KOBARKANLAH SUKACITA INJIL!

Refleksi Uskup Agung Kupang (untuk para Imam dan seluruh Umat Keuskupan Agung Kupang)
 
1.      Para Waligereja Indonesia telah mengadakan hari-hari studi dari 3-5 November 2014 untuk mendalami Seruan Apostolik Evangelii Gaudium oleh Sri Paus Fransiskus, di Gedung KWI Jakarta. Dengan bantuan para pakar, para Waligereja sudah mencermati kenyataan social yang mewarnai masyarakat kita dalam terang Seruan Apostolik Evangelii Gaudium. Oleh karena itu, pada saat yang berbahagia ini, baiklah berbagi dengan seluruh umat akan sukacita Injil yang dianugerahkan dalam perjalanan Gereja kita.
2.      Kenyataan hidup social dewasa ini memperlihatkan aneka goncangan, bahkan ancaman, akibat proses globalisasi yang merambah ke seluruh dunia. Kebhinekaan sosial terancam punah akibat gerakan radikal yang ingin menyeragamkan hidup sosial dengan “kekerasan”. Di bidang sosial, kita melihat tumpulnya kepedulian akan sesama, khususnya mereka yang terpinggirkan dalam hidup sosial.  Di bidang politik, terungkaplah persaingan serta perebutan kuasa, yang pada gilirannya membuat rakyat bingung dan merasa sedih. Tambahan pula, tata kelola hidup politik yang semakin menjadi biasa dengan praktek-praktek yang merusak tatanan relasi antar sesama, khususnya korupsi. Di bidang ekonomi, kesenjangan sosial semakin melebar dan banyak orang terasing dari upaya pembangunan kesejahteraan. Kepemilikan tanah kaum tani semakin tergerus oleh masuknya pemodal nasional atau pun mancanegara. Lapangan pekerjaan yang kurang juga mempengaruhi kegalauan, khususnya di kalangan kaum muda. Di bidang budaya, nilai-nilai dasar manusiawi semakin memudar, bahkan menghilang, akibat tumbuhnya individualisme dan materialisme yang penuh ketamakan. Ringkasnya, kebersamaan serta perilaku kerjasama untuk membangun kebaikan bersama semakin hilang dari “peradaban” sosial dewasa ini. Semuanya dikalahkan oleh kekuatan uang sebagai bentuk berhala baru di jaman ini. Persekutuan gerejawi pun tidak terlepas dari terpaan arus globalisasi tersebut, khususnya kemajuan dalam tekhnologi informasi, sehingga wajahnya seakan wajah yang barusan kembali dari upacara pemakaman, karena Gereja cenderung kepada penampilan duniawi belaka.
3.      Para Waligereja menjadi sadar bahwa sukacita Injil yang diwartakan nampaknya kurang, bahkan tidak menyentuh perjuangan hidup umat bersama masyarakat setempat. Ketegangan-ketegangan social, utamanya hidup sosial ekonomi, semakin mengaburkan pewartaan Injil. Umat bersama masyarakat setempat sangat dikuasai oleh “peradaban modern” yang mewartakan konsumerisme lewat kecanggihan periklanan. Oleh karena itu, dengan berbagai pengalaman akan panggilan serta perutusan sukacita Injil, kami ingin mengajak umat sekalian, agar umat berani belajar terus-menerus dari perutusan Injil Yesus Kristus, sumber kehidupan dan keselamatan kita: “…pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus” (Mt. 28:19).
4.      Sukacita Injil mendorong seluruh Gereja untuk mawas diri dan mencermati tanda-tanda perkembangan jaman dalam terang-Nya, agar kerukunan dan kesejahteraan hidup tetap menjadi milik kita bersama. Di tengah masyarakat kita yang mejemuk (etnis, agama, golongan, pulau, ras, dan kerekatan politik) sukacita Injil mewartakan penghormatan dan penghargaan akan keragaman sosial budaya. Pewartaan sukacita Injil mengajak umat sekalian untuk merayakan perbedaan dengan gembira dan rasa syukur. Biarpun hakikat Gereja adalah missioner, yaitu terus-menerus mewartakan sukacita Injil ke seluruh dunia. Gereja sadar akan peran para pihak yang berbeda dalam mengembangkan kekuatan serta kekayaan bersama menuju kemakmuran yang memajukan martabat manusiawi setiap orang atau kelompok.
5.      Dengan menyambut pembaruan dalam tata kelola pemerintahan baik dalam masyarakat dan Gereja, kita bersyukur kepada Tuhan atas tuntunan serta belaskasihNya di dalam membarui hati manusia menuju suatu perubahan relasi yang berkelanjutan secara manusiawi. Sukacita Injil sebagaimana dianjurkan oleh Sri Paus Fransiskus, hendaknya tetap menjadi penegasan utama dalam menyaksikan diri sebagai murid-murid Kristus dalam keadilan dan perdamaian. Seluruh (Uskup, imam, kaum awam, termasuk para hidup bakti) terutus oleh Allah untuk mengambil peran yang aktif, efektif, kreatif dan inovatif, agar sukacita Injil semakin menjadi pengalaman hidup sehari-hari di atas bumi Nusantara ini. Kehadiran persekutuan gerejawi kita di masing-masing keuskupan adalah tanda sukacita Injil, karena di dalamnya orang menemukan suatu perjumpaan dengan Yesus Kristus yang berjiwa melayani dan merangkul semua orang, terutama mereka yang berkekurangan dan berkebutuhan khusus. Di dalam berbagi sukacita Injil, Gereja setempat kita berupaya untuk mendorong keterlibatan seluruh persekutuan gerejawi, khususnya kaum awam perempuan dan laki-laki.
6.      Sukacita Injil juga harus membangun dalam persekutuan gerejawi setempat (Keluarga, Stasi, KBG atau KUB, Wilayah Rohani, Komunitas Iman Populer atau Kelompok Kategorial dan Paroki) suatu gerakan bersama untuk mendalami Kitab Suci sebagai sarana utama untuk berjumpa dengan Yesus Kristus. Dengan gerakan ini diharapkan bahwa spiritualitas persekutuan gerejawi kita semakin menghayati semangat umat Kristiani Perdana (cf. Kisah Para Rasul), yaitu bertekun dalam ajaran para Rasul, bersatu dalam doa dan berbagi barang-barang duniawi. Dengan demikian persekutuan gerejawi setempat semakin mengalami perjalanan hidup bersama dalam keseimbangan. Kelompok Anak-anak, Remaja dan Orang Muda Katolik perlu mendapat kesempatan seluas mungkin untuk mendalami perjumpaan dengan Yesus Kristus di dalam Kitab Suci, agar iman Kristiani semakin mantap dan handal dalam perjalanan hidup imannya. Pemimpin umat awam di tempat-tempat yang jauh dan terpencil harus mendapatkan bimbingan serta pelatihan pastoral, agar mereka semakin mampu mewartakan sukacita Injil di tengah umat yang dipercayakan pada pelayanannya.
7.      Sukacita Injil menghendaki terwujudnya wajah Gereja yang berdaya tarik, berdaya pikat dan berwibawa akibat kesaksian hidup Kristiani dalam pergaulan hidup sehari-hari. Daya tarik mendorong keterlibatan seluruh umat dalam karya pastoral dan pada gilirannya semoga menggerakkan masyarakat setempat untuk membangun persahabatan dengan persekutuan gerejawi setempat. Berwibawa, karena persekutuan gerejawi dengan semangat sukacita Injil menjadi terpercaya, karena pewartaan Gereja sejatinya membumi dalam praktek hidupnya. Dengan demikian wajah Gereja kita tidak menimbulkan rasa takut, gelisah ataupun cemas, tetapi keutamaan perutusan Yesus Kristus yang menghendaki hidup kelimpahan bagi semua orang: “Aku datang supaya mereka hidup dan hidup dalam segala kelimpahannya” (Yoh. 10:10)
8.      Para Waligereja, dengan menghaturkan puji syukur kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, mengajak seluruh persekutuan gerejawi untuk hidup saling menghormati dan saling menghargai dengan siapa saja, agar sukacita Injil terwartakan dalam suasana ruku, adil dan penuh belaskasih. Kesaksian sukacita Injil adalah syukur kita bersama dalam perjuangan hidup ini, yang nyatanya penuh tantangan dan kesulitan akibat rendahnya hubungan antar manusia dalam membangun keadilan dan perdamaian sebagai tanda-tanda Kerajaan Allah dalam dunia kita. Khususnya kepada persekutuan gerejawi di Keuskupan Agung Kupang yang sedang mencermati tema: Tahun Injil Orang Miskin”, semoga sukacita Injil semakin mengilhami kita untuk memajukan persaudaraan dan persahabatan, di mana tumbuh dan berkembang keseimbangan hidup social dan di mana orang menemukan ‘oase’ di tengah maraknya kegersangan rohani dan ketamakan antar sesame. Sukacita Injil membawa kesejahteraan yang mengangkat serta membangkitkan martabat manusiawi setiap orang dalam lingkungan multi-kultural.
9.      Akhirnya, para Waligereja berterimakasih atas doa-doa umat sekalian, sehingga pendalaman para Waligereja dapat berlangsung dengan baik dalam semangat keimanan akan sukacita Injil. Tuhan yang Mahakuasa dan Mahabaik melimpahkan berkat-Nya kepada saudara-saudari sekalian. Doakanlah selalu Uskupmu! Terimakasih dan kobarkanlah sukacita Injil dalam hidup kalian!
Jakarta 5 November 2014
Mgr. Petrus Turang
Uskup Agung Kupang

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Beato Yohanes Gabriel Perboyre, Martir

Ketika masih kanak – kanak, Yohanes sudah terbiasa dengan kerja keras. Ia biasa membantu ayahnya menggembalakan ternak – ternak mereka di padang. Pada umur 8 tahun, ia masuk sekolah atas ijin ayahnya. Kemudian ia mengikuti pendidikan imam di seminari menengah.

Renungan Harian

Salib Adalah Tanda Kerahiman Allah

Jumat, 14 September 2018 - Pesta Salib Suci
Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.
BcO Gal. 2:19-3:7,13-14; 6:14-18 Est. 1:1-3,9-16,19; 2:5-10,16-17.

Hari ini Gereja Katolik merayakan pesta Salib Suci. Secara liturgis, Pesta ini dirayakan di dalam Gereja Katolik untuk mengenang penemuan Salib Yesus oleh St. Helena, ibunda dari Kaisar Konstantinus pada tanggal 18 Agustus 320.