Komisi Keadilan Dan Perdamaian

Sekretariat : Jl. Herewila No. 33 Naikoten II Kupang
Email : louis_monteiro@yahoo.co.id
Handphone: 085239480204
 
Sejarah Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran dan Perantau(KKPPMP)
Tahun 1891 Paus Leo XIII mengeluarkan Ensiklik Rerum Novarum di tengah tantangan keberpihakan Gereja pada nasib kaum buruh pada era revolusi industri di Eropa.
 
Tahun 1965 Konsili Vatikan II bersidang. Konsili semakin memperlihatkan kesadaran akan tanggung jawab Gereja sejagad terhadap suatu tatanan kehidupan yang semakin adil dan damai berhadapan dengan bentuk-bentuk ketidakadilan yang kian kompleks. Sebagai wujud nyata dari rasa tanggung jawab itu, Konsili merasa perlu untuk membentuk suatu badan yang bertugas secara khusus untuk mewujudkn keadilan sosial internasional (GS. Art. 90).
 
Tanggal 6 Januari 1967 Paus Paulus VI membentuk Komisi Kepausan “Justitia et Pax” dan mengajak Gereja seluruh dunia membentuk badan / lembaga yang menangani pastoral keadilan dan perdamaian.
 
Tahun 1981, Sidang MAWI membahas seruan Paus itu. Tahun 1985 dibentuklah Sekretariat Keadilan dan Perdamaian KWI di bawah Komisi PSE. Selanjutnya dalam Sidang Agung KWI, SKP menjadi satu Komisi. Di Keuskupan Agung Kupang penjajakannya baru dimulai tahun 2001 dan efektif bekerja pada awal tahun 2003. pada awal Februari 2003, Uskup Agung Kupang menunjuk RD. Leo Mali untuk menangani Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Kupang.
 
Sementara itu Berawal dengan kedatangan pengungsi dari Indochina di Pulau Galang sekitar tahun 1975, Gereja di Indonesia meulai memberikan tanggapan terhadap kebutuhan pastoral bagi para pengungsi. Meskipun kamp pengungsi resmi ditutup pada tanggal 8 September 1996, namun perhatian Gereja terhadap pengungsi masih terus berlanjut. Menyusul pengungsian yang terjadi dari satu daerah ke daerah lain dalam wilayah Indonesia karena aneka konflik dan kerusuhan. Maka pada sidang sinodal bulan November 1997, memutuskan untuk membentuk suatu lembaga khusus yang disebut Sekretariat Pelayanan Pastoral Migran dan Perantau Konverensi Waligereja Indonesia. Kemudian pada sidang sinodal bulan November 1997 disepakati menjadi Komisi Migran dan Perantau Konverensi Waligereja Indonesia. Komisi Migran dan Perantau mempunyai  4 bidang pelayanan yakni: Buruh Migran, Pengungsi, Pariwisata, dan Pelaut. Dalam kaitan dengan Buruh Migran, perhatian ditujukan pula kepada persoalan tenaga kerja Indonesia dengan segala permasalahannya.
 
Tahun 2008, dalam sidang Konverensi Waligereja Indonesia, Komisi Keadilan dan Perdamaian dan Komisi Migran dan Perantau digabung menjadi satu komisi dengan nama Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Pastoral Migran dan Perantau yang disingkat: KKPPMP.
 
KKPPMP adalah suatu Badan / Lembaga Gereja yang berkarya di bidang pelayanan pastoral keadilan dan perdamaian dalam setiap aspek kehidupan manusia, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
 
Maksud Pembentukan KKPPMP

  • Memelihara, melindungi, merawat dan mempersatukan   umat atas dasar kebenaran Injil.
  • Menyadarkan umat akan panggilannya sebagai pengikut Kristus dan menjadi “Kristus yang lain bagi sesama” (Alter Kristus) teristimewa bagi mereka yang menjadi korban ketidakadilan.
  • Memberikan perhatian terhadap orang-orang yang terlibat dalam  mobilitas manusia, dengan mengusahakan agar migran dan perantau mendapatkan perlakuan yang adil dan manusiawi serta membantu agar mereka dapat menempatkan dan menyesuaikan diri.

 
Mandat dan Tugas
Mandat utama Komisi ini adalah mengembangkan pelayanan pastoral keadilan dan perdamaian.
 
Ada dua tugas utama Komisi :
Melaksanakan pendidikan kesadaran dan rasa tanggung jawab umat dalam hal keadilan dan perdamaian, dan penghoramatan terhadap martabat manusia.
Mengembangkan sikap cinta akan keadilan dan perdamaian di kalangan umat Katolik agar tergerak untuk melakukan refleksi dan aktif berperan dalam usaha-usaha memperjuangkan keadilan dan perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
 
Bidang Kerja
1.      Animasi / Motivasi, Pendidikan Keadilan dan Perdamaian dan Penghormatan terhadap Martabat Manusia.
Komisi bertugas untuk terus menerus menyadarkan umat akan panggilannya dan rasa tanggung jawabnya sebagai umat Katolik; oleh pembaptisannya, setiap orang Katolik memiliki kewajiban untuk terlibat dalam upaya dan karya penegakan keadilan dan perdamaian, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Dengan berbagai cara / sarana/metode umat digerakkan menjadi pelaku aktif dalam pastoral ini. Sumber inspirasi utama dari kegiatan animasi dan motivasi Pastoral Keadilan dan Perdamaian adalah Kitab Suci, Ajaran Sosial Gereja (ASG) dan Teologi Praktis. Muara dari animasi keadilan dan perdamaian adalah pembentukan spiritualitas umat sebagai promotor keadilan dan perdamaian.
Kegiatan animasi dapat memilih bentuk seperti, pelatihan, Kotbah, seminar, lokakarya, ret-ret, rekoleksi, penyebaran lembaran info, tulisan dan lain-lain yang berlangsung secara tetap dan terus menerus.
 
2.      Pemberdayaan dan Advokasi
Upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran dan Perantau dimaksudkan agar umat semakin bersikap adil dan hidup layak sebagai manusia dan semakin menghormati martabat manusia sebagai ciptaan Allah. Dalam kehidupan yang layak itu umat diharapkan mampu menghayati hak-hak dan kewajibannya secara benar dalam hidup bersama yang penuh kedamaian.
Demikian pula semua bentuk program advokasi dimaksud untuk menyadarkan umat agar mereka menjadi mampu melakukan upaya swabela atas hak-hak mereka.
Pastoral advokasi merupakan program kerja dengan sasaran ganda. Pada tempat pertama advokasi berarti berdiri bersama pihak korban, bersuara bersama mereka dan memampukan mereka memperjuangkan hak-haknya.
Kedua menyadarkan para pelaku ketidakadilan akan perilaku yang tidak adil.
Terkait dengan tugas penyadaran advokatif ini adalah tugas konsultasi mediasi dan pendampingan demi tegaknya keadilan dan perdamaian. Tugas-tugas ini mengisyaratkan jaringan kerja yang terbuka dan bekerja sama dengan siapa saja yang berkehendak baik, entah itu lembaga atau individu. Komisi harus siap membangun kerja sama dengan komisi-komisi terkait dan lembaga-lembaga mitra lainnya.
 
3.      Dokumentasi dan Pengkajian
Bidang ini bertugas untuk melakukan pengkajian, penelitian dan analisis guna mendukung pelayanan animasi, penyadaran serta pemberdayaan dan advokasi.
 
Prinsip Kerja

  • Mulai dari Bawah. Komisi Keadilan dan Pedamaian memulai kegiatannya di tingkat basis baik itu KUB-KUB maupun kelompok-kelompok sejenis dalam masyarakat.
  • Otonomi dan Subsidiaritas. Kegiatan-kegiatan Komisi menjunjung tinggi serta menghargai kemampuan-kemampuan masyarakat / umat setempat. Apa yang dapat dibuat oleh masyarakat tidak diambil alih oleh Komisi. Masyarakat mempunyai otonomi untuk menyelesaikan persoalannya sendiri.
  • Terbuka.  Komisi terbuka untuk bekerja sama dengan siapa saja yang memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kebenaran tanpa mengenal batas agama, ras, etnis dan jenis kelamin.
  • Kemitraan. Komisi mempunyai kemitraan baik internal dengan lembaga-lembaga gerejawi maupun eksternal dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan atau keagamaan lainnya.

 
Nilai-nilai Pembimbing Pastoral
Dalam menjalankan tugas pastoralnya Komisi meyakini nilai-nilai sebagai berikut :

  • Hormat akan martabat manusia dengan menjunjung tinggi HAM.
  • Kesetiakawanan
  • berpihak pada yang lemah
  • perjuangan tanpa kekerasan

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.