunia maka kita akan mengalaminya dengan sukacita dan penuh syukur. Perjalanan hidup kita akan mengalami suatu bentuk gaya hidup yang tidak bercorak sesaat tetapi berkelanjutan secara manusiawi di dunia ini yang sering tidak membangun persahabatan akhibat individualisme, konsumerisme bahkan karena keserakahan.
 
Anugerah hidup yang kalian sedang geluti adalah bagian utuh dari kehendak Allah. Allah menginginkan lahirnya persahabatan yang mendukung pembentukan hati nurani. Oleh karena itu upaya untuk membangun kemurnian hati pertama-tama terletak pada lubuk hati yang adalah kediaman Roh Kudus. Roh kuduslah yang bergiat dalam hati kita untuk bergerak menuju pembentukan hati yang murni sehingga kita mampu memandang Allah dalam perjalanan hidup ini terutama dalam diri sesama kita. Dengan peduli benar akan sesama, kita membuat jejaring garam kemurnian hati dan pada gilirannya kita saling memandang Allah dalam perjalanan hidup bersama.
 
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
 
Pertama-tama kita berdoa dengan benar, berbicara dengan Tuhan, kita membaca Kitab Suci, mohon keteguhan hati dalam membuka dan membangun sukacita dari kemurnian hati kita. Dengan berdoa kita mampu memandang Tuhan dalam hidup ini dan kekuatan doa membuat kita berdaya untuk berbagi hidup dengan sesama secara benar dan adil. Kalau kita sekarang ini berjuang untuk hal-hal yang tata kelolanya baik dan bersih kita harus belajar masing-masing lebih dahulu.
 
Santo Paulus kepada umat di Efesus berkata: “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (2:8-9).
 
Paus dalam Pesan Puasanya mengajak kita untuk teguhkanlah hatimu. Keteguhan hati akan Kristus mendorong kita untuk hidup dalam sukacita Injil. Dengan membangun keteguhan hati selama masa puasa kita menemukan rahmat kebaikan Allah. Kebaikan Allah itu menggerakkan kita untuk menjadi taat kepadaNya dan pada waktunya membuat kita berani untuk menghayati kemurnian hati. Kemurnian hati yang teguh membuka kesempatan luas untuk menemukan kehadiran Allah dalam perjalanan hidup kita. Kita mengalami lingkungan hidup anak-anak Allah yang bebas dari kekerasan, diskriminasi dan bersih dari korupsi.  Kemurnian hati yang teguh membuat kita berani dan tidak takut akan penilaian duniawi. Kita bergerak sebagai himpunan orang mudah yang ditarik dan dimampukan oleh Kristus untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik. Dengan cara demikian kita membangun peradaban kasih dalam dunia kita. Hasilnya adalah persaudaraan dan persahabatan khususnya dalam keluarga kita masing-masing. Inilah lingkungan pembelajaran menjadi murid-murid Kristus yang baik dan benar. Mudah-mudahan masa puasa yang sudah kita jalani menjadi waktu rahmat bagi kita untuk menekuni pola hidup sehat dan berkecukupan. Artinya kita menjadi sesama yang baik dan memiliki sikap rela berbagi dalam perjalanan bersama.
 
Kepada Titus Rasul Paulus berpesan:” Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus,yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (2:11-14).
 
Perayaan minggu Suci merupakan puncak hidup iman kita. Kita belajar ambil bagian dengan hati penuh syukur atas anugerah Tuhan. Kita bergembiara atas rahmat yang menyelamatkan yang membuat kita mampu untuk menunaikan panggilan hidup kita. Sebagai bagian utuh dari persekutuan gerejawi, kita berupaya untuk memperindah persekutuan hidup gerejawi kita. Dengan hati yang murni kita menghadirkan kebaikan Tuhan dalam pergaulan hidup kita khusunya dalam keluarga. Kita memperlihatkan betapa pembaharuan hidup iman membawa kerukunan yang hidup sehat dan berkecukupan. Melalui derma APP kita menyatakan sikap rela berbagi utamanya bagi saudara-saudari  yang berkekurangan. Dengan perbuatan kecil ini kita mendorong lahirnya persekutuan hidup yang semakin mampu menghayati kemurnian hati sebagai murid Kristus. “Berbahagialah orang yang murni hatinya karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).
 
Tiada kenyataan hidup yang lebih mulia daripada hidup memandang Allah yaitu membangun peradaban kasih karena di dalam kasih, hadirlah Tuhan sumber kemurnian hati dan kegembiraan hidup kaum mudah.  Allah adalah kasih dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia (1Yoh 4:16). Sejatinya setiap orang mendambakan kebahagiaan dalam perjalanan hidup ini. Pada dasarnya kebahagiaan tidak berasal dari keberhasilan material. Kaum mudah harus berjuang untuk menghadirkan bagi dirinya rasa bahagia yang melampaui penilaian duniawi belaka.  Sebagai orang beriman kristiani kebahagiaan kita terletak pada hubungan persahabatan kita dengan Kristus. Kebahagiaan demikian tidak mungkin diambil orang lain karena kebahagiaan ini tertanam dalam hati kita. Itulah harta rohani yang harus mendasari keterlibatan kita pada gerakkan menjadi manusia seutuhnya dalam dunia kita, di lingkungan hidup kita, utamanya dalam keluarga. Kristus sendiri menemukan kebahagiaan  dalam ketaatan pada kehendak BapaNya.  Kita juga harus menemukan kebahagiaan sejati dengan menjadi taat pada perintah Kristus, belajar menjadi muridNya yang setia. Kita membangun kerukunan hidup dengan semua orang dengan mengingkari gerakkan-gerakkan yang memecahbelah dan bercorak membahayakan kebersamaan hidup.
 
Kita tidak menjadi orang yang “isis’, yaitu “ikut sini,  ikut sana” secara oportunis tetapi dengan keteguhan hati menjadi pelaku kebenaran dan keadilan dalam perjalanan bersama lingkungan hidup setempat.
 
Kupang,  29 Maret 2015
Hari Kaum Mudah Sedunia
+ Mgr. Petrus Turang

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Santo Ignasius dari Antiokia,

Ignasius adalah murid Santo Yohanes, Rasul dan Penulis Injil. Bagi Yohanes, Ignasius adalah murid yang mengesankan: ia pandai, saleh dan bijaksana. Oleh karena itu ia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokia.

Renungan Harian

Tetaplah Berbuat Baik

Rabu, 17 Oktober 2018
Pw S. Ignasius dr Antiokhia, UskMrt (M).
BcE Gal. 5:18-25;
Mzm. 1:1-2,3,4,6;
Luk. 11:42-46; atau dr RUybs.
BcO Sir. 15:11-20.

Tentulah kita pernah mendengar pepatah yang mengatakan apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai.