MERASUL DALAM DUNIA DIGITAL: Sebuah panggilan bagi Murid-Murid Kristus

Dunia digital telah menjadi hal yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Kehadirannya, seakan telah menjadi sebuah kebutuhan bagi banyak manusia dan bukan lagi menjadi barang baru yang hanya digunakan oleh manusia dari golongan tertentu. Smartphone, computer dan internet telah menjadi barang-barang yang gampang dijumpai dan digunakan oleh banyak manusia dari beragam latar belakang. Kata on line,  facebook, twitter, bloging, path, dll telah menjadi frase yang semakin akrab bagi telinga banyak manusia. Dan layanan e-book, e-mail, e-education, e-library, e-banking sekedar menjadi contoh layanan yang bisa dinikmati oleh semua manusia saat ini.
 
Melalui kehadirannya yang seakan tak terpisahkan dari manusia zaman ini, media-media digital tampil bagaikan menjadi "juru selamat" baru bagi manusia dengan menawarkan aneka macam kemudahan dan manfaat di dalamnya. Internet saja sudah menampilkan kecanggihannya yang secara singkat dapat diringkas dengan beberapa kata: cepat, dekat, tepat, interaktif, efisien, efektif, murah, tanpa batas dan tanpa sensor. Dengan internet jadilah dunia seperti bisa kita genggam di tangan dan dibawa ke mana-mana.
 
Kenyataan menunjukkan pula bahwa media komunikasi yang berkembang saat ini juga ikut memberi jawab atas masalah-masalah sosial yang dihadapi manusia. Masalah kemiskinan, ketidakadilan, kejahatan, terorisme, krisis lingkungan dapat dengan cepat dan akurat kita peroleh informasinya melalui media internet. Dengan ini sesungguhnya media komunikasi telah pula mengambil suatu peran penting bagi munculnya perubahan. Namun perlu pula dikritisi: apakah perubahan sosial itu menuju kepada sesuatu yang baik atau sebaliknya?
 
Berhadapan dengan media komunikasi digital, berarti kita berhadapan dengan peluang dan sekaligus sebuah tantangan. Di satu sisi menawarkan kemudahan dan efektivitas, di sisi lain tak dapat dihindari bahwa dunia digital telah menghadirkan pula aneka macam tantangan dan persoalan baru bagi manusia dan kemanusian. Komunikasi digital memungkinkan tersebarnya informasi secara cepat, tetapi serentak  pula tidak jarang kita temukan banyak kasus kejahatan justru lahir dari dunia digital ini. Dengan kehadirannya, di satu sisi menolong manusia untuk sanggup bekerja secara cepat, lebih efisien, namun di sisi lain dapat membuat manusia untuk memiliki mental instant, mencari gampang dan bahkan bisa menjadikan manusia sebagai pribadi-pribadi yang selalu bergantung padanya.
 
INTERNET SARANA UNTUK MERASUL
 
Gereja sebagai realitas yang hadir di tengah dunia, tentulah juga tak dapat menutup mata terhadap perkembangan dan kemajuan ini. Apalagi di tengah tuntutan agar Gereja bisa lebih menghadirkan diri dalam karya pastoral yang lebih kontekstual, lebih menyentuh umat, dan lebih menjangkau banyak pihak. Maka dari itu, penggunaan media digital sebagai sarana pewartaan adalah sebuah tuntutan yang perlu juga mendapat perhatian.
 
Bapa Suci Paus Benediktus XVI dalam pesan Hari Komunikasi Dunia pada bulan Mei 2010 mengangkat tema “Imam dan Pelayanan Pastoral dalam Dunia Digital: Media Baru Dalam Pewartaan Sabda Tuhan”. Paus menyadari pentingnya komunikasi digital dalam mewartakan Sabda Allah dalam dunia dewasa ini. Sebagai tanda dan sarana komunikasi Allah dengan manusia Gereja seharusnya dapat menggunakan sarana digital untuk menciptakan “manusia baru”, manusia beriman yang sesuai dan tanggap dengan konteks dan situasi zaman.
 
Surat Paus terkait Hari Komunikasi Sedunia itu secara spesifik ia tujukan kepada para imam, yang berperan penting dalam mewartakan Tuhan kepada umatnya. Menurut Paus, Imam diharapkan dapat hadir di dalam dunia komunikasi digital dalam memberikan kesaksian tentang Sabda Tuhan, mempraktikkan peran utama mereka sebagai pemimpin komunitas yang mampu mengekspresikan diri mereka dengan suara-suara yang berbeda yang diberikan oleh pasar digital. Dalam hal ini, para imam ditantang untuk mewartakan Sabda Tuhan dengan melayani genarasi masa kini yang dekat dengan sumber-sumber audiovisual (photo, video, gambar animasi, blog, website), di samping cara-cara tradisional.
 
Atas dasar ini, maka para imam yang adalah man of God, karenanya harus sanggup menghadirkan Allah termasuk lewat teknologi digital, sehingga Allah sungguh dirasa hadir sekarang ini. Dalam hal ini, para imam hendaknya merasa terpanggil berada dan mengambil bagian di dalam komunikasi dunia digital. Para imam diharapkan agar tidak tinggal diam tetapi ikut secara bertanggung jawab memanfaatkannya demi kepentingan Allah. Atau dengan kata lain, di tengah era digital ini para imam diajak mari kita “masuk” di dalamnya seraya tetap mengingat apa yang dikatakan Paulus: “Celakalah aku jika tidak mewartakan Injil” (1Kor 9:16). Jadi menggunakannya bukan untuk kesenangan melainkan untuk misi Allah.
 
Pastoral Yang Makin Kompleks
 
Dalam konteks pewartaan, teknologi komunikasi digital menghadirkan kompleksitas baru karya pastoral. Umat misalnya menjadi lebih kompleks, tidak lagi terbatas pada lingkungan atau paroki, tapi juga mencakup apa yang dapat kita sebut umat on-line yang karena kesibukan dan jarak yang terpisah hanya dapat kita jumpai melalui dunia maya. Umat dunia maya dapat meliputi berbagai macam kalangan dan tak terbatas oleh wilayah dan jarak.
 
Dalam kalangan umat on-line ini sering kali kehausan spiritual di tengah padang gurun virtual, yang kemudian membuat tidak sedikit orang membentuk komunitas virtual berdasarkan keyakinan religius mereka sebagai sarana untuk berdoa dan berbagi pengalaman hidup rohani. Tetapi yang menjadi persoalan, sebahagian dari komunitas-komunitas ini amatiran dalam soal-soal iman, tanpa gembala, lemah dan rentan akan proselitisme yang ditawarkan aliran-aliran religious lain. Hal ini muncul justru karena mereka tidak berhasil menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan iman mereka. Kehadiran gembala, khususnya para imam untuk umat semacam ini adalah kebutuhan yang sangat mendesak dan tak pantas lagi dipertanyakan.
 
Internet Gembalaku
 
Sebuah fenomena menarik yang dapat diamati misalnya pada mesin pencari (search engine) terkemuka Google. Dalamnya jutaan orang mengetik kata “cinta, damai, harapan, pengampunan”, dll., yang kesemuanya mewakili situasi batinnyayang beragam. Sebagian mengetiknya karena tak yakin dengan apa yang dialami dan ingin memastikan jawaban yang memuaskan tentangnya; sebagian lagi dalam keadaan kecewa, dikhianati, putus asa ada yang ingin memahami dengan baik pengalamannya dengan harapan bisa menemukan jawaban yang memadai. Setelah meng-click kata search bermunculanlah ribuan daftar tulisan tentang kata-kata yang dimaksud. Tulisan seorang imam dalam blog renungan ataupun notes yang dibuatnya terdapat di antara daftar itu. Kata-kata kunci yang tertulis di blog-nya tak disangka mengetuk hati dan meneguhkan.
 
Hal ini memperlihatkan sebuah kenyataan, di antara umat kita untuk bisa saja menjadikan internet, secara spesifik Google sebagai “gembala mereka”. Tak dapat disangkal bahwa kebimbangan, kurangnya informasi dan bahkan ketidaktahuan tentang apa saja bisa begitu mudah ditemukan jawabannya lewat Google. Sehingga tak mengherankan kalau Google menjadi referensi bagi banyak hal yang ingin diketahui manusia zaman ini.
 
Ronald Tardelly SX dalam bukunya “Merasul Lewat Internet: Kaum Berjubah dan Dunia Maya”, menyatakan bahwa kenyataan ini dapatlah dipahami karena search adalah karakter terdalam manusia yang mewakili kerinduan banyak manusia zaman ini yang tengah berziarah mencari dan mencapai kebahagiaan atau kepenuhan hidupnya. Di sinilah terletak mendesaknya panggilan Kristiani untuk mewartakan Kristus, sabda yang menjadi daging, mengkomunikasikan rahmat Ilahi yang menyelamatkan melalui cara-cara yang bisa langsung menyentuh kehidupan manusia zaman digital. Bersama Gereja, para imam dipanggil menjadi perwujudan perjumpaan Allah dengan manusia. Dalam hal ini, tugas utama para imam bukanlah terutama berkomunikasi, tapi mewartakan Injil, melalui atau lewat media-media digital agar bisa membawa manusia kepada perjumpaan yang utuh dengan Tuhan. Di sini, para imam perlu hadir di internet seraya tetap setia pada pesan injil untuk  membantu manusia mengalami kepenuhan hidupnya. Kehadiran ini adalah sebuah tuntutan mendesak, justru karena umat kita melalui Google berjumpa dengan banyak orang yang mengaku gembala, tapi sebenarnya bisa saja menyesatkan.
 
Peluang dan Tantangan
 
“Siapa yang menguasai komunikasi, ia akan menguasai dunia”.  Komunikasi dengan segala perangkat teknologinya di zaman digital ini, adalah peluang yang terbuka luas untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan memperluas Kerajaan Allah tanpa batas. Ia menyediakan peluang yang tak terkira bagi pewartaan dan katakese umat. Ia juga adalah media bagi pewartaan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai humanis yang universal, kerendahan hati, cinta kasih, damai, kisah-kisah inspiratif, agar bisa menjangkau umat secara lebih luas.
 
Sebagai sarana potensial untuk menjangkau umat secara lebih luas, internet menuntut operasi pewartaan yang sederhana, menarik dan mengena sesuai dengan situasi dan kebutuhan umat. Sifat  sederhana menarik dan mengena adalah ciri khas pewartaan, yang adalah ringkasan iman. Di situ ada peluang dan serentak tuntutan untuk mewartakan Injil dalam bahasa yang komunikatif, dapat dibaca, mudah ditangkap dan dimengerti siapapun, juga termasuk mereka yang tidak beriman kristiani sekalipun. Dampak postifnya adalah, kita mendapatkan “assesment” dengan cepat, apakah bahasa kita ditangkap oleh para pembaca di Internet. Bahasa yang kaku, intelektualistis, dan sulit dimengerti, akan cepat dikomentari, tanpa basa basi.
 
Dalam hal ini sebuah peluang yang ditangkap bahwa media ini menawarkan komunikasi yang tanpa hirarki. Melalui media digital yang tanpa hirarki, imam dapat mendengarkan apa yang disuarakan umatnya, mendengarkan apa yang dikomentari umat tentang pelayananya, apa yang dipikirkan umatnya yang kemudian bisa dirumuskan sebagai sebuah bentuk pelayanan bagi umat. Melalui media digital, para imam terbuka untuk lebih mengetahui apa yang dibutuhkan umatnya, situasi hidup mereka.
 
