Komunikasi: Perjumpaan Antar Pribadi

“Dalam gereja katolik sejak Konsili Vatikan II, kita tidak terutama melihat alat-alat komunikasi sosial, media sosial, sebagai perhatian dari penginjilan, tetapi melihatnya sebagai suatu anugerah yang diberikan kepada dunia ini, yaitu komunikasi sosial, yang intinya adalah komunikasi antar manusia, supaya dalama komunikasi itu terjadi satu ciri untuk membangun peradaban.”
 
Hal ini dikemukakan oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang ketika tampil sebagai pembicara pertama dalam seminar tentang komunikasi yang dilaksanakan untuk menyambut perayaan Hari KOMSOS ke-51 dan Hari Keluarga Tingkat Keuskupan Agung Kupang. Dalam kesempatan tersebut secara khusus Uskup Turang menyoroti persoalan komunikasi sosial dewasa ditinjau dari sudut pandang Pesan Sri Paus Fransiskus untuk hari Komsos ke-51, tahun 2017.
 
“Sri Paus selalu minta kita sekalian untuk mengembangkan sebenarnya suatu daya yang ada dalam diri manusia, hati nurani dari manusia, kesadaran manusia, agar apa yang dihasilkan secara teknis, sungguh-sungguh membangun jembatan antara hati dengan hati. Inilah yang boleh dikatakan menjadi inti dari setiap tahun kita merayakan hari komunikasi sosial dengan temanya masing-masing. Dan tahun ini kita merenungkan tema: Jangan Takut, Aku Besertamu: Komunikasikan Harapan dan Iman,” ujar Mgr. Petrus.
 
Demi menunjang terwujudnya perjumpaan antar pribadi, maka Mgr. Petrus mengajak setiap pribadi untuk menggunakan segala macam sarana komunikasi sosial, terutama yang yang dihadirkan oleh perkembangan teknologi komunikasi dalam dunia dewasa ini, secara bijaksana dan bertanggung jawab. Dan tempat yang paling awal dan paling penting bagi setiap pribadi untuk belajar bagaimana berkomunikasi secara baik dan belajar menggunakan sarana-sarana komunikasi secara bijaksana dan bertanggung jawab adalah keluarga.
 
Tampil sebagai pembicara kedua dalam seminar yang dilaksanakan pada Sabtu, 27 Mei 2017 dan mengambil tempat di pelataran timur gereja paroki Sta. Helena Lili-Camplong ini adalah bapak Benediktus Labre, yang secara khusus mengangkat persoalan komunikasi di dalam keluarga. Menurut pak Beni, komunikasi yang baik di dalam keluarga adalah hal yang paling mendasar dan utama agar setiap pribadi bisa berkomunikasi secara baik dan efektif dengan semua orang, dan karenanya jika komunikasi di dalam keluarga terganggu, maka akan memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan setiap anggotanya, terutama lagi bagi anak-anak yang dibesarkan di tengah keluarga itu.
 
Menurut bapak Beni, anak-anak adalah perekam dan peniru yang sangat luar biasa, sehingga apapun yang mereka alami di dalam keluarga, yang dilihat dan didengarnya dari orang tua dan orang dewasa di sekitarnya, akan sangat mempengaruhi perkembangan dirinya. Hal ini termasuk juga di dalam cara berkomunikasi. Karena itulah pendidikan dan keteladanan yang baik dari orang tua, serta bagaimana anak sejak dini mulai diajarkan tentang kedisiplinan dan tanggung jawab, merupakan hal yang sangat penting agar dia bisa tumbuh menjadi pribadi yang matang dan dewasa dalam hidupnya.
 
“Orang tua harus berusaha menjadi komunikator yang baik. Pesan-pesan yang kita berikan kepada anak atau kepada suami atau kepada istri itu harus yang positif, supaya anak bisa belajar tanpa selalu merasa takut dan diliputi rasa bersalah yang berlebihan. Pesan yang kita sampaikan itu harus menyenangkan, karena itu kita harus mengisinya dengan virus-virus cinta kepada anak-anak kita,” ujar pak Beni.
 
Kegiatan seminar yang dimoderatori oleh RD Secundidus Lopis, dan diikuti para imam, tokoh umat dan juga sekitar tiga ratusan pasangan suami-istri yang adalah utusan dari paroki-paroki ini, kemudian ditutup dengan sharing seputar kesaksian tentang kehidupan berkeluarga. Dalam testimoni yang disampaikannya, baik dari keluarga Servas dan Atik, maupun dari keluarga Hiron dan Nonik, keduanya membagikan pengalamannya tentang bagaimana komunikasi dalam keluarga itu perlu dibangun dengan baik, agar memang mendatang sesuatu yang baik dalam relasi antara suami-istri, maupun antara orang tua-anak. Bagi mereka segala macam sarana komunikasi yang hadir dalam dunia dewasa ini harus menjadi sarana yang memang sungguh bisa membangun relas dan komunikasi yang baik antara satu dengan yang lain, dan karenanya hal yang paling penting untuk ditanamkan di dalam keluarga adalah keteladanan dan rasa tanggung jawab di dalam menggunakan semua media komunikasi yang ada.***

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.