Membangun Hidup Ekonomi Yang Bermartabat

"Oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Tit.3:5)

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Masa puasa tiba kembali. Umat Katolik sadar lagi akan panggilan untuk pembaharuan hidup iman, yaitu bertobat serta berbalik kepada Tuhan dan sesama dalam bingkai hidup sejahtera bersama, "dengan segenap hati" (Yl.2:12). Pembaharuan hidup iman hanya mungkin terjadi di dalam Roh Kudus, karena Roh Kudus adalah sumber daya utama dalam pembaruan: “Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Ku-katakan kepadamu” (Yoh. 14:26). Selama 40 hari, umat beriman merenungkan serta berupaya menghayati anugerah keselamatan yang diwahyukan oleh hidup, sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.

Sesungguhnya masa puasa adalah rahmat tak terkira yang dianugerahkan Tuhan kepada Gereja kita. Persekutuan hidup iman kita mendapat kesempatan istimewa untuk menegaskan kembali dengan rendah hati rasa syukur atas rahmat Permandian, yang menjadikan kita anak-anak Allah dan ahli waris dalam janji-janji Allah. Nyatanya, dalam perjalanan hidup iman, kita sering tergoda untuk menyerah kepada kesenangan diri sendiri saja, sehingga perutusan sebagai murid Kristus menjadi kabur dalam lumpur keduniawian. Kita lebih mempercayakan diri kepada kemampuan manusiawi kita yang rapuh, alih-alih pada daya Roh Kudus, sumber kesaksian kemuridan kita, karena sejak semula kejahatan dosa telah merayap di dunia ini.

 

Saudara-saudari terkasih,

Pikiran pokok “pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” mengajak kita untuk menemukan kembali hubungan benar dengan Tuhan dan sesama dalam perjuangan hidup sehari-hari. Kita dipanggil kembali kepada jati diri asli sebagai murid-murid Kristus, yang dalam daya Roh Kudus menyadari perutusan cinta kasih. Dengan olah rohani, olah tobat, olah tapa dan oleh harta, kita terbuka kepada kuasa Roh Kudus yang menghantar kita kepada kekudusan hidup. Dalam Ajakan Apostolik Gaudete et Exultate”, Sri paus Fransiskus menegaskan panggilan menjadi kudus dalam karya hidup kita setiap hari. Panggilan kepada kekudusan hanya mungkin terwujud dengan benar, bilamana kita dengan setia hidup di bawah bimbingan Roh Kudus. “karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah (2Kor. 7:1).

Roh Kudus mendorong kita untuk berlaku sebagai manusia yang bermartabat dalam menghadirkan peradaban kasih menurut jalan dan cara masing-masing. Kita tidak saja mendapat perutusan untuk berlaku baik kepada sesame, bila terdapat kejadian bencana atau musibah, tetapi dalam seluruh peristiwa hidup selama sejarah kita bersama di atas bumi. Dengan penghayatan iman yang benar dalam perjalanan hidup ini, kita selalu dapat berjumpa dengan daya Roh kudus yang membimbing perbuatan hidup menuju kekudusan. Roh Kudus menghendaki bahwa seluruh perjalanan hidup kita menghantar kita kepada pola pikir dan pola laku yang bersaksi tentang Yesus Kristus, yang turun ke bumi untuk menguduskan dunia: Jikalau Penghibur yang akan Ku-utus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku (Yoh. 15:26-27).

 

Saudara-saudari terkasih,

Selama masa puasa, persekutuan hidup iman kita perlu menumbuhkan kembali hati nurani bersesama dalam bingkai pembaharuan Roh Kudus. Lingkungan demikian melapangkan kepelayanan sebagai murid-murid Kristus dalam dunia yang semakin dikuasai oleh ketidakpedulian akibat individualism. Kita harus bangkit kembali dalam sikap bersesama,, agar persaudaraan tumbuh subur dalam perjalanan bersama, khususnya dalam keluarga dan pekerjaan kita. Rasul Petrus berkata, Hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati dan janganlah membalas kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat” (1Ptr. 3:8-9). Demikian, masa puasa menjadi lingkungan untuk saling berbagi berkat, anugerah kasih di dalam Roh Kudus, demi memajukan tanda-tanda kerajaan Allah dalam kesejahteraan dan kebaikan bersama.

