Berjalan Bersama Dalam Semangat Injil

Mk 2: 1-12: Yesus menyembuhkan orang lumpuh. Suatu perbuatan ajaib! Putra Manusia punya wewenang untuk mengampuni dosa. Yesus memulihkan keadaan yang berkekurangan: memberikan kepenuhan hidup sebagai manusia bermartabat. Juga tindakan keempat orang yang mengusung si lumpuh: suatu perbuatan ajaib! Di tengah ketidak-pedulian kerumunan banyak orang, mereka membangun kepedulian bersama demi kebaikan si lumpuh. Mereka mengerahkan segala tenaga serta upaya, agar si lumpuh berjumpa dengan Yesus. Dengan demikian, mereka mewujudkan peduli sesama yang membebaskan dan menghadirkan kegembiraan: rahmat Allah berkarya dalam diri manusia.

 
Pendahuluan
1.Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Kupang1 merupakan sarana pertumbuhan, pengembangan, pemberdayaan serta penghayatan persaudaraan menurut panggilan iman akan Yesus Kristus. Penyelenggaraannya adalah asalnya umat, terlibatnya umat dan tujuannya umat dalam wilayah pelayanan pastoral Keuskupan Agung Kupang. Bahan penyelengaraan musyawarah ini berakar dari refleksi atas hidup umat di paroki-paroki yang dilengkapi oleh para nara sumber dengan paparan yang lebih mendalam, agar para peserta secara meluas mencermati tantangan serta harapan akan karya pelayanan pastoral di masa depan2. Pengharapan Kristiani sejati yang mencari Kerajaan Allah, senantiasa terjadi dalam sejarah dan sekaligus melahirkan sejarah melaui “perjalanan bersama dengan semangat Injil”.
2. Instrumentum laboris3 ini merupakan pernyataan serta pemaparan awal dari perjalanan hasil-hasil musyawarah pastoral di lingkup Keuskupan Agung Kupang, dengan memperhatikan panggilan serta perutusan bersama ke masa depan. Di samping itu, IL adalah pendorong refleksi atas hidup iman di tengah keluarga dan paroki dalam bingkai kerukunan sosial meluas, seraya memperhatikan dialog antarumat beragama, tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintah setempat.

 
Karya Pastoral Gerejani
3. Karya pastoral adalah karya Gereja sebagai persekutuan para murid Kristus dalam mewartakan kegembiraan Injil4. Karya Gereja adalah perwujudan pertumbuhan hidup iman Kristiani dalam persekutuan hidup umat yang sedang berjalan bersama di dunia nyata. Perjalanan bersama ini mengalami pelbagai jenis keprihatinan, kecemasan dan tantangan, tetapi juga kegembiraan dan pengharapan. Kenyataan ini terjadi dalam perjuangan hidup keluarga, khususnya di kalangan kaum muda, yang terhimpun dalam persekutuan komunitas yang tersebar di paroki-paroki. Dengan mencermati pertumbuhan umat dan perkembangan masyarakat setempat, komunitas umat Katolik belajar untuk membangun hidup bersaudara, di mana harkat hidup setiap orang dapat tumbuh dan berkembang secara leluasa, menurut cita-cita Sang Pencipta. Allah menghendaki bahwa anak-anak-Nya hidup berbahagia di dunia ini dalam perjalanan menuju kepenuhan abadi, karena Allah telah menciptakan segalanya untuk kemanfaatan bagi kesejahteraan hidup setiap orang: “Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Kristus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsu yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya”5.

 
Perutusan Kristiani
4. Dengan memaknai perkembangan gerejani selama ini di Keuskupan Agung Kupang, penyelenggaraan Musyawarah Pastoral merupakan suatu pernyataan Roh dalam persekutuan gerejani kita. Kita menyadari bahwa panggilan serta perutusan Kristiani yang diperintahkan oleh Yesus Kristus perlu senantiasa mengalami pembaruan serta pemurnian6. Oleh karena itu, “Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar daripadaku sebagai suatu contoh ajaran yang sehat dan lakukkanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus. Peliharalah harta yng indah, yang telah dipercayakan-Nya kepada kita oleh Roh Kudus yang diam di dalam kita”7. Kenyataan ini adalah kewajiban seluruh umat Katolik yang terhimpun dalam Keuskupan Agung Kupang, tanpa kecuali. Kewajiban Kristiani ini memperlihatkan betapa dalamnya tanggungjawab Gereja dalam dunia, yang semakin maju dalam kemampuan teknologis, tanpa melupakan pengaruhnya yang tidak sepenuhnya membangun kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, pertukaran pemikiran serta pengalaman hidup iman perlu menyambut dengan rasa syukur pelbagai tantangan yang muncul dalam seluruh perjalanan bersama di dunia ini. “Setiap komunitas Gereja, jika berpikir bisa nyaman dengan caranya sendri tanpa keprihatinan kreatif serta kerjasama efektif untuk membantu orang-orang miskin hidup bermartabat dan tanpa ada yang dikucilkan, akan beresiko mengalami kehancuran, betapapun banyak berbicara tentang masalah-masalah sosial atau mengecam pemerintah. Komunitas Gereja akan mudah jatuh ke dalam keduniawian rohani yang berselubungkan praktek religius, dengan pertemuan-pertemuan tanpa hasil atau banyak pembicaraan kosong”8.

 
Angkatan Muda dalam Gereja
5. Angkatan muda adalah bagian utuh dari seluruh perjalanan gerejani. Mereka adalah pemeran dan penjaga pertumbuhan pastoral yang semakin sulit dewasa ini. Angkatan muda tentu saja mempunyai tanggungjawab berat dalam menyikapi perkembangan masyarakat, agar mereka mampu menggerakkannya ke masa depan yang lebih baik dan lebih bergairah. Angkatan muda dengan kepribadian yang bertumbuh memiliki kemampuan serta bakat-bakat yang sangat dibutuhkan oleh Gereja dan masyarakat. Kemampuan serta bakat-bakat tersebut semoga diperkembangkan dengan cerdas dalam lingkungan kepemudaan, agar kebersamaan kaum muda boleh memberikan manfaat istimewa pada perkembangan pastoral gerejani di lingkungan hidup mereka. Salah satu persoalan mendasar dalam hidup orang muda adalah pekerjaan. Pekerjaan merupakan unsur utama dalam menggerakkan kehadiran mereka dalam Gereja dan masyarakat. Oleh karena itu pendidikan dan pelatihan kerja, pun profesional, sangatlah utama bagi perhatian Gereja di kalangan angkatan muda. Nyatanya, kehadiran orang muda senantiasa menunjukkan serta memajukan keremajaan Gereja, di mana pengalihan hidup iman dapat berjalan dengan baik dan efektif. Dalam lingkungan bergairah mereka, angkatan muda mampu menjadi saksi-saksi kebaikan Tuhan, yang pernah bertumbuh dan mengalami masa kepemudaan di dunia ini. Oleh karena itu, angkatan muda yang memelihara persahabatan dengan Yesus pasti mampu menumbuhkan pengharapan dan kegembiraan dalam mewujudkan cita-cita mereka: “Sebelum setiap aturan dan setiap kewajiban, pilihan yang Yesus siapkan di hadapan kita adalah mengikuti-Nya, seperti para sahabat yang saling mengikuti, mencari teman timbal balik dan meluangkan waktu bersama karena persahabatan sejati. Segalanya yang lain akan datang pada waktunya, dan pun kegagalan-kegagalan dalam hidup dapat menjadi suatu pengalaman yang amat bernilai dari persahabatan itu yang tidak pernah akan putus”9.
Berbarengan dengan kehadiran kaum muda yang mencari pekerjaan, bahkan sampai merantau, persekutuan gerejani setempat perlu memberikan informasi yang baik dan benar. Kaum muda yang merantau untuk bekerja harus memperhatikan prosedur legal, agar tidak termakan oleh apa yang disebut ‘perdagangan orang’ dalam dunia kerja. Gereja setempat, seperti paroki atau stasi/KUB, harus mengajak kaum muda untuk mengikuti proses yang benar dalam pencarian lapangan kerja. Dengan demikian, kegembiraