Eden Dari dan Untuk Fratres Pastoral KAK

 
Fratres pastoral Keuskupan Agung Kupang telah melewati hari-hari refleksi belum lama ini. Hari refleksi ini diadakan sejak Selasa – Jumat (06-09/01) bertempat di Wisma Oe’mathonis Camplong.
Para frater pastoral ini berjumlah 34 orang namun yang mengikuti kegiatan tersebut berjumlah 32 orang. Empat orang lainnya mengaku cuaca tidak memungkinkan untuk kehadiran mereka di Kupang. Selasa (06/01/15), fratres pastoral berangkat dari Penginapan Keuskupan Agung Kupang tepat pukul 16.00. Dipimpin oleh Fr Emanuel Je’Emali, mereka baru tiba di Camplong tepat pukul 17.45. Agenda yang ditawarkan pengurus disepakati oleh para frater dan disetujui oleh RD Valens Boy selaku pembimbing ret-ret yakni dua hari pertama digunakan untuk kontemplasi, satu hari menyusul untuk aksi dan hari keempat dinamakan hari rekreasi.  
I
Hari Kontemplasi
Didahului dengan misa pembuka, RD Valens menegaskan dalam kotbahnya bahwa para fratres menyimpan satu kehendak bersama yang baik untuk berkumpul dan terutama memiliki waktu, tidak menyibukkan diri selain bersama-sama mengambil bagian untuk melihat ke arah masa depan dengan penuh iman. “Iman sebagai pasrah tetapi yang dijelaskan karena keputusan-keputusannya dalam keadaan bertemu Tuhan,” ingat RD Valens.
Renungan pertama yang diangkat oleh RD Valens berjudul Menghayati Kehidupan Beriman Dalam Nafas Pentateukh. Tema yang ditilik dari Maz. 1 menunjukkan konsekuensi dari hidup beriman itu sendiri. Jika iman bernafas dari Pentateukh maka hembusan yang dialami ialah kemulaan. Dunia dan alam semesta mengalami permulaannya di dalam Allah. Allah adalah permulaan seluruh alam raya dan manusia. Sebagai permulaan segala sesuatu Allah pun dalam perpektif pilihan-Nya terhadap calon imam, mengungkapkan sentuhan awal. Sentuhan dalam kondisi original, alami atau asali pada saat yang sama menggambarkan kesukarelaan para calon imam mengambil sedapat mungkin keadaan asali di dalam Allah. Hal ini mengandaikan bahwa iman itu bersejarah. Iman mengalami awal mula. Iman diterangi oleh sejarah dan peristiwa-peristiwa yang melingkupinya.
Renungan II yang dilakukan pada hari Rabu (07/01) dibuka melalui ketegasan perbedaan antara wajah penciptaan dan penyelamatan. Bahwasannya formasi penciptaan ternyata menegaskan keperdanaan segala sesuatu. Waktu dan tempat, seisi dari ruang manusia, sejak awal mempunyai permulaan, memiliki keperdanaan. Permulaan dan keperdanaan yang karena Allah sebagai Pencipta mengakibatkan segala-galanya bermula, berasal dan berada. Termasuk manusia. Ketelanjangan dalam Kej. 2:25 mengungkapkan kenyataan asali manusia di hadapan Allah. Horison ketelanjangan yang diberitakan dari formasi penciptaan memperkuat bahkan memperkokoh jantung manusia sebagai yang istimewa dari segala ciptaan. Yang istimewa dari penciptaannya ialah hidup Allah itu hidup pribadi (Cf. Kej. 2:7). Apa yang tegas dialamatkan juga ke dalam situasi khusus yakni dalam keadaan kritis dan krisis, Allah ada bersama dengan manusia. Allah hadir bersama dengannya. Menjemputnya. Bertanya kepadanya. Mencarinya. Menunjukkan belaskasih dan perhatiannya. Allah sekali-kali tidak mengabaikan manusia. Jika ketelanjangan dalam bahasa penciptaan adalah permulaan memang manusia selalu ada di dalam Allah. Dikatakan demikian karena hanya ketelanjangan manusia ditemukan pertanyaan dan jawaban. Allah berbicara dengan manusia pada saat manusia telanjang. Allah mencari manusia pada saat manusia telanjang. Dan Allah mendapat jawaban pada saat yang sama dialami oleh manusia ciptaan-Nya.
Eden yang kontroversial dalam Kej. 2:8-25 direnungkan pada bagian berikut. Dikatakan bahwa Eden tetapi kontroversial memiliki alasan rasionalnya yakni apabila Eden yang Taman Indah dan satu-satunya tempat yang Allah sediakan agar manusia menata hidupnya namun mengapa ditempatkan pula ular dan atau Pohon Kehidupan dan Pohon Pengetahuan tentang yang jahat dan yang baik? Mengapa jikalau Allah menghendaki manusia memelihara keutuhan Eden tetapi ketidakutuhan ‘Eden’ pun dibuka oleh Allah? Mengapa Allah yang sempurna dalam diri manusia itu mendapati ketidaksempurnaannya di dalam Allah? Mengapa di dalam yang sempurna memiliki ruang ketidaksempurnaan?
Selibat adalah Eden yang berpotensi kejatuhan. Inilah tema yang dipilih dalam Renungan III. Selibat itu panggilan dan perutusan. Selibat melekat, dan satu-satunya tanda dari panggilan Allah kepada manusia. Selibat bagi seorang imam adalah disiplin suci, utuh dan persembahan diri yang total kepada Tuhan dan sesama. Selibat berpotensi kejatuhan bukan karena prakondisi menjadi alasan panggilan seorang imam melainkan karena pembinaan relasi dengan Allah menghendaki kerendahan hati, ketekunan dalam pelayanan dan sukacita terus-menerus secara rohani. Kunci-kunci ini adalah mahal harganya, walau hati manusia senantiasa ingin meraba-raba dan mencari-cari, tetap tidak bisa melebihi organ vital selibat yakni transenden dan imanen, Ilahi dan insani, surga dan dunia.
Renungan IV dipusatkan pada panggilan Abraham untuk keluar dari negerinya ke tempat yang akan diberikan Tuhan Allah kepadanya. Di sinilah formasi penyelamatan Allah kepada manusia dimulai. Abraham keluar. Oleh Tuhan Allah yang secara pribadi memanggilnya Abraham turut, Abraham laksana daun bunga yang dipolesi embun saat fajar belum merekah. Abraham pergi, berangkat. Abraham tidak bertanya-tanya. Abraham tidak seolah-olah tidak mengenal Allah maka ia pergi. Abraham pergi karena yang memanggilnya adalah Allah sendiri. Gambaran Abraham adalah fondasi beriman orang-orang terpanggil. Jika demikian, menjadi orang-orang terpanggil adalah menjadi orang beriman sejati.
II
Hari Aksi
Hari Aksi (Kamis, 09/01) dimulai jam 08.00. Para frater yang terbagi ke dalam tiga kelompok yakni calon imam diosesan Tahun II, Tahun I dan calon imam Karisma masing-masing membawa dari medan pastoral mereka apa yang hendak dibagi. Umumnya, mereka menemukan warna dan kebhinekaan mewarnai kegiatan pastoralnya. Di sini, saling belajar adalah pilihan yang baik sebab perbedaan hanya menghendaki kita agar mengasa kemampuan dan totalitas diri agar bersedia menerima orang lain. Tahun I dibuka oleh Frater Marsel, toper Katedral Kristus Raja Kupang. Ia mengisahkan bahwa medan pastoral dan pengalaman setengah tahun membuatnya betah dan nyaman. Bahwasannya, apa yang dilakukan selalu merupakan tuntutan seorang calon imam. Ia pun belajar untuk mendengarkan dan mengikuti perintah para romo, dan belajar untuk tertib waktu dan disiplin berpakaian. Sementara menurut Frater Marsel Mandut atau yang dibiasa disapa Fr Cay, toper Sta Maria Mater Dei Oepoli, mengisahkan bahwa medan yang sulit, jalan yang berliku, dan dusun yang jauh merupakan warna panggilannya yang istimewa. Medan yang sulit dijangkau dengan transportasi darat itu memang terkadang cukup mengganggu pewartaan dan pelayanan pastoralnya tetapi ia tidak mengalami kesulitan yang jauh lebih berarti dari itu sebab keadaan gembira selalu menyelimutinya.  
Misa penutupan menutup ret-ret formal, RD Valens dalam kotbahnya memotivasi para frater untuk berani mengalami medan pastoral sebagai masa-masa yang paling indah. “Masa TOP adalah masa paling indah. Anda memang berjalan dalam struktur tetapi pada kesempatan yang sama di luar struktur. Anda menyatu dalam warna dari semua yang terjadi dengan umat. Kompleksitas dan simplisitas persoalan kelak mengukuhkan Anda sebagai agen orientasi pastoral. Anda belum pastor tetapi Anda mau jadi pastor,” tegas pembina Seminari Tinggi St Mikhael Penfui ini.
III
Hari Rekreasi
Setelah menepi sejenak, para frater ingin memperpanjang kebersamaan dengan mengunjungi pantai Kolabano dan Oetune. Jumat (10/01) jam 08.30 mereka berangkat ke Kolbano. Pada jam 10.30 mereka singgah di Paroki St Theresia dari Kanak-Kanak Yesus Panite memberi salam kepada RP Willem Laga Udjan dan RD Bento Usnaat. Perjalanan dilanjutkan dengan menyinggahi pantai Kolbano untuk bergambar dan menikmati kerikil pantai yang indah dan menawan. Sasaran terakhir para frater ialah pantai Oetune. Bibir pantai yang berpasir, gelombang yang tinggi dan biru laut dari kejauhan menjatuhkan rindu yang tidak ada duanya. Mereka menikmati makan siang dan berpose sampai puas sepanjang hari itu. Kebersamaan kali ini menunjukkan antuasiasme dan motivasi terhadap masing-masing frater untuk setia dan taat menjalani segala proses yang ada di medan pastoral masing-masing. Mereka pun membawa ke medan TOP masing-masing buah batin dan hati yang sunyi dan bening untuk pewartaan. (Fr Deo Parera/Toper Yaswari-Kupang)  

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.