CINTA KRISTUS MENYATUKAN KAMI

Kesempatan menjadi peserta AYD bagi saya adalah sebuah keajaiban. Karena sejak awal saya bukanlah peserta yang diutus dari paroki saya. Informasi tentang AYD pun hanya saya ketahui sejak setahun yang lalu dan sejak itu saya sudah berniat untuk mengikuti kegiatan tersebut karena dikabarkan Paus Fransiskus juga akan hadir. Saya bersyukur malam itu seperti kebiasaan saya setiap malam pergi berdoa di ruang Adorasi, saya melihat sekumpulan orang yang baru selesai berdiskusi dan hendak pulang. Karena beberapa diantaranya adalah orang yang saya kenal maka demi kesopanan saya singgah sebentar untuk menyapa. Setelah sedikit berbincang baru saya ketahui bahwa kelompok ini adalah peserta yang akan berangkat untuk ikut Asian Youth Day (AYD) di Yogyakarta. Dengan semangat saya mengajukan diri kepada Sr. Tyas sebagai Ketua Komisi Kepemudaan KAK untuk ikut serta sekiranya masih ada kesempatan. Tanpa ragu Sr. Tyas menjawab iya, karena saat itu kekurangan peserta perempuan. Setelah saya konfirmasi dengan pastor moderator OMK paroki kami, romo pun setuju. Suatu kebahagiaan besar bagi saya saat itu. Kalau sudah jodoh memang tidak kemana.
 
Berbagai kegiatan kami lakukan untuk menyongsong AYD di KAK, diantaranya perarakan Salib IYD; pentas seni; living the gospel ke stasi di pinggiran kota; living the gospel  melalui Program Pendalaman Iman Katolik bekerja sama dengan TVRI Kupang dan Komisi Komunikasi Sosial KAK; serta bersama Jhon Paul Choir yang beranggotakan sebagian besar peserta AYD, IYD, Grup band OMK OASSIS, teman-teman OMK sekeuskupan Agung Kupang membuat video cover theme song AYD7 yang menjadi pengalaman baru yang luar biasa. Selain itu juga pertemuan rutin selalu kami lakukan setiap hari Rabu dan Sabtu. Semua ini kami lakukan terutama untuk membina keakraban dan menjalin kerja sama diantara kami semua. Mengorbankan waktu dan tenaga, menurunkan ego, saling menghargai, saling berbagi, hal-hal ini yang kami pelajari saat menjalani masa persiapan. Buah dari semua yang kami lakukan adalah kesatuan hati diantara kami peserta AYD7. Karena itu ketika tiba hari keberangkatan, perasaan hati bercampur aduk saat itu; bersemangat sekaligus sedih mengingat beberapa teman yang batal berangkat karena ada hal yang lebih penting yang tidak dapat ditinggalkan. Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman ini yaitu bermimpi adalah langkah awal  dari menciptakan takdir, berkorban menjadi panduan dalam berlangkah dan berpasrah adalah akhir langkah menggapai takdir.
 
Suasana Joyful langsung terasa pagi itu begitu kami menginjakan kaki di Bandara Juanda-Surabaya. Kesan bersahabat dan diterima sangat kami rasakan. Teman-teman panitia Days In Dioces Keuskupan Malang menyambut kami dengan bersemangat lengkap dengan backsound theme song  AYD7. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh saya dan teman-teman. Selesai registrasi awal di Bandar Udara Juanda, kami diminta bersabar oleh panitia untuk menunggu teman-teman orang muda dari Singapura yang kira – kira sejam lagi akan mendarat. Perjalanan Surabaya – Malang membutuhkan waktu hampir tiga jam karena terjebak macet. Rombongan Bus kami tiba di Paroki Ijen kira-kira pukul 14.00 dan kami adalah kontingen luar kota yang pertama. Lagi-lagi suasana joyful kami rasakan. Panitia baik orang muda maupun orang tua menyambut kami dengan hangat. Kopi, teh dan snack tersedia di atas meja. Setelah snack, kami melakukan registrasi ulang  dan mendapatkan AYD Kit. Informasi tentang tempat live in setiap kami telah ditempelkan pada papan pengumuman. Kami semua disebar di beberapa paroki.  Saya mendapat tempat live in di Paroki St. Vincentius A. Paulo – Langsep. Bersama bapak-bapak utusan dari paroki kami diantar ke paroki kami masing-masing dimana orang tua asuh kami yang sudah menunggu untuk menjemput kami. Setiap orang tua bertanggung jawab terhadap dua orang anak asuh peserta AYD7.
 
Menjalani Day In Dioces (DID) pada Keuskupan Malang di Paroki St. Vincentius A. Paulo – Langsep, khususnya dalam Keluarga Bpk. Emanuel Woda dan Ibu Ririn banyak mendatangkan hal baru bagi saya. Sebuah Keluarga sederhana yang sangat multicultural. Sang Kepala Keluarga berasal dari suku yang sama dengan saya Flores – Ende, sedangkan Ibu Rumah Tangga dari suku Jawa. Pasangan Katolik ini dikarunia empat orang anak; 1 cowok dan 3 cewek.  Dalam keluarga ini juga tinggal nenek dari Ibu Ririn yang beragama Hindu. Baru saya temukan keluarga yang tinggal seatap dari 4 generasi yang berbeda. Walaupun sudah lanjut usia, kecantikannya masih terpancar, kakinya masih kuat membawa tubuhnya bergerak, matanya tanpa bantuan kacamata. Kewajibannya sebagai seorang Hindu tetap dia lakukan setiap hari. Setiap malam, seluruh anggota keluarga wajib makan malam bersama, lesehan, sambil berbagi cerita tentang hari itu. Sesuatu yang jarang terjadi di rumahku. Sekalipun mereka minoritas di lingkungan tempat tinggalnya, namun semua tetangga mengenal mereka dengan baik. Semua kegiatan di lingkungan sering dipercayakan kepada kedua pasangan ini untuk diatur. Saya bertanya, mengapa bisa demikian? Tegur sapa selalu ada di mulut pasangan ini begitu bertemu orang lain. Selalu memberi diri untuk kepentingan masyarakat, jujur dan penuh tanggung jawab menjadi ciri mereka. Kekatolikan mereka sungguh nyata baik di dalam keluarga mereka maupun di dalam hidup bermasyarakat.
 
Keselurahan kegiatan DID Malang memberikan banyak sukacita dan pengalaman berharga. Sesuatu yang sangat menginspirasi ketika melihat seorang gadis yang bergembira saat menggambar pola pada selembar kain dengan menggunakan mulutnya karena kedua lengannya yang terlahir buntung. Juga seorang ibu yang terlahir kerdil namun sudah menghasilkan ratusan kain batik. Di sudut yang lain terlihat seorang wanita yang dengan sabar sedang merapihkan kuku seorang anak yang wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya. Berkeliling sebentar di Kompleks Bakti Luhur yang dihuni oleh teman-teman orang muda yang sangat terbatas secara fisik namun tetap bergembira dan mampu berkarya, menyadarkan saya bahwa kesempurnaan fisik yang saya miliki belumlah sesempurna hidup yang mereka telah jalani. Bahwa kesempurnaan hidup sesungguhnya adalah kemampuan untuk tetap bergembira dan berkarya dari ketidaksempurnaan.
 
Dalam kesempatan yang lain, kami diajak mengunjungi Sekolah Selamat Pagi Indonesia. Sebuah sekolah dengan pendidikan formal SMA yang digabungkan dengan pendidikan karakter. Uniknya sekolah ini khusus untuk remaja yatim, piatu dan atau yatim piatu dari semua golongan ras, suku, agama seIndonesia yang lolos seleksi. Membentuk karakter yang berahklak dan mandiri adalah tujuan utama sekolah ini. Kedisiplinan, kerja keras dan saling menghormati sangat nyata terlihat. Terutama dalam pertunjukan akhir yang mereka persembahkan untuk kami, sebuah drama musical bertaraf internasional. Sungguh kami semua dibuat takjub oleh kelincahan, kekuatan, keindahan, dan kreatifitas dari remaja –remaja ini. Melalui mereka saya belajar  tentang sukses dan harmoni hidup, bahwa pencapaian yang besar dalam hidup harus dimulai dari sebuah mimpi besar, kemudian menyingkirkan ketakutan dengan disiplin, ketekunan dan kerja keras serta berpasrah dalam doa, menyerahkan semua usaha pada yang empunya kesuksesan. Perbedaan suku, agama dan ras menjadi milik masing-masing yang diikat dalam satu mimpi yang sama, yang membuat mereka mandiri di atas kaki sendiri dan bertumbuh sebagai saudara seperjuangan dalam meraih mimpi besar.
 
Sukacita kami di Malang berlanjut pada acara puncak AYD di Yogyakarta. Jika di Malang kami hanya bertemu beberapa teman dari Asia yaitu  Singapura, Vietnam dan Mongolia, di Yogyakarta kami bertemu dengan seluruh OMK se-Asia!! Sungguh  sebuah sukacita besar yang terpancar dari suara keras dan atraksi menggaungkan Theme Song AYD. Parade kebudayaan Asia yang ditampilkan setiap hari menampilkan keanekaragaman budaya dari seluruh Asia. Begitu banyak perbedaan yang nyata terlihat disana; budaya,  bahasa,  warna kulit, yang semuanya sangat indah dipandang, terutama karena menyadari bahwa kami diikat oleh satu cinta yang sama yaitu Kristus, dan melihat karya nyata Roh Kudus dalam menjadikan semua bangsa murid Kristus. Ada sukacita dan kebanggaan  lain sebagai seorang muda Katolik ketika menyadari bahwa teman-teman dari agama lain merasa sangat nyaman dan diterima  dalam mengikuti kegiatan AYD. Dalam suatu sharing dengan dua orang teman dari kaum muslimin ketika perjalanan kami menuju sebuah paroki tertua di Yogyakarta, Paroki St.Antonius dari Padua Kota Baru Yogyakarta, kami tahu bahwa pada dasarnya Islam juga mengajarkan damai dan kasih. Selalu ada benang merah pemersatu dalam setiap perbedaan. Kita semua mencari hal yang sama, walaupun dengan cara yang berbeda.
 
Kebanggaan menjadi OMK makin bertambah dengan adanya ritus dan tradisi gereja yang sama melalui persatuan dengan Kristus dalam Ekaristi kudus, menyembah Kristus yang nyata dalam hostia kudus melalui Adorasi, membebaskan hati dari semua beban dosa melalui penerimaan sakramen tobat, dan mengajarkan bertemu Tuhan dalam keheningan, melalui refleksi di akhir hari. Betapa kita sebagai seorang katolik diberikan banyak cara untuk menimba kekuatan dari Sang Air Kehidupan. Maka seharusnya jangan ada lagi orang muda katolik yang bunuh diri karena stress dan putus asah misalnya karena  tuntutan pembelajaran di SMA yang memakan waktu 12 jam  seperti yang disharingkan oleh Lee Kyung Ah, seorang teman dari Korea Selatan. Jangan adalagi OMK yang terjerumus dalam narkoba, free seks-dating, aborsi, apalagi sampai melepaskan kekatolikannya demi cinta yang tidak sempurna, yang tanpa disadari cintanya hanya bisa sempurna jika tetap di dalam Kristus. Cinta kepada Kristus harus menjadi dasar OMK untuk mampu mempertahankan jati dirinya di tengah arus budaya pop yang cenderung menginginkan segala sesuatau yang serba cepat, instan, dan individualistik “. Cinta kepada Kristus yang nyata dalam diri sesama, memampukan seseorang mengembangkan kreatifitas diri untuk menciptakan Kerajaan Allah. “Maka carilah dahulu Kerajaan Allah, dan yang lainnya akan ditambahkan kepadaMu”.
 
Joyfuldan kemeriahan AYD7 di Yogyakarta telah berakhir. Semua peserta juga sudah kembali ke tempatnya masing-masing. Terima kasih AYD7 karena kami sudah dikuatkan melalui perjumpaan ini. Seperti Kristus yang mengajak Petrus turun dari gunung dengan membawa kebahagiaan akan pengalaman perjumpaan dengan Allah di atas gunung, demikian juga kami. Berkaca dari semangat dan kerja keras seluruh  panitia dalam menyukseskan AYD 7 untuk menciptakan sukacita bagi perjumpaan OMK se-Asia di Indonesia dan berbekal pengalaman perjumpaan dan sukacita AYD7, kami pun ingin membagikannya kepada semua orang yang kami jumpai. Salam Joyful!!!
 
*** oleh Yuliana R. Lusong, OMK Paroki St.Maria Assumpta Kota Baru Kupang

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Jalan Menuju Pertobatan Itu Selalu Terbuka

Selasa, 21 Nopember 2017, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10
BcO Dan 2:1,25-47

Salah satu ceritera Kitab Suci yang sudah begitu akrab di telinga kita, adalah kisah tentang Zakheus, si Pemungut cukai. Di hadapan orang-orang Yahudi, para pemungut cukai termasuk dalam golongan yang dikatakan sebagai orang-orang berdosa.