 

Saudara-saudari terkasih,

Dalam menunaikan masa puasa, kita mendapat perutusan terbarui dalam Roh Kudus menuju perilaku yang menjunjung keutuhan martabat sesama dalam persekutuan dengan seluruh ciptaan. Dengan kata lain, masa puasa menjadi kesempatan istimewa untuk menghadirkan pembaruan rumah kita bersama, di mana manusia hidup dengan leluasa dalam memelihara, memajukan dan melindungi kesetaraan hidup dari seluruh makhluk tercipta. Kita menyuburkan kembali sikap bersesama yang mengutamakan mereka yang miskin, lemah dan tersingkirkan, dalam konteks kemerdekaan anak-anak Allah. Kita tidak peduli akan sesama demi penampilan atau kesombongan kita, tetapi untuk memulihkan antar hubungan manusiawi yang rusak akibat ketidakpedulian. Kita menggunakan media sosial untuk membangun kisah-kisah bersaudara dalam daya Roh Kudus yang mendorong perbuatan-perbuatan bersesama yang sejati: belajar, bekerjasama dan berkolaborasi, berpikir kritis positif, menghormati perbedaan dan berkomunikasi dengan baik.

 

Saudara-saudari terkasih,

Dalam kaitannya dengan tema Aksi Puasa Pembangunan Nasional “Membangun Hidup Ekonomi Yang Bermartabat, peran pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus membantu persekutuan hidup iman untuk menggerakan hati nurani guna melibatkan diri pada upaya-upaya kesejahteraan hidup manusia yang bermartabat dan berkelanjutan. Kita membangun sikap hidup yang terbuka, aktif dan kreatif dalam menyokong program penyejahteraan masyarakat, khususnya di daerah perdesaan, dalam perihal sosial-ekonomi. Kepedulian kita terhadap sesama hendaknya terlaksana dalam bimbingan Roh Kudus, agar kerjasama dan kemurahan hati semakin meliputi gaya hidup kita selaras dengan gaya hidup Yesus yang penuh belas kasih. Oleh karena itu, derma APP atau amal kasih APP menjadi kegembiraan Injil dalam perjalanan hidup bersama: memberikan dengan ikhlas sesuai kemampuan berbagi yang selaras dengan pembaharuan Roh Kudus, seperti Rasul Paulus berkata, Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor. 9:7). Dengan demikian arah dasar Aksi Puasa Pembangunan semakin terwujud dalam perjalanan hidup sehari-hari sebagai pernyataan kegembiraan Injil. Rasul Paulus berpesan, “sehati sepikiranlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!” (Gal. 13:11).

 

Selamat menunaikan masa puasa! Mudah-mudahan hati kita dipenuhi oleh karya Roh Kudus yang memampukan kita terlibat dalam pemberdayaan hidup sejahtera yang bermartabat murid Kristus. Dengan sepenuh hati, saya haturkan Berkat Apostolik untuk saudara-saudari sekalian!

 

 

Diberikan di Kupang, 1 Februari 2020

Salam Hormat dan Berkat,

Mgr. Petrus Turang

Uskup Agung Kupang

Suara Gembala

Membangun Hidup Ekonomi Yang Bermartabat

"Oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Tit.3:5)

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Tokoh

Santo Polikarpus

Polikarpus lahir antara tahun 69 hingga 80. Ia adalah murid langsung dari Rasul Yohanes, saudara Yakobus; dua bersaudara, yang sangat dikasihi Yesus. Ia dibabtis menjadi seorang Kristen oleh Rasul Yohanes ketika pengikut Kristus masih sangat sedikit jumlahnya.

Renungan Harian

Hendaklah Pinggangmu Tetap Berikat Dan Pelitamu Tetap Menyala

Selasa, 20 Oktober 2020
Ef. 2:12-22; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 12:35-38.
BcO Sir. 29:1-13; 31:1-4  
warna liturgi Hijau

Kewaspadaan merupakan sebuah tindakan mawas diri untuk tidak terbuai, tidak terlena atau terbenam dalam sesuatu hal yang bisa membelokkan orientasi hidup.