Keluarga Ekologis: Melihat Lingkungan Sebagai Anugerah Allah

“Berbicara tentang ekologi dalam perspektif Gereja, adalah berbicara tentang bagaimana Kristus memandang dunia, hadir di tengah dunia dan berkarya di dalam dunia.” Demikian disampaikan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang di awal renungannya pada kegiatan rekoleksi prapaskah tahun 2017 bagi kelompok-kelompok kategorial dalam wilayah Keuskupan Agung Kupang, yang berlangsung pada Jumat, 17 Maret 2017. Dalam kesempatan ini, Bapa Uskup secara khusus mengajak semua peserta untuk di dalam terang tema Aksi Puasa Pembangunan tahun 2017, ‘Keluarga Berwawasan Ekologis’, bersama-sama merefleksikan tentang tanggung jawab keluarga di dalam menanggapi fenomena kerusakan ekologis yang secara langsung juga membawa imbasnya bagi kehidupan umat manusia.
 
Di hadapan 300-an peserta rekoleksi yang memadati aula paroki santo Yoseph Naikoten, bapa uskup mengajak semua pihak untuk lebih dahulu menyadari bahwa berbicara tentang ekologi, bukan hanya menyangkut soal pertanian, peternakan, tetapi mencakup seluruh lingkungan kehidupan dan termasuk di dalamnya adalah relasi antara manusia dengan Allah sebagai pencipta, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Maka persoalan ekologis menyangkut di dalamnya persoalan tentang relasi manusia dengan semua yang ada di sekitar dirinya.
 
Dari sinilah nampak nyata bahwa banyak masalah ekologis terjadi karena rusaknya ekosistem yang disebabkan oleh ulah manusia. Misalnya ketidakmampuan manusia di dalam melihat lingkungan kehidupannya sebagai sebuah anugerah yang pada gilirannya memunculkan tindakan pemanfaatan hasil-hasil alam secara tidak bertanggungjawab sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem yang ada. Karena itu menjadi tugas dan panggilan manusia pula untuk membangun sebuah budaya baru, budaya peduli ekologis, yang kiranya dimulai di dalam hidup keluarga-keluarga.
 
Keluarga harus membangun budaya peduli ekologi dari kerjanya, yakni dengan mengelola secara baik lingkungannya agar bisa memberikan dampak yang baik bagi hidup manusia dan bagi lingkungannya. Dan salah satu hal yang bisa dilakukan adalah dengan menanam. “Tanam, selain berguna untuk memperindah alam, dia bisa juga mempersiapkan sebuah kehidupan yang berkelanjutan,” tegas Mgr. Petrus.
 
Lebih lanjut, bapa uskup mengingatkan setiap keluarga untuk senantiasa melakukan pendidikan ekologis. “Keluarga yang melakukan suatu pendidikan ekologis yang benar, dia akan mengalami hidup yang baik, nyaman, aman dan damai. Hasil dari pendidikan ekologi yang benar dalam keluarga adalah anak-anak kita bisa berkembang secara ekologis, yakni mampu menempatkan diri dalam lingkungan yang lebih luas, menjadi pribadi yang baik, menjadi pribadi yang peduli bukan hanya pada manusia, tapi juga pada lingkungan di sekitarnya,” ungkap Bapa Uskup.
 
Menutup renungannya, Bapa uskup kembali mengingatkan bahwa hal pertama yang harus dilakukan oleh setiap pribadi yang ekologis adalah berani keluar dari diri sendiri untuk bisa berjumpa dengan orang lain dalam lingkungan kehidupannya dan dari situlah setiap orang akan tergerak untuk berbagi dengan belajar dari cara hidup Kristus sendiri. “Sabda adalah anugerah, sesama adalah anugerah, alam ciptaan adalah anugerah yang dipanggil oleh anugerah istimewah yakni Yesus Kristus. Dari-Nya kita belajar untuk menjadi manusia baru yang berkarya di dunia dalam nama Yesus Kristus.”***

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.