JALAN SALIB

Jalan salib adalah salah satu devosi dalam tradisi Katolik untuk mengenang dan sekaligus menghadirkan kembali karya keselamatan Allah bagi umat manusia yang secara istimewah hadir melalui peristiwa sengasara dan wafat Yesus. Devosi ini diadakan secara umum di Gereja Katolik pada hari-hari Jumat selama masa Prapaska.
 
Jika dilihat dari sejarahnya, praktek Devosi Jalan Salib sesungguhnya telah berakar lama dalam Gereja Katolik, yang diawali dengan tradisi para peziarah yang mengunjungi Yerusalem. Sejak abad keempat, jaman Kaisar Konstantin, para peziarah telah mempunyai tradisi berdoa merenungkan sengsara Yesus melalui jalan yang sekarang dikenal dengan Via Dolorosa, walaupun pada masa itu belum disebut demikian. Tradisi menyebutkan bahwa setiap hari setelah wafat-Nya, Bunda Maria mengunjungi rute perjalanan sengsara Puteranya Yesus, dari tempat-Nya dihukum mati sampai ke Golgota.  Santo Hieronimus (347-420) juga menyebutkan banyaknya peziarah yang mengunjungi tempat-tempat kudus di Yerusalem pada zamannya. Dari sinilah kita mengetahui bahwa sejak awal telah ada tradisi merenungkan sengsara Kristus yang kita kenal sekarang sebagai Jalan Salib.
 
Namun secara lebih spesifik, devosi jalan Salib ini dihubungkan dengan santo Fransiskus dari Assisi (1182-1226) yang mempunyai dua devosi yang masing-masing dilambangkan dengan buaian dan salib, yaitu Devosi Inkarnasi Yesus dan Devosi Sengsara Yesus. Dari kedua devosi inilah kemudian muncul devosi Jalan Salib sebagaimana yang dikenal saat ini.
 
Setelah kematian st Fransiskus dari Assisi, para biarawan Fransiskan lalu mempopulerkan devosi Jalan Salib ini, dan bahkan merekapun menuliskan lirik Stabat Mater, yang biasanya dinyanyikan saat Ibadat Jalan Salib, baik dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Latin, maupun dalam bahasa setempat. Dan dalam upaya untuk membantu umat untuk berefleksi dan berdoa dalam devosi ini, lalu dibuatlah perhentian-perhentian kecil (berupa gambar ataupun patung) di dalam gereja, kadang-kadang dibangun juga perhentian-perhentian yang besarnya seukuran manusia di luar gereja. Segera saja, hampir semua gereja telah memiliki Perhentian-perhentian Jalan Salib.
 
Seiring dengan perkembangan waktu dan dengan mempertimbangkan berkembangnya pelbagai macam variasi dalam menjalankan devosi ini (terutama dari segi jumlah perhentian/ peristiwa yang mau direnungkan dalam Jalan Salib), maka Paus Clement XII(1730-1740) lalu menetapkan 14 pemberhentian/ stasi pada Jalan Salib. Dan ke-14 pemberhentian inilah yang sampai kini diterapkan oleh Umat Katolik.
 
Ke 14 perhentian Jalan Salib yang telah disetujui oleh pihak otoritas Gereja Katolik adalah:
1.      Yesus dijatuhi hukuman mati
2.      Yesus memikul salib ke gunung Golgotha
3.      Yesus jatuh untuk pertama kalinya
4.      Yesus berjumpa dengan Bunda Maria, Ibu-Nya
5.      Simon dari Kirene membantu memikul salib Yesus
6.      Veronika mengusap wajah Yesus
7.      Yesus jatuh untuk yang kedua kalinya
8.      Yesus menghibur wanita-wanita yang menangis
9.      Yesus jatuh untuk ketiga kalinya
10.  Pakaian Yesus ditanggalkan
11.  Yesus dipaku pada kayu salib
12.  Yesus wafat di kayu salib
13.  Yesus diturunkan dari kayu salib
14.  Yesus dikuburkan.
 
***Sumber: Catholic Encyclopedia.

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.