Mgr. Petrus Turang: Kita Perlu Mengalami Suatu Sentuhan Untuk Berubah

“Kepedulian akan hidup manusia tetap menjadi persoalan dan tantangan berat dalam mengupayakan kemajuan yang berwatak manusiawi. Gereja selalu sadar akan tanggung jawab panggilan ini, untuk peduli akan persoalan manusiawi dalam seluruh karya pastoral.” Demikian disampaikan Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang di awal kotbahnya pada Misa Pontifical untuk mensyukuri imamat para imam, pembaharuan janji imamat, dan pemberkatan minyak krisma, minyak katekumen, dan minyak pengurapan orang sakit, yang berlangsung di Gereja Kristus Raja Katedral-Kupang, pada Selasa, 11 April 2017.
 
Menurut Uskup Turang, salah satu jalan dalam mengupayakan pembangunan yang berwatak manusiawi dalam seluruh karya pastoral adalah dengan menyadari karya Roh Kudus melalui keterlibatan dan kerjasama yang terjalin antara para imam dan kaum awam. “Kita semua berharap bahwa upaya-upaya pemberdayaan pastoral tetap melibatkan karunia-karunia Roh yang hadir dalam perjuangan hidup kaum awam. Jangan hanya dalam diri pastor, para biarawan-biarawati ada Roh Kudus, itu Roh Kudus mereka baru setengah. Setengahnya ada di kaum awam. Jadi itu harus disatukan, supaya dia menjadi suatu kekuatan bersama. Bilamana hal itu ini terjadi, maka akan terbentuk barisan gerejawi yang mampu memberdayakan komunikasi iman, sehingga hidup kristiani sungguh-sungguh hadir di dalam dunia sebagai kesaksian. ”
 
Dalam Misa yang juga dihadiri sejumlah besar imam, biarawan-biarawati dan umat itu, Mgr Turang juga mengajak untuk seluruh umat mendalami kembali panggilan hidup keluarga dalam mewujudkan keluarga yang berwawasan ekologis. Secara khusus, bapa uskup mengajak untuk sadar dan peduli akan persoalan ekologis yang tengah terjadi. “Kecenderungan manusia untuk melahap habis sumber daya alam demi memenuhi kebutuhan hidup, sedang berhadapan dengan berbagai kelangkaan, khususnya dalam kaitannya dengan lingkungan ekologis. Memang kita sebagai manusia, sebagai Gereja, kita harus bersekutu dan kita harus memperhatikan bahwa sikap-sikap, perilaku kuruptif yang ada dalam diri kita dalam kaitannya dengan lingkungan memang perlu mengalami suatu sentuhan untuk berubah. Karena lingkungan ekologis utama adalah hubungan antar manusia sendiri, mulai dari dalam keluarga-keluarga.”
 
Lebih lanjut dalam kaitannya dengan hal ini, Bapa Uskup menghimbau kepada para imam agar bisa hadir sebagai pelayan pastoral yang menggerakkan umat dalam semangat kepedulian dan kebersamaan, sebagai upaya nyata untuk mengatasi krisis antar hubungan manusiawi yang semakin berat, yang terjadi antara lain sebagai imbas dari kemajuan dalam bidang teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi. “Dengan semangat kepedulian dan kebersamaan, setiap pelayan pastoral, khususnya para imam akan mampu mengupayakan kembali hadirnya keutuhan hubungan ekologis yang telah dipreteli oleh ketamakan manusia karena hanya mementingkan dirinya sendiri.”
 
Mengakhiri kotbahnya, Bapa Uskup mengajak para imam dan segenap umat beriman untuk kembali menyadari bahwa semua karya yang dilakukan, terutamanya dalam mengupayakan perkembangan martabat manusiawi dan pertumbuhan kepedulian antar manusia merupakan wujud nyata dari komitmen seluruh Gereja untuk mengaplikasikan cinta kasih Yesus Kristus di tengah dunia.

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.