Iman Yang Bertumbuh Bagai Biji Sesawi

Bacaan: 

Minggu, 17 Juni 2018
Hari Minggu Biasa XI (H). E KemSyah.
BcE Yeh. 17:22-24;
Mzm. 92:2-3,13-14,15-16; 2Kor. 5:6-10;
Mrk. 4:26-34.
O AllTuh.
BcO Yes. 44:12 - 45:3.

Ungkapan “Kerajaan Allah” seringkali kita jumpaidalam Injil Markus dan Lukas. Ungkapan ini sejatinya bukanlahmenunjuk pada suatuwilayah atau pemerintahan, melainkan menunjuk pada kebesaran, kemuliaan, kekuasaan Tuhan yang diberitakan kedatangannya kepada umat manusia. Penggunaan ungkapan ini tentulah tidak terlepas dari konteks yang terjadi pada saat injil Markus dan Lukas ditulis. Maklum pada zaman itu orang Yahudi mengalami pelbagai kekuasaan yang amat berbeda dengan masa lampau mereka sendiri sebagai umatkepunyaan Tuhan. Pada zaman Yesus mereka tidak lagi bisa menganggap diri sebagai umat yang merdeka sebagaimana leluhur mereka, karena saat itu mereka berada di bawah kekuasaanRomawi.
 
Dalam situasi yang demikian, dikalangan umat ada harapan bahwa suatu ketika nanti mereka akan kembali menjadi umat Tuhan seperti leluhurnya. Tak jarang harapan ini berujung pada keinginan untuk merdeka dari kekuasaan Romawi dan menjadi negeri dengan pemerintahan dan kekuasaan sendiri. Namun cukup jelas harapan seperti ini tidak bakal dengan mudah terwujud.
 
Selain harapan kemerdekaan secara politis, ada pula bentuk rohani dari harapan akan kembali menjadi umatkepunyaanTuhan. Dan Yesus rupanya termasuk kalangan yang mengajarkan bentuk rohani dari harapan ini. Begitu pula para rahib yang juga dikenal pada zaman itu. Namun kebanyakan dari mereka menghayati harapan itu dengan menjauh dari kehidupan ramai dan pergi bertapa di padang gurun dan sekitar Laut Mati. Namun kelompok Yesus berbeda. Mereka tetap berada dalam masyarakat namun berusaha menumbuhkan iman akan kebesaran Tuhan dalam kehidupan mereka. Mereka yakin bahwa kebesaran-Nya tetap ada, juga di dunia ini, namun sering sukar dialami. Bagaimanapun juga mereka berusaha menemukan apa itu kehadiran Tuhan yang mulia di dalam kehidupan mereka. Yakni kehadiranTuhan yang diyakinisebagai yang dekat, yang melindungi dan memberi kekuatan dari hari ke hari, yang tidak menghitung-hitung kedosaan melainkan bersikap pengampun.
 
Inilah warta yang digambarkan dengan pelbagai macam perumpamaan dalam keempta penginjil, termasuk juga yang kita bacakan pada hari ini. Menurut penginjil Markus, Yesus mulai tampil di Galiea dengan warta bahwa Kerajaan Allah sudah dekat dan orang-orang diajak untuk bertobat, yakni meninggalkan anggapan yang keliru tentang Tuhandan memegang warta yang sejati dengan mempercayaidiri-Nya sebagai warta gembira.
 
Injil hari ini menampilkan dua perumpamaan. Pada perumpamaan yang pertama dalam kisah Injil hari ini, Yesus menggambarkan bahwa pertumbuhan Kerajaan Allah itu sepertibiji yang ditaburkan dan dibiarkan bertunas, tumbuh hingga berbuah dan dituai pada musimnya. Perumpamaan ini tidaklahdipahami sebagai penjelasan bahwa Kerajaan Allah itu butuh waktu untuk tumbuh sampai akhirnyaberbuah. Itu memang bukan pendapat yang keliru, yang terutama mau ditonjolkan dalam perumpamaan ini ialah kuasa ilahi yang tidak bergantung pada upaya manusia, suatu ajaran agar orang membiarkan kehadiran ilahi ini bergerak menurut iramanya sendiri.
 
Pada perumpamaan kedua, Yesus mengumpamakan Kerajaan Allah dengan biji sesawi, yang disebut biji terkecil dari segala jenis biji, tapi bila ditabur – tentunya di tanah yang cocok – dan bertumbuh akan menjadi besar sehingga burung-burung di udara dapat membuat sarang di dahan-dahannya dan bernaung di situ. Yang hendak disampaikan di sini kiranya ialah besarnya Kerajaan Allah sendiri yang tak terduga-duga sebelumnya. Dari yang paling kecil tumbuhlah yang sedemikian besar.
 
Mungkin banyak orang tergugah untuk tanya,biji apakah biji sesawi itu? Orang tergugah rasa ingin tahu. Bisadikatakan, zaman itu juga orang tidak tahu persis apa biji sesawi yang dibicarakan Yesus. Bahkan Yesus sendiri pun bisa jadi tak pernah melihat apa itu biji sesawi. Ungkapan itu dipakai sebagai perumpamaan dan tidak perlu dicari-cari apa padanannya dalam dunia pengetahuan tumbuh-tumbuhan! Keheranan, ketakjelasan mengenai apa itu biji yang dimaksud justru menjadi bagian dari wartanya. Kerajaan Allah tetap menjadi misteri, namun pertumbuhannya nyata dan lingkupnya amat besar serta tak terduga-duga. Dan karenanya, setiap orang dihimbau untuk menjadi seperti burung di udara, yang membangun sarang dan bernaung padanya.
 
Bagaimanakah sabda Tuhan hari ini berbicara bagi hidup kita? Dalam kehidupan sekarang ini, banyak sekali kita jumpai orang yang menginginkan sukses secara instan. Yang penting mereka segera sukses, tenar, dan terkenal. Namun ketika seseorang sukses, ada kalanya mereka lupa akan Tuhan. Sebenarnya, ingin menjadi sukses itu bukanlah hal yang salah. Hanya saja, sangat sedikit orang yang menyadari bahwa semuanya itu membutuhkan proses. Orang-orang cenderung tidak sabar. Mereka ingin segalanya serba cepat. Karenanya, yang ingin diajarkan Yesus pada kita adalah sebuah proses iman. Imanyang terus bertumbuhdari waktu ke waktu, iman yang senatiasa mengalami proses pematangan sehingga pada akhirnya ia dapat berbuah. Dan dalam proses pertumbuhan iman inilah, karya Tuhan akan senatiasa menuntun, menyertai dan menunjukkan pengaruhnya asalkan manusia mau menjadikan dirinya sebagai lahan yang subur bagi pertumbuhan benih iman itu.
 
Memang seringkali dirasa bahwa pertumbuhan benih iman yang ditanamkan dalam hidup kita, seakan-akan kurang kelihatan, tetapi dia akan selalu akan mendatangkan suatu pengaruh baik bagi hidup dan karya kita itu mulanya hanya kecil seperti biji sesawi. Karena itu kita hendaklah perlu menyadari bahwa cara-cara Allah seringkali merupakan suatu kejutan bagi kita dan yang kita butuhkan di sana adalah iman, pengharapan dan kasih, rasa percaya pada hikmat-kebijaksanaan dan kuasa yang datang hanya dari Dia. Sehingga iman kita bisa bertumbuh menjadi besar, kokoh-kuat dan berguna bagi orang lain.Dan wujudnyata dari iman yang berbuah itu kita tunjukkan dalam bagaimana kita membangun hidup yang penuh kasih persaudaraan, hidup yang penuh dengan damai sebagai gambaran nyata kehadiran Kerajaan Allah di dalam hidup kita. Amin.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Beato Innosensius XI, Paus

Benedetto Odescalchi -demikian nama Innosensius- lahir di Como, Italia pada tanggal 19 Mei 1611. Masa pontifikatnya (1676-1689) ditandai dengan suatu perjuangan panjang lagi berat melawan campur tangan Raja Louis XIV dari Prancis (1643-1715) dalam urusan-urusan Gereja.

Renungan Harian

Mari Menjadi Saudara Yang Baik Dan Benar

Rabu, 15 Agustus 2018 - Hari Biasa
Yeh. 9:1-7; 10:18-22; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:15-20.
BcO Za. 10:3-11:3.
warna liturgi Hijau

Saling mengoreksi seringkali menjadi hal yang tidak mudah. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidakpedulian, atau juga karena ada keengganan satu terhadap yang sama lain .