Mgr. Petrus Turang: Natal, Berani Berjumpa Dengan Allah Dalam Keluarga Kita Masing-Masing.

Natal Oikumene 2014 Keuskupan Agung Kupang dan Majelis Sinode GMIT Kupang kembali digelar. Bertempat di gereja Jemaat GMIT Pniel Sikumana Kupang, perayaan itu diselenggarakan pada Kamis, 15/01, pukul 09.00 – 13.00 wita.

Pendeta Robert Litelnoni, S.Th, Ketua Majelis Sinode GMIT - dalam refleksi Natalnya mengajak segenap umat yang hadir untuk bersyukur atas perjumpaan yang dimungkinkan Allah lewat kelahiran Yesus Kristus. Natal, saat Allah datang menjumpai manusia lewat kelahiran Yesus Kristus, memberi kita sebuah jalan, memberi kita terang, supaya olehnya kita sampai kepada tujuan yg sebenarnya, tujuan yang kita rindukan bersama. Allah ingin agar manusia yg dijumpai itu terlibat dalam berita gembira Natal, terlibat dalam karya penyelamatan Allah bagi dunia. Melalui Natal, Allah memulihkan relasi kita dengan diriNya juga relasi kita dengan sesama dan alam sekitar. Pemulihan yang terjadi dalam Natal bukan hanya karena Allah mengampuni dosa kita, tetapi kemampuan yang kita peroleh supaya mampu memperbaiki relasi kita dengan sesama. Dengan merayakan natal, baiklah kita renungkan ini, bahwa Allah tidak saja bersabda tetapi turut bekerja dalam mengambil rupa sama dengan manusia untuk memungkinkan manusia mengerjakan hal-hal yang baik bagi dunia, bagi keluarga kita dan bagi sesama yang hidup dalam satu rumah ini.

Mgr. Petrus Turang, Uskup Agung Kupang - dalam suara Gembalanya juga mengajak umat yang hadir untuk bersyukur atas kehadiran Allah dalam diri Yesus Kristus. “Di tengah maraknya individualisme, keserakahan dan konsumerisme, umat kristiani mendapat sentuhan kebersahajaan penjelmaan Putera Allah menjadi manusia. Sentuhan Natal yang sekarang ini terlaksana berkat gerakkan Roh Kudus mudah-mudahan melahirkan hati nurani yang berani berjumpa dengan Allah dalam keluarga kita masing-masing” tandas Uskup Turang. Selaras dengan tema Natal: “Berjumpa dengan Allah dalam Keluarga” (bdk Im 26:12), Mgr. Petrus Turang menyampaikan lima butir, sebagai Suara Gembala: “Pertama, Keluarga hendaknya menjadi lingkungan utama di mana kita berjumpa dengan Tuhan. Artinya keluarga kita menjadi mesba yang menghadirkan perjumpaan dengan Tuhan secara aktual dan menetap; Kedua, bahwa Keluarga kita semakin menjadi bentuk kerukunan awal bagi tumbuhnya dan terciptanya kerukunan dalam masyarakat yang multikultural. Keluarga kristiani mewujudkan himpunan para murid Kristus yang terbuka dan bersahabat; Ketiga, keluarga kita menjadi tempat dan wadah di mana kita belajar membangun sikap hormat sejati dan jujur akan kerberadaan orang lain, utamanya umat beragama lain. Anggota-anggota keluarga kita mendapatkan pendidikan manusiawi secara benar agar mereka tidak dengan mudah melecehkan, mencemari serta merusak iman kepercayaan bersama dengan alasan apapun; Keempat, keluarga kristiani kita tumbuh dan berkembang sebagai lingkungan yang mengedepankan peradaban kasih dalam keadilan dan perdamaian, khususnya dalam hubungan dengan pekerjaan sehingga keluarga kristiani tidak menjadi lahan human trafficking (bc.Perdagangan Manusia); Kelima, keluarga kristiani mudah-mudahan menjadi tempat teristimewa dari anugerah kasih, yang bersumber pada perjumpaan dengan Tuhan yang selalu baik kepada suami istri dan anak-anak, pun dalam kesulitan hidup yang penuh tantangan dewasa ini akhibat arus deras individualisme, materialisme dan konsumerisme.”

Frans Leburaya, Gubernur Nusa Tenggara Timur – dalam pesan Natalnya mengajak semua yang hadir untuk terus merajut kebersamaan. “Mari kita rajut kebersamaan. Kelahiran selalu membawa sukacita, kegembiraan dan juga kebersamaan. Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hadir dengan masyarakatnya yang heterogen, namun berkat kebersamaan yang kita rajut, NTT masih aman, nyaman dan damai hingga saat ini. Maka semoga damai yang dibawa Yesus Kristus terus bersemayam di hati kita semua,” tandasnya.

Natal Oikumene 2014 ini disiapkan dan dirayakan meriah serta bermartabat berkat kerja keras Panitia yang dinahkodai Ir. Lay Djaranjoera, M.Si. Ibadah Natal Oikumene dipimpin Pendeta Leny Utomo Walunguru, S.Ag dan RD. Leonardi Manlea dan dimeriahkan koor dan paduan suara: PS Pniel Sikumana, PSM Fth UKAW Kupang, PS OMK Sancta Familia Sikumana, Koor Music PAR Nafiri Jemaat Betani Camplong, Solo Pdt. Johny Riwu Tadu, PSM Bella Cantera dan lainnya. Doa syafaat dibawakan oleh: Pdt. Victor Sumlang, M.Th,MA, Pdt. Hendrik Ndoen, S.Th dan Suster Maria Fransisca R. Yasmini, RVM.*diduslps

SELAMAT NATAL December 25, 2014 DAN TAHUN BARU January 01, 2015.

Suara Gembala

Pesan Puasa Uskup Agung Kupang Tahun 2018

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, Masa puasa atau prapaskah sudah tiba kembali. Kita hadir lagi dalam masa liturgis khusus. Masa pembaruan hidup iman akan sengsara, wafat serta kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

Tokoh

Santa Agatha

Seorang gadis Kristen nan cantik bernama Agatha hidup di Sisilia pada abad ketiga. Gubernur Romawi kafir mendengar kabar tentang kecantikan Agatha dan menyuruh orang untuk membawa gadis itu ke istana untuk dijadikan sebagai isterinya.

Renungan Harian

Koyakkanlah Hatimu Dan Bukan Pakaianmu

Rabu, 14 Februari 2018; HARI RABU ABU (U). Pantang dan Puasa.
E Pemberkatan dan pembagian abu PrefPrap IV.

Hari ini kita memulai masa Prapaskah yang ditandai dengan penerimaan abu di dahi kita. Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester.