Komunikasi Sosial: Upaya Membagikan Harapan Kepada Dunia

Puncak perayaan Hari Komsos sedunia ke-51 dan Hari Keluarga tingkat Keuskupan Agung Kupang ditandai dengan Perayaan Ekaristi bersama yang dipimpin oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Dalam kotbahnya pada perayaan yang berlangsung di gereja paroki Sta. Helena Lili-Camplong ini, Uskup Petrus kembali menegaskan tentang maksud Gereja mengajak semua anggota gereja untuk merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia.
 
“Hari komunikasi sedunia yang kita rayakan setiap tahun di dalam Gereja kita selalu mempunyai harapan dan maksud tertentu, yakni supaya umat katolik di seluruh dunia, yang hadir di dalam gerakan pusaran perkembangan dunia ini, memang sungguh-sungguh menjadi orang-orang yang tegak, artinya orang-orang yang mampu untuk menyaksikan tentang Yesus Kristus. Di dalam segala keadaannya, di dalam segala lingkungannya, kita menjadi berani karena memang sadar bahwa Tuhan hadir. Jangan takut, karena aku ada selalu dengan kamu,” kata uskup Petrus.
 
Menurut beliau, alasan utama kita untuk tidak takut adalah karena kita sesungguh-Nya telah diangkat menjadi milik Kristus melalui permandian. Dan itu adalah anugerah utama bagi orang-orang yang percaya, bukan sebagai sesuatu yang ditambahkan, bukan sesuatu yang bisa dipermainkan dan diperdagangkan untuk kepentingan diri sendiri, tapi hati kita betul-betul menjadi tempat kediaman Allah dan menjadi milik-Nya. Inilah yang menjadi alasan mengapa di dalam doa-Nya, Yesus minta kepada Bapa-Nya, supaya apa yang diberikan oleh Bapa-Nya itu untuk menjadi milik-Nya, tetap menjadi milik Bapa-Nya dan Bapa-Nya harus menjaga supaya mereka tetap menjadi milik dari Kristus, supaya tidak menyerah kepada dunia, supaya mereka tidak termakan oleh keduniawian, dan selalu melihat bahwa mereka itu telah ditebus dan diberikan pengharapan oleh kebangkitan Kristus, sehingga mereka diharapkan tetap menjadi milik-Nya sampai kepada Rumah Bapa.
 
Lebih lanjut, uskup Petrus menegaskan bahwa sebagai orang-orang yang telah diangkat menjadi murid Kristus, setiap orang katolik harus menggunakan sarana-sarana komunikasi sebagai anugerah dari Allah. “Sarana komunikasi adalah anugerah yang diberikan kepada orang-orang di dunia, termasuk orang percaya, untuk memiliki itu, untuk menggunakannya dengan baik, tetapi sebagai murid-murid Kristus kita harus menjaganya melalui cara-cara kepemilikan dari Kristus untuk kebaikan bersama, untuk sesuatu yang sungguh-sungguh memberikan keterpaduan, persatuan antara manusia di dunia ini, supaya kita milik-Nya, tetap menjadi garam dan terang. Kita menjadi saksi di tengah kemajuan dunia teknologi komunikasi dengan memberikan pengharapan kepada dunia,” tegas uskup yang adalah mantan ketua komisi Komsos KWI ini.
 
Untuk mencapai apa yang diharapkan ini, maka bapa uskup kembali mengajak setiap orang untuk bisa mulai belajar tentang bagaimana menggunakan sarana-sarana komunikasi secara baik dan benar. Menurut Bapa Uskup, tema ‘Jangan takut, besertamu’ adalah sebuah tantangan bagi setiap orang katolik yang hidup di tengah dunia yang dipenuhi dengan aneka macam kemajuan teknologi komunikasi, yang adalah anugerah yang tidak terkatakan bagi manusia. Sebuah kemajuan yang di satu sisi memunculkan harapan, tetapi di sisi lain memunculkan kerisauan, yang salah satunya disebabkan oleh penggunaan sarana komunikasi itu sebagai media gosip masa kini. “Santo Bapa sudah beberapa kali katakan bahwa gosip itu adalah dosa, karena dia merusak kehidupan kebersamaan, dia merusak hubungan antar manusia, dia merusak tata ciptaan Allah yang baik ini. Melalui gosip sesungguhnya kita memasukkan orang lain di dalam jurang, padahal kita sendiri tidak mau masuk ke dalam jurang itu, dan itu adalah sebuah tindakan yang sama sekali tidak memberikan pengharapan kepada dunia ini,” kata uskup Petrus.
 
Karena itulah, bapa uskup di akhir kotbahnya kembali menyatakan bahwa perayaan hari komunikasi sosial sedunia di dalam Gereja katolik menjadi sebuah tantangan bagi semua orang katolik untuk mempergunakan segala macam sarana komunikasi yang dihadirkan sebagai anugerah di tengah dunia, untuk menjadi sarana yang memungkinkan perjumpaan antar manusia, yang memungkinkan tumbuhnya kesegaran, harapan dan persaudaraan yang adalah buah nyata dari iman. “Dengan memakai alat-alat komunikasi modern, kita meneguhkan iman kita, kita memantapkan kepercayaan kita kepada Yesus Kristus, dan dengan murah hati kita berbagi dengan semua orang atas kebaikan itu,” ungkap uskup Petrus.
 
Perayaan ekaristi yang dilangsungkan pada Minggu 28 Mei 2017 ini, kemudian ditutup dengan pemberian berkat khusus dari Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang kepada setiap keluarga yang hadir di dalam perayaan ekaristi ini. Sebuah simbolisasi nyata dari kehadiran dan sapaan Tuhan yang membawa pengharapan, dan serentak ajakan kepada setiap keluarga untuk kembali menyadari tugas dan panggilannya untuk menghadirkan harapan bagi dunia dan serentak menyadari perannya untuk mewariskan tradisi iman kepada generasi selanjutnya.***

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.