Kamu harus memberi mereka makan!

Bacaan: 

Selasa, 8 Januari 2019
1Yoh. 4:7-10; Mzm. 72:2,3-4ab,7-8; Mrk. 6:34-44.
BcO Yes. 62:1-12.
warna liturgi PutihPetrus Tomas

Injil hari ini memperlihatkan bagaimana Tuhan Yesus dalam pelayananNya tidak pernah melupakan kebutuhan manusia terhadap makanan atau roti. Ia memberikan makanan kepada lima ribu orang yang kelaparan, dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan. Tentu kisah injil ini telah sangat akrab di telinga kita, namun pertanyaan yang muncul adalah: Apa yang bisa kita simak dari peristiwa Tuhan Yesus memberikan makan pada lima ribu orang dengan lima ketul roti dan dua ekor ikan? Apakah kita hanya terpesona dengan kekuasaan Yesus yang bisa melipat gandakan lima ketul roti dan dua ekor ikan dan kemudian melupakan aspek lain yang lebih penting? Sebab sejatinya dalam kisah ini yang terjadi bukan sekedar perubahan roti dan ikan tapi juga perubahan hati.

Kisah injil yang kita renungkan malam ini diawali dengan tergeraknya hati Yesus oleh belas kasihan ketika melihat sejumlah besar orang yang seakan tanpa gembala. Belas kasihan itu lalu menggerakkan Yesus untuk melayani mereka, untuk mengajar mereka tentang begitu banyak hal. Namun kemudian muncul sebuah soal, di mana kegelisahan mulai menyelimuti pikiran para murid tentang orang banyak itu. Hari sudah menjelang malam dan tentulah orang banyak ini butuh makanan. Maka para murid pun mengusulkan kepada Yesus agar orang banyak itu pergi mencari makanan mereka masing-masing. “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.” Tentu kita bisa memahami apa yang menjadi kegelisahan para murid ini. Mereka sedang berada di tempat yang sepi dan jauh dari pasar, serta hari sudah senja. Apalagi pada zaman itu, tidaklah mudah untuk menemukan warung makanan di sekitar mereka.

Rupanya apa yang diusulkan para murid ini tidak sejalan dengan pemikiran Yesus. Yesus justru menantang para murid-Nya dengan menyuruh para murid untuk memberi orang banyak tersebut makan. Suatu hal yang rasanya tidak mungkin para murid lakukan. Namun dari sikap Yesus yang berbeda dari pemikiran para murid-Nya, kita bisa menemukan adanya cara pandang yang yang luar biasa dari Yesus dalam menghadapi situasi ini. Jika para murid seakan mendahulukan perhitungan ekonomis maka Yesus justru mengutamakan cinta kasih. Jika para murid takut dan cemas dengan situasi yang ada, Yesus justru ingin menangarusutamakan sikap peduli dan rela berbagi di antara orang banyak. Saat para murid lebih melihat pada berapa jumlah yang harus disiapkan, Yesus justru melihat manfaat dan sumber daya yang dipunyai oleh orang banyak sehingga Ia tidak bertanya tentang berapa uang yang harus disiapkan untuk memberi makan orang banyak itu, tetapi ” Berapa banyak roti yang ada padamu”. Yesus melihat adanya potensi luar biasa pada diri orang banyak itu, karena sejatinya sudah menjadi kebiasaan orang Yahudi bahwa setiap kali berpergian mereka akan membawa sebuah keranjang kecil yang berisi roti dan ikan kering yang cukup untuk dirinya sendiri. Karena itulah Yesus ingin agar apa yang dibawa oleh masing-masing pribadi itu bisa menjadi sesuatu yang berdayaguna bagi banyak orang. Jika biasanya orang segan dan malu serta takut mengeluarkan makanan dari keranjangnya masing-masing karena merasa bahwa apa yang dipunyainya hanya cukup untuk diri sendiri dan kemudian tidak mau terbuka untuk berbagi dengan sesama, Yesus justru ingin menunjukkan hal yang sebaliknya. Yesus seakan ingin membangkitkan kembali semangat solidaritas orang beriman, semangat gotong royong yang seharusnya menjadi ciri khas manusia.

Di sini kita tak menyangkali bahwa Tuhan Yesus punya kuasa untuk menjadikan lima ketul roti dan dua ekor ikan untuk mengatasi makanan. Tapi kemungkinan itu tak dilakukan oleh Yesus sebagaimana Tuhan Yesus menolak untuk menjadikan batu menjadi roti ketika ia lapar di padang belantara. Apakah artinya kalau Yesus hanya mengubah lima ketul roti dan dua ekor ikan berlipat ganda tetapi hati para muridnya dan orang banyak itu tidak berubah alias tetap egois, tak mau berbagi hidup dengan sesamanya?

Karena itu, yang terjadi dalam peristiwa ini bukan sekedar berubahnya lima ketul menjadi ribuan ketul roti semata, tapi juga perubahan hati para murid dan dalam diri orang banyak. Dari pribadi yang takut dan hanya mementingkan diri sendiri, menjadi orang orang yang mau sadar akan kemampuan dirinya sehingga tergerak untuk peduli dan rela berbagi dengan sesama. Yesus ingin menunjukkan bahwa Roti tidak perlu ditimbun di tengah krisis pangan, tapi roti harus dibagi. Pertobatan dan mujizad inilah yang terjadi dalam kehidupan orang banyak dari zaman ke zaman, sehingga permintaan Yesus kepada para murid, ”Kamu harus memberi mereka makan!”, menjadi juga perintah Yesus bagi semua manusia di segala zaman, termasuk bagi kita yang hidup di dunia dewasa ini.

Yesus menghendaki agar kita meneladani cara pandang Dia yang mau peduli, mau berbelaskasih dan rela berbagi kehidupan dengan manusia. Sebab dari apa yang kita terima kita hanya akan menghidupi diri sendiri, tetapi dari apa yang kita bagikan kita bisa menghidupi semakin banyak orang. Segala daya dan potensi diri yang kita punyai sejatinya bukan untuk ditahan demi mencari keuntungan bagi diri sendiri saja, tetapi ia adalah sarana bagi kita untuk berbagi hidup dengan orang lain. Itulah cara untuk mengungkapkan iman pada Yesus Sang Roti Kehidupan di zaman ini. Dan karena itu, yakinlah bahwa saat kita mau mengasihi, mau peduli dan berbagi kehidupan maka Tuhan akan memberkati dan melipatgandakannya, sebagaimana Yesus memberkati lima roti dan dua ikan sehingga sanggup mengenyangkan lima ribu orang, bahkan sampai tersisa duabelas bakul. Amin.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Santo Paus Leo Agung

Santo Paus Leo I adalah Paus ke-45 dalam sejarah Gereja Katolik. Ia merupakan yang pertama dari 4 orang Paus yang dianugerahi gelar "Agung" (the Great).

Renungan Harian

Allah Adalah Bapa Yang Berbelas Kasih

Sabtu, 23 Maret 2019
Turibius dr Mogrovejo
Mi. 7:14-15,18-20; Mzm. 103:1-2,3-4,9-10,11-12; Luk. 15:1-3.11-32.
BcO Ul. 32:48-52; 34:1-12.
warna liturgi Ungu

Yesus dalam bacaan Injil hari ini menggambarkan Allah sebagai Bapa yang penuh belaskasih, Bapa yang selalu rela menerima kembali secara penuh anaknya, meski anak itu sebelumnya telah pergi menghambur-hamburkan harta miliknya dengan berfoya-foya.