Meskipun media ini menawarkan aneka kemudahan, namun juga ia tak lepas dari pelbagai kesulitan. Kesulitannya adalah berdisiplin diri untuk memakai internet dalam jam tertentu, karena ada godaan untuk mencari “kepuasan” entah itu sanjungan, pujian, atau menunggu komentar umat. Relasi dengan banyak umat “maya” mungkin terbangun, tapi juga menantang “akuntablitas” dan “kredibilitas” hidup seorang imam. Dengan menulis, itu berarti tuntuntan bagi seorang imam untuk hidup lebih baik, semakin kentara dan mendesak. Sekali kita berbicara dan menulis yang baik di internet, akan menjadi “bahan untuk mengukur” kualitas hidup kita. Artinya internet menantang para imam untuk konsisten antara perkataaan dan perbuatan.Tulisan hendaknya mewakili pula apa yang dihidupi. Yang dihadirkan/ yang disharingkan dalamnya hendaklah bukan terutama pengetahuan intelektual semata, namun lebih pada mensharingkan kenyataan yang dihidupi. Itulah yang akan lebih menginspirasi umatnya.
 
Sebagai media komunikasi virtual, dampak negatif yang perlu disadari bahwa, kerasulan online itu “tidak menghadirkan pribadi yang utuh”, yakni kehadiran dengan sikap tubuh, tatapan mata, kehangatan dan sebagainya. Perjumpaan antar pribadi sesungguhnya sangat sulit terbangun dalam komunikasi digital ini. Kehadiran sebagai pribadi yang utuh tidak akan pernah terwujud dalam komunikasi versi ini, karena itu tetaplah dibutuhkan perjumpaan langsung, pertemuan antar pribadi. Karenanya, kerasulan online tidak menggantikan “kerasulan fisik” yang hadir dalam sebuah pertemuan pendalaman iman, ibadat, ekaristi, katakese dan kunjungan keluarga. Sebuah tuntutan di sini adalah janganlah menjadikan media ini sebagai sarana pewartaan satu-satunya, lalu melupakan dan melalaikan pelayanan pastoral langsung. Komunikasi yang terjalin dalam dan melalui Facebook, twitter, hy5, dll. tidaklah menggantikan peran komunikasi face to face. Ini juga untuk menghindari sebuah kenyataan bahwa internet memang menjembatani batas ruang dan waktu, namun dari pengalaman juga, internet itu bisa “mendekatkan” (yang jauh) tapi juga bisa “menjauhkan” (yang dekat) relasi.
 
PENUTUP
 
Kehadiran media komuniasi digital, seperti internet adalah sebuah peluang yang bisa digunakan demi pewartaan kabar gembira injil di dunia modern. Internet hadir menawarkan peluang-peluang dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk menghadirkan Allah di zaman ini. Ia adalah persimpangan, jalan yang membawa kita, pada perjumpaan dan hubungan baru dengan manusia dengan mengutamakan nilai dan perkembangan integral tiap pribadi termasuk kebutuhan spiritual mereka, dengan memberikan kepada mereka tanda dan sarana yang perlu untuk mengenal dan merasakan kehadiran Tuhan. Karenanya, kehadiran imam di persimpangan jalan virtual ini adalah untuk membantu sebanyak mungkin orang kembali pada komunitas, keluarga dan masyarakat mereka masing-masing sebagai orang-orang yang membawa pengharapan dan pemerdekaan.
 
Jika demikian, internet kemudian menjadi tempat di mana manusia berjumpa dengan sesama dan dengan Allah sendiri. Internet membantu manusia mengalami bahwa jeritan hidup dari belahan dunia lain, kegelisahan orang-orang tertindas, konflik, peperangan dan juga pengalaman kebahagiaan, harapan dan sukacita menjadi pengalaman perjumpaan mereka dengan Allah sendiri. Ke sanalah para Imam dipanggil, untuk membantu umat mengalami perjumpaan dengan Allah. Karenanya Gereja, terutama para imamnya perlu mewartakan Injil di dunia virtual, sehingga sanggup membawa sebanyak mungkin manusia dari dunia virtual ke dunia real, tempat perjumpaan yang penuh dengan Allah.
 
(si_langit_senja ***Hasil olahan dari berbagai macam sumber)

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.