Mari Membangun Dunia Baru Yang Harmonis

Bacaan: 

Selasa, 5 Desember 2017,
Filipus Rinaldi, Bartolomeus Fanti, Sabas
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24
BcO Yes 2:6-22; 4:2-6
warna liturgi Ungu

Rencana keselamatan terus menerus disampaikan Tuhan kepada umat-Nya. Pada hari ini, rencana keselamatan itu disampaikan-Nya melalui nubuat Nabi Yesaya yang menjanjikan akan lahirnya seorang pemimpin para bangsa dari keuturunan Daud, Dia yang oleh Yesaya disebut sebagai “tunas yang akan keluar dari tunggul Isai” (Yes 11:1) dan “taruk yang akan tumbuh dari pangkal Isai” (Yes 11:1) akan berbuah dan buahnya berlimpah-limpah. Yesaya juga melukiskan bahwa ada banyak hal istimewa pada diri “tunas yang keluar dari tunggul Isai” ini, yang secara tertentu menunjukkan bahwa kehadiran-Nya akan menciptakan suatu tatanan baru di dalam kehidupan, suatu tatanan yang penuh dengan keharmonisan, keadilan dan kejujuran. Suatu tatanan dunia baru yang akan menjadi tanda kehadiran dan penyertaan Tuhan sendiri.
“Pada waktu itu serigala akan tinggal bersama domba, dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembuh dan anak singa akan merumput bersama-sama dan seorang anak kecil akan mengiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anak-anaknya akan sama-sama berbaring. Singa akan makan jerami seperti lembu. Bayi akan bermain-main di liang ular tedung. Anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak” (Yes 11:6-8). Inilah gambaran dunia yang teratur dan penuh kedamaian, yang tentulah menjadi harapan dan cita-cita semua orang. Dan di dalam tatanan dunia baru ini, tidak ada yang berbuat jahat atau berlaku busuk karena semua orang mengenal Tuhan, mengenal Dia yang adalah satu-satunya utusan Bapa untuk menyelamatkan dunia, yakni Yesus Kristus.
 
Sejalan dengan Nubuat Yesaya ini, penginjil Lukas mengajak kita untuk memahami bahwa Yesus Kristus, “Sang tunas yang akan keluar dari tunggul Isai”, bersyukur atas perutusan-Nya, sehingga dalam Roh Kudus ia berkata, “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa itulah yang berkenan di hatiMu. Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak ada seorang yang tahu siapakah Anak selain Bapa dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang oleh Anak diberi anugerah mengenal Bapa” (Luk. 10:21-22). Suatu nada syukur Yesus kepada Bapa yang terungkap setelah 72 murid yang diutus kembali dan melaporkan perutusan mereka. Mereka mengakui bahwa semua kuasa Yesus sungguh-sungguh terlaksana dan banyak orang mengalami keselamatan. Dunia mereka pun menjadi baru karena sukacita Tuhan Yesus menaungi mereka.
 
Karena itu, Bacaan Suci pada hari ini sejatinya mengajak kita untuk bertumbuh secara rohani dengan memusatkan perhatian kita hanya kepada Yesus. Dia yang telah dinubuatkan Yesaya dalam Perjanjian Lama dan diserahi kuasa dari Bapa untuk menghidupi sebuah tatanan dunia baru, dunia yang diselamatkan sehingga nyaman untuk dihuni. Suatu dunia yang ditandai oleh keharmonisan yang bagus antara manusia dengan sesamanya dan dengan lingkungan hidupnya.
Lebih lanjut, dalam mengejar tatanan dunia yang sesuai dengan kehendak Allah ini, kita juga diajak untuk bertumbuh dalam “semangat bersyukur” kepada Tuhan atas segala situasi hidup yang kita jalani dan alami. Tentu saja di sini dibutuhkan kerendahan hati, kesederhanaan dan kesadaran bahwa kita memang membutuhkan Tuhan di dalam hidup, karena orang yang sombong tidak akan pernah bersyukur atas apa yang dimilikinya.
 
Marilah kita jadikan masa adventus ini menjadi saat di mana kita mewujudkan dunia ini menjadi baru, menjadi semakin harmonis dan damai, sehingga kita pun membantu banyak orang untuk juga semakin mau bersyukur dan memuliakan Tuhan. Amin.

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Mari Membangun Dunia Baru Yang Harmonis

Selasa, 5 Desember 2017,
Filipus Rinaldi, Bartolomeus Fanti, Sabas
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24
BcO Yes 2:6-22; 4:2-6
warna liturgi Ungu

Rencana keselamatan terus menerus disampaikan Tuhan kepada umat-Nya.