OMK Kupang Kurang Pemahaman Tentang Gereja

Komsos KAK, Belo - RD. Kamilus Pantus, Sekretaris Eksekutif Komsos KWI, menyatakan Orang Muda Katolik (OMK) di Kota Kupang masih kurang pengetahuannya tentang Gereja. Hal ini disampaikan dalam Forum Dialog dan Literasi Media Sosial bagi Kaum Muda, hasil kerjasama antara Konferensi Waligereja Indonesia dengan Kementrian Komunikasi dan Informasi Publik Republik Indonesia, Sabtu (28/10), di Aula Susteran SSpS Belo, Kota Kupang. Ini adalah kesimpulan yang diambil Pastor asal Keuskupan Weetabula ini setelah terlebih dahulu melakukan survey sederhana dengan mengajukan 10 pertanyaan tentang pengetahuan umum orang-orang muda tentang Gereja, yang ia lakukan saat membawakan materi terkait komunikasi di media sosial dalam perspektif Gereja Katolik.
 
"Berbeda dengan Manado dan Malang, OMK Kupang dan Jakarta ternyata memiliki pemahaman yang minim tentang Gereja" tegas Pastor lulusan Seminari Tinggi st. Mikhael Penfui - Kupang.
 
Dari sepuluh pertanyaan yang diajukan Pastor Kamilus  kepada 101 peserta, yang adalah Orang Muda Katolik dari Keuskupan Agung Kupang dan Keuskupan Atambua ini, yang mampu menjawab dengan baik kesepuluh pertanyaan itu hanya 1 orang. Sedangkan yang tingkat pemahaman masuk dalam kualifikasi cukup baik hanya 13 orang. Sedangkan sisanya berada pada tingkat pemahaman tentang pengetahuan gereja yang masih cukup minim.
 
Maria Fatima Dete Dellu, S.KM., M.Gizi, anggota panitia Lokal kegiatan Forum Dialog dan Literasi Media Sosial bagi Kaum Muda tersebut, mengatakan bahwa masih sangat sulit pemahaman tentang Gereja bisa di dalami lebih jauh di kalangan Kaum Muda Katolik di NTT.  "Kita lihat budaya juga di NTT, yang mana masih memegang pemahaman pra Konsili Vatikan II, yang masih masif membaca sendiri Kitab Suci. Kita di sini, jangankan membaca Kitab Suci, mengetahui lebih jauh tentang pengetahuan-pengetahuan umum seputar Gereja saja selalu dibayangi ketakutan akan kemurtadan" ujar wanita yang adalah salah satu sebagai Volunteer di Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Kupang.
 
Menanggapi hal ini, salah seorang peserta asal Paroki St. Yoseph Pekerja Penfui yang menolak namanya diberitakan, mensheringkan bahwa orang muda masa kini memang seringkali kurang tertarik dengan pendalaman Kitab Suci dan ajaran Gereja. "Sulit kita jumpai di seantero Kupang, anak muda yang mau terlibat dengan diskusi seputar Gereja. Mereka lebih tertarik chat dengan teman dan menghabiskan waktu dengan gadget smartphone ketimbang mencari dan membahas tentang Gereja" tutur Wanita cantik tersebut. Karena itu, ia pun mengajak teman-teman OMK yang mengikuti kegiatan ini untuk mulai juga menggunakan media komunikasi digital yang dimiliki untuk mengetahui lebih banyak hal-hal menyangkut ajara iman Gereja, sehingga kelak bisa semakin sanggup menjadi orang muda yang sungguh-sungguh katolik. (Putra Diding)***

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Mari Membangun Dunia Baru Yang Harmonis

Selasa, 5 Desember 2017,
Filipus Rinaldi, Bartolomeus Fanti, Sabas
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24
BcO Yes 2:6-22; 4:2-6
warna liturgi Ungu

Rencana keselamatan terus menerus disampaikan Tuhan kepada umat-Nya.