Dengarkanlah Suara Tuhan!

Bacaan: 

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan. Dalam situasi seperti itu, ketika kita tidak hanya merasa kesal tetapi nyaris putus asa. Dalam situasi yang demikian, seringkali kita pun menjadi kurang sadar ketika Tuhan datang menghampiri, entah melalui ide atau inspirasi yang tiba-tiba muncul atau mungkin melalui orang lain yang memberikan nasihat kepada kita. Bisa jadi, orang tersebut lebih muda dari kita dan kita anggap kurang berpengalaman sehingga kita meragukannya. Tapi jangan salah, Tuhan justru seringkali memakai orang yang kecil dan sederhana untuk menyatakan rahasia-Nya.
 
Pengalam seperti inilah yang dialami oleh Petrus dan teman-temannya. Sebagai nelayan, Petrus dan teman-temannya tentu menjadi orang-orang yang sangat paham tentang bagaimana caranya menangkap ikan, dan tentulah mereka mengerahkan semua yang menjadi keahlian mereka sebagai nelayan, namun rupanya nasib baik belum memihak kepada mereka. Tidak seekorpun ikan yang berhasil mereka dapatkan setelah semalam suntuk bekerja. Dan dalam situasi yang seperti itu muncullah Yesus yang berkata, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Karena itu tidaklah mengherankan kalau Petruspun pada mulanya seakan protes dengan berkata, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa.” Bagi Petrus, Yesus itu bukan nelayan tetapi tukang kayu, masak memberi nasihat tentang menangkap ikan kepada dirinya yang berprofesi sebagai nelayan. Namun, ketika Petrus mau mendengarkan dan melaksanakan, ternyata hasilnya luar biasa. Ia menangkap sejumlah besar ikan sehingga ia harus mengajak teman-temannya untuk bekerjasama menarik jalanya dan mengisi perahu-perahu mereka (Luk 4:6-7).
 
Menghadapi itu semua, Yesus yang semula ia kenal sebagai anak tukang kayu dan seorang guru yang mengajar (Luk 4:5), kini dikenalnya sebagai Tuhan (Luk 4:8). Ketika Yesus disebutnya sebagai Guru, Petrus menuruti perintah-Nya (Luk 4:5), apalagi setelah ia mengimani-Nya sebagai Tuhan, maka ia pun bersedia mengubah haluan hidupnya, karena Tuhan menggendaki demikian. Ia meninggalkan profesinya sebagai penjala ikan untuk mengikuti Yesus, Guru dan Tuhannya.
 
Demikianlah kehidupan beriman kita. Tanpa Tuhan, usaha dan kerja keras kita akan sia-sia dan tidak membuahkan hasil. Namun, bersama Tuhan dan kalau kita mengikuti kehendak-Nya, usaha dan kerja keras kita akan membawa hasil yang melimpah. Namun, selain bekerjasama dengan Tuhan, kita juga harus membangun kerjasama dengan orang lain, seperti yang dilakukan Petrus dan teman-temanannya. Dan kalau Tuhan menghendaki kita untuk berubah haluan, kita pun harus mengikuti dengan setia. Sebab, apa pun yang Tuhan kehendaki untuk kita, pastilah yang terbaik.***

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Jalan Menuju Pertobatan Itu Selalu Terbuka

Selasa, 21 Nopember 2017, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10
BcO Dan 2:1,25-47

Salah satu ceritera Kitab Suci yang sudah begitu akrab di telinga kita, adalah kisah tentang Zakheus, si Pemungut cukai. Di hadapan orang-orang Yahudi, para pemungut cukai termasuk dalam golongan yang dikatakan sebagai orang-orang berdosa.