Jalan Menuju Pertobatan Itu Selalu Terbuka

Bacaan: 

Selasa, 21 Nopember 2017, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10
BcO Dan 2:1,25-47
warna liturgi Putih

Salah satu ceritera Kitab Suci yang sudah begitu akrab di telinga kita, adalah kisah tentang Zakheus, si Pemungut cukai. Di hadapan orang-orang Yahudi, para pemungut cukai termasuk dalam golongan yang dikatakan sebagai orang-orang berdosa. Keberpihakkan mereka kepada penjajah Roma dengan menarik pajak dari orang sebangsanya, membuat mereka begitu dimusuhi, namun serentak membuat mereka merasa aman saat mengamankan uang rakyat untuk hal-hal pribadinya. Tidak heran bila golongan masyarakat yang satu ini termasuk dalam kaum elite bangsa Yahudi dan biasanya merupakan orang-orang yang kaya raya. Zakheus juga terdaftar dalam lingkaran manusia dari kelompok ini.
 
Walaupun dianggap sebagai salah satu anggota kelompok yang paling berdosa dalam masyarakat Yahudi, ternyata ada hal yang menarik pada pribadi Zakheus, sang kepala pem,ungut cukai ini. Ia rupanya mempunyai rasa ingin tahu yang begitu kuat tentang siapakah Yesus itu? Bahkan karena saking kuatnya keinginan untuk melihat Yesus, ia tidak segan-segan memanjat pohon ara hanya untuk memenuhi keingintahuannya itu. Mungkin adalah hal yang cukup aneh bagi kita untuk membayangkan, bagaimana seorang kaya raya dan serentak pejabat publik seperti Zakheus, rela memanjat pohon ara hanya untuk melihat Yesus. Ada kemungkinan bahwa ia justru akan mendapat ejekan saat tingkahnya ini dilihat dan diketahui orang banyak yang mengerumuni Yesus.
 
Tetapi sejatinya, bila kita mau mendalaminya lebih jauh, apa yang diperbuat Zakheus sudah menunjukkan adanya kekuatan dari dalam dirinya yang menggebu-gebu, untuk segera mendapatkan jawaban tentang ‘siapakah Yesus itu?’. Hal inilah yang kemudian memotivasi dirinya, bahkan sampai melakukan hal yang di luar kebiasaan. Di sini kita dapat melihat bagaimana kuatnya keinginan Zakheus untuk berjumpa dengan Yesus. Sebuah keinginan yang kemudian dijawabn oleh Yesus, bukan hanya dengan sekedar kerelaan untuk berjumpa dengan Zakheus, tetapi juga untuk menumpang di rumahnya. “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”
 
Berkat pertemuannya dengan Yesus, motivasi awal yang hanya untuk tahu siapakah Yesus itu kian diperdalam. Zakheus bukan sekedar melihat Yesus dan kemudian selesai tetapi ada kelanjutannya. Kerelaannya untuk sesegera mungkin turun dari pohon ara dan membiarkan Yesus menumpang di rumahnya, sudah menjadi tanda bahwa ia mau mengenal dan mencintai Yesus apa adanya. Ia tidak lagi bersembunyi di balik kedosaannya saat menjumpai Yesus. Pengalaman kejatuhannya dalam dosa, yang disertai dengan anggapan-anggapan negatif kaum sebangsanya seakan-akan luntur, tidak berkutik sedikitpun saat Yesus menyapanya. Pengalaman disapa oleh Yesus dirasa begitu menyentuh hati nuraninya, sehingga ia siap untuk diubah. Seakan-akan, ia berkata : inilah aku Tuhan, apa adanya. Silahkan Engkau menilai dan membuat diriku seperti yang Engkau kehendaki.
 
Penginjil Lukas melukiskan secara mengagumkan pengalaman rohani Zakheus yang luar biasa ini. Di mana sebagai pendosa yang mendapat sapaan dan kunjungan khusus dari Yesus, Zakheus mendapatkan suatu pengalaman yang menggugah, pengalaman yang pada akhirnya melahirkan suatu sikap baru yakni pertobatan yang terungkap dalam apa yang disampaikannya, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”
 
Nampak di sini bahwa kendati reputasinya dianggap ”jahat” di kalangan masyarakat sebangsanya, Zakheus justru adalah pribadi yang menarik. Hal ini nampak dalam perjumpaannya dengan Yesus, di mana ternyata ia juga adalah seorang yang rendah hati, dan dengan jujur mengakui kelemahan dirinya. Meskipun ia seorang pejabat publik yang penting, namun kedudukannya itu tidak menghalangi dia untuk memanjat sebatang pohon demi melihat Yesus, dan juga tidak menghalangi dia untuk mengakui kedosaannya dan kemudian melakukan pertobatan. Karena itulah, Yesus lalu mengatakan, “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”
 
Kisah tentang pertobatan Zakheus merupakan pembelajaran bagi hidup kita, yang menunjukkan bahwa jalan menuju pertobatan itu selalu terbuka, karena Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang. Jadi melalui peristiwa pertobatan Zakheus ini, Yesus mau menunjukkan betapa Ia selalu berbela rasa kepada semua orang, terutama orang yang mau membuka diri kepada-Nya, mau untuk berjumpa secara pribadi dengan-Nya dan kemudian mau berbenah agar menjadi manusia-manusia yang semakin berkenan di hadirat Allah.
 
Dan selanjutnya, dari Yesus yang hadir di dunia bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan, kita belajar agar kehadiran kita pun bisa menjadi penyalur rahmat keselamatan Allah bagi sesama. Kita adalah utusan-utusan Tuhan untuk menyampaikan kabar gembira kepada dunia kita. Dan serentak Yesus seakan ingin mengatakan bahwa seseorang hendaknya jangan dikucilkan karena kegagalannya, kelemahan ataupun kekeliruannya, melainkan harus dibantu untuk menemukan jalannya kembali kepada kebenaran, kepada Allah yang mengasihi semua manusia, sebagaimana kasih Yesus terhadap Zakheus telah membangkitkan kemungkinan baru bagi Zakheus untuk bertobat. Dan karenanya, sebelum kita berlaku sebagai seorang utusan, terlebih dahulu marilah kita berusaha mengenal Tuhan yang kita imani, agar kita pun bisa menjadi pribadi yang semakin rendah hati dan semakin menyelaraskan hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. Amin.
 

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Mari Membangun Dunia Baru Yang Harmonis

Selasa, 5 Desember 2017,
Filipus Rinaldi, Bartolomeus Fanti, Sabas
Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24
BcO Yes 2:6-22; 4:2-6
warna liturgi Ungu

Rencana keselamatan terus menerus disampaikan Tuhan kepada umat-Nya.