Hendaklah Kamu Menjadi Pelayan Yesus Kristus Yang Baik

Bertempat di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang pada pukul 09.00, Yang Mulia Uskup agung Kupang, Mgr. Petrus Turang, memimpin perayaan Misa Pontifical. Dalam kotbahnya pada perayaan yang dilaksanakan untuk mengenangkan lahirnya martabat imamat dalam Gereja ini, Uskup Turang mengajak para imam untuk kembali merefleksikan tentang karya pelayanan yang dipercayakan kepada para imam agar karya pelayanan yang dijalankan sungguh sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah.
 
“Hendaklah kamu menjadi pelayan Yesus Kristus yang baik. Terdidik dalam pokok-pokok iman dan dalam ajaran yang sehat. Kalimat ini memang cocok untuk kita para imam, menjadi pelayan-pelayan Kristus yang baik.” Ungkap Uskup Turang.
 
Menurut Uskup yang ditahbiskan pada 27 Juli 1997 ini, salah satu cara agar para imam bisa menjadi pelayan Kristus yang baik, adalah dengan mengarahkan hati kepada Salib Kristus agar bias menemukan tanda-tanda datangnya Kerajaan Allah. Karena melalui Salib-Nya, Kristus sejatinya tengah membangun sebuah cara berpikir baru yang memang berbeda dari cara berpikir manusia.
 
“Kristus dengan Dia ditinggikan di Salib, Dia menarik semua orang kepada Diri-Nya. Dia membuat suatu grafitasi surgawi. Jadi semua orang akan jatuh kepada Dia, ke atas bukan ke bawah. Untuk apa? Supaya kita sekalian sebagaimana Kristus yang datang diutus oleh Bapa untuk mewartakan Kerajaan Allah, kita sebagai umat beriman, sebagai pastor-pastor, sebagai pelayan-pelayan, belajar menjadi pelayan Kristus yang baik, dengan cara mewartakan tanda-tanda kedatangan Kerajaan Allah di dunia ini.” Kata Mgr. Petrus.
 
Salah satu sarana yang akan dipakai dalam upaya mewartakan kedatangan Kerajaan Allah dalam pandangan Mgr. Turang adalah minyak-minyak yang akan diberkati dalam perayaan ini. “Minyak ini yang akan diberkati memang kita pakai untuk menyatakan tanda-tanda itu, karena di situlah kita sebenarnya bertemu dengan Yesus yang tersalib. Dia disalibkan karena Dia mewartakan Kerajaan Allah, di mana semua orang menjadi sederajat, semua orang mempunyai satu kemungkinan untuk ikut dengan kemuliaan dari Yesus Kristus. Imam-imam menjadi pelayan Kristus yang baik kalau dia selalu taat untuk mencari dan menemukan dalam perjuangan hidup manusia di dunia ini tanda-tanda Kerajaan Allah. Itu menjadi suatu pekerjaan yang paling dasar bagi seorang imam, yaitu menemukan dan membagikan tanda-tanda Kerajaan Allah di dunia ini dalam pelayan yang dipercayakan kepadanya, apapun bentuknya.”
 
Lebih lanjut, agar menjadi pelayan yang bisa menampilkan hadirnya Kerajaan Allah, Bapa Uskup meningatkan para imam untuk menjadi orang yang terdidik dalam pokok-pokok iman dan dalam ajaran yang sehat. “Tapi untuk menjadi pelayan Kristus yang baik, maka dia harus terdidik di dalam pokok-pokok iman. Jadi jangan imam-imam, daikon yang setelah dia ditahbiskan dia tidak pernah belajar, tidak pernah mendalami imannya, sehingga memang dia menjadi kurus kering. Dia tidak punya apa-apa untuk disampaikan kepada dunia, masyarakat yang selalu berubah, berkembang dengan cepat. Karena itu memang tahun ini di keuskupan ini, kita mulai dengan tahun diakonat, supaya mereka sebenarnya sebelum ditahbiskan imam mengerti benar-benar bagaimana itu perkembangan dunia, perkembangan manusia.” Ungkap Mgr. Petrus.
 
Menutup kotbahnya pada perayaan ini, bapa Uskup mengatasnamakan umat Keuskupan agung Kupang mengucapkan terima kasih atas pelayanan yang telah diberikan oleh para imam selama ini. Dan tak lupa beliau juga mengajak para imam untuk kembali membaharui di hadapan uskup dan umat, janji imamat yang telah diucapkan para imam ketika ditahbiskan.
 
Dalam perayaan yang dihadiri oleh para imam yang berkarya di wilayah Keuskupan Agung Kupang, para biarawan-biarawati, dan sejumlah besar umat beriman yang memadati Gereja Katedral Kupang ini, juga dilasanakan pemberkatan minyak-minyak yang akan digunakan dalam karya pelayanan para imam. Minyak-minyak yang diberkati itu adalah minyak orang sakit, minyak katekumen dan minyak krisma.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Beato Innosensius XI, Paus

Benedetto Odescalchi -demikian nama Innosensius- lahir di Como, Italia pada tanggal 19 Mei 1611. Masa pontifikatnya (1676-1689) ditandai dengan suatu perjuangan panjang lagi berat melawan campur tangan Raja Louis XIV dari Prancis (1643-1715) dalam urusan-urusan Gereja.

Renungan Harian

Mari Menjadi Saudara Yang Baik Dan Benar

Rabu, 15 Agustus 2018 - Hari Biasa
Yeh. 9:1-7; 10:18-22; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:15-20.
BcO Za. 10:3-11:3.
warna liturgi Hijau

Saling mengoreksi seringkali menjadi hal yang tidak mudah. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidakpedulian, atau juga karena ada keengganan satu terhadap yang sama lain .