Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

Belo, Komsos KAK, 27/11 --Bertempat di Rumah Retret Susteran SSpS Belo, para imam yang berkarya di wilayah Keuskupan Agung Kupang bersama dengan para ketua Dewan Pastoral Paroki se Keuskupan Agung Kupang mengikuti rekoleksi bersama. Rekoleksi yang dipimpin oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang ini mengangkat tema “Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan”, yang tidak lain adalah tema perayaanHari Orang Miskin Sedunia pertama yang baru saja dirayakan di dalam Gereja Katolik pada tanggal 19 November 2017.
 
Dalam renungan yang dibagikannya di hadapan para imam dan awam yang hadir, Mgr. Petrus terlebih dahulu mengajak para imam untuk melihat ajakan Paus Fransikus bagi seluruh Gereja untuk melakukan pastoral orang miskin, sebagai suatu bentuk kepedulian bersama terhadap persoalan kemiskinan sehingga terjadi suatu keseimbangan hidup di dunia ini.
 
“19 November sudah kita rayakan bersama-sama terutama di dalam doa, bagaimana menghadirkan suatu Gereja yang memang pertama-tama merupakan suatu kesatuan dari semua orang sehingga apa yang kurang itu bisa dicarikan kemampuan untuk menyeimbangkan, artinya dengan melakukan, melaksanakan tanggung jawab, kewajiban yang benar sebagai manusia, dapat menghadirkan suatu keseimbangan di dalam dunia ini.” Ungkap Mgr. Turang.
 
Lebih lanjut, dengan mengutip apa yang dikatakan Paus Fransiskus dalam Pesan untuk Hari Orang Miskin Sedunia yang pertama, Mgr. Petrus mengatakan bahwa dasar bagi Gereja di dalam membangun kepedulian terhadap kemiskinan adalah pengajaran Yesus sendiri, yang mana di sepanjang karya pelayanan-Nya di tengah dunia, menaruh kepedulian dan perhatian yang sangat besar kepada orang-orang miskin. “Sri Paus meminta kita sebagai Gereja, sebagai murid-murid Kristus yang percaya kepada-Nya, untuk melihat kepada Dia sebagai teladan, apa yang Dia lakukan. Dia datang ke dunia, dan mewartakan bahwa rahmat Tuhan ada, dan Dia ingin agar orang-orang miskin boleh dikatakan mendapat kabar gembira. Jadi kabar gembira untuk orang-orang miskin bukan hanya berarti kita berkotbah, homili tiap hari Minggu, tetapi kita sungguh-sungguh menemukan suatu cara seperti Kristus untuk menanggapi dengan nyata kondisi yang ada, sehingga mereka mengalami suatu perobahan di dalam kehidupan”, tegas Mgr. Turang.
 
Karena itu, maka menurut Uskup yang pernah menjabat Sekretaris Komisi PSE KWI ini, salah satu hal utama yang bisa dilakukan untuk membangun kepedulian kepada orang miskin adalah, mengikis hal-hal yang menyebabkan munculnya kemiskinan, antara lain ketidakpedulian dan egoisme segelintir orang. Dan karenanya, yang pertama-tama perlu dibangun adalah bagaimana orang digerakkan untuk bekerjasama dan solider dengan sesamanya yang berkekurangan.  Dan untuk itu, setiap orang perlu diajak untuk membangun di dalam hidupnya semangat kerendahan hati, kemurahan hati yang ditunjukkan dalam rupa bela rasa kristiani.
 
Dalam membangun rasa kepedulian ini, Mgr. Petrus menegaskan pula bahwa dalam rangka karya pastoral orang miskin, semua pihak perlu menyadari bahwa orang-orang miskin itu juga memiliki harga diri yang perlu juga dihormati. “Orang miskin itu punya martabat, dia tidak boleh berpikir bahwa dia hina, dia harus mempunya nilai di dalam dirinya, punya semangat bahwa dia dicintai oleh Tuhan. Dan orang kaya pun harus memiliki harga diri dan martabat murah hati. Orang kaya tidak perlu membeli orang-orang miskin, tetapi perlu memiliki sikap murah hati seperti Kristus sendiri,” kata Mgr. Turang.
 
Mengakhiri renungannya, Uskup Turang kembali mengingatkan tentang perlunya kerjasama di dalam karya pastoral orang miskin. “Kita di dalam suatu paroki, di mana ada orang miskin, ada orang kaya, ada orang sakit, ada orang menderita, kita harus membuat agar semua orang di situ merasa bahwa mereka tinggal dan diterima di dalam rumah yang sama, di paroki yang sama, dan di sana mereka bisa mengalami sukacita, mereka bisa saling bekerjasama, saling mengasihi dan menyayangi dengan gembira, demi membangun kebahagiaan dan sukacita bersama,” ungkap Mgr. Turang.
 
Adapun rekoleksi ini menjadi pempembuka bagi rangkaian kegiatan Temu Pastoral Keuskupan Agung Kupang yang akan berlangsung dari tanggal 27-29 November 2017. Dan tema utama yang dibicarakan dalam Temu Pastoral kali ini adalah Gereja dan Tahun Orang Miskin. ***

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Mari Membangun Dunia Baru Yang Harmonis

Selasa, 5 Desember 2017,
Filipus Rinaldi, Bartolomeus Fanti, Sabas
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24
BcO Yes 2:6-22; 4:2-6
warna liturgi Ungu

Rencana keselamatan terus menerus disampaikan Tuhan kepada umat-Nya.