Kita Dipanggil Untuk Menjadi Pelaku Dari Belas Kasih

“Sebagai orang-orang yang beriman kristiani, masa liturgi yang khusus ini membuat kita boleh menarik diri sedikit dari dunia. Di sini kita masuk pada sesuatu yang sebenarnya kita boleh berdiri dan pada saat kita berdiri di sana, kita bisa bergandengan tangan dengan penuh kegembiraan. Itulah iman kita, karena iman itu adalah suatu bagian yang secara personal, yang secara pribadi membangun kedekatan dengan hati kita dengan Tuhan, tapi di lain pihak juga sama derajatnya bahwa iman itu berkembang dalam suatu kebersamaan, suatu persekutuan yang menerima kita dan mengatakan kepada kita bahwa anda mendapat anugerah dari Tuhan.” Demikian kata Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang mengawali renungannya dalam kegiatan rekoleksi bersama para politisi dan pejabat publik yang diadakan di Aula Susteran SSPS Belo pada hari Sabtu, 19 Maret 2016.
 
Bapa Uskup menyatakan bahwa seringkali karena sudah terlalu lama bergelut dalam hal-hal yang menentukan dalam kehidupan sosial, kita lalu hampir tidak memiliki suatu suasana dan hasrat untuk melihat dan menyadari bahwa kita sesungguhnya adalah orang-orang yang percaya, orang-orang yang beriman kepada Yesus Kristus. Untuk itulah selama masa prapaskah ini, Gereja katolik di Indonesia dengan persaudaraan seluruh Indonesia berusaha untuk menemukan sesuatu bagian yang menggerakkan seluruh umat katolik Indonesia agar di masa yang khusus ini bisa membangun suatu relasi yang bersih dengan Tuhan dan sesama, suatu semangat kerja yang bersih agar setiap orang boleh mengambil bagian dalam kemurnian yang dibawa oleh wafat Yesus Kristus.
 
Sehubungan dengan Aksi Puasa Pembangunan tahun ini: Keluarga Katolik dan Semangat Hidup Pantang Menyerah, Mgr. Petrus menjelaskan, ”Kita memang selalu akan mengalami tantangan dalam pekerjaan, bahkan menderita dalam pekerjaan. Wafat Tuhan Yesus tidak melepaskan kita dari itu semua, tetapi dalam tantangan, kesulitan dan penderitaan itu, Yesus ada di sana. Itu yang harus menguatkan kita, karena Dia ada di sana, ada di dalam perjuangan kita sebagai orang-orang yang secara publik dipercaya oleh publik untuk mengembangkan dunia dan mensejahterakan masyarakat kita.”
 
Lebih lanjut Bapa Uskup menyatakan, “Kita harus berdiri teguh dalam tantangan, di tengah perbantahan, di tengah konflik, karena Tuhan hadir di situ, Dia akan membuat anda berharga bukan karena apa yang anda miliki, tetapi karena anda hadir sebagai sesama di dunia ini. Itulah suatu keadaan, suatu lingkungan di mana kita bisa menemukan apa yang disebut belas kasih. Kepercayaan kepada Yesus Kristus membuka hati kita, menggerakkan hati kita, terutama dalam Tahun Yubileum Kerahiman ini untuk berani menerima belas kasih. Dan kerelaan untuk menemukan dan menerima belas kasih itu harus dimulai terutama dalam keluarga, karena keluarga adalah tempat yang paling pertama, tempat yang paling sensitif untuk mengalami kerahiman.”
 
Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Agung Kupang ini, Bapa Uskup juga mengajak setiap orang, teristimewah para politisi katolik agar dalam segala macam situasi tepap ingat akan anugerah intrisik sebagai orang-orang yang beriman kristiani. Kesadaran ini, akan membuat setiap orang mampu membaca tanda-tanda zaman dan tetap menjadi pribadi-pribadi yang sanggup berbicara tentang kebenaran dan kebaikan kepada orang lain serta terlibat untuk membangun tata dunia yang lebih baik. “Keterlibatan anda bukan terutama tergantung pada duit atau kesempatan yang anda peroleh, tetapi tergantung pada kebaikan hati, keterbukaan hati untuk melihat, merasakan dan berbuat sesuatu bagi sesama,” ungkap Bapa Uskup.
 
Menutup renungannya, Mgr. Petrus mengingatkan, “Kita dipanggil untuk menjadi pelaku dari belas kasih dengan berbagi kebaikan karena Tuhan telah terlebih dahulu berbelas kasih kepada kita.”
 
Setelah mendengarkan renungan dari Bapa Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, para peserta rekoleksi pun diberi kesempatan untuk berefleksi bersama dan berbagi pengalaman tentang hidup dan perjuangannya masing-masing, dan diikuti dengan kesempatan untuk mengaku secara pribadi, sebagai tanda kerelaan untuk bertoba, membaharui diri dan menyiapkan diri menyambut perayaan Paskah. Seluruh rangkaian kegiatan rekoleksi bersama para politisi dan pejabat publik ini kemudian diakhiri dengan acara santap siang bersama.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Beato Yohanes Gabriel Perboyre, Martir

Ketika masih kanak – kanak, Yohanes sudah terbiasa dengan kerja keras. Ia biasa membantu ayahnya menggembalakan ternak – ternak mereka di padang. Pada umur 8 tahun, ia masuk sekolah atas ijin ayahnya. Kemudian ia mengikuti pendidikan imam di seminari menengah.

Renungan Harian

Salib Adalah Tanda Kerahiman Allah

Jumat, 14 September 2018 - Pesta Salib Suci
Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.
BcO Gal. 2:19-3:7,13-14; 6:14-18 Est. 1:1-3,9-16,19; 2:5-10,16-17.

Hari ini Gereja Katolik merayakan pesta Salib Suci. Secara liturgis, Pesta ini dirayakan di dalam Gereja Katolik untuk mengenang penemuan Salib Yesus oleh St. Helena, ibunda dari Kaisar Konstantinus pada tanggal 18 Agustus 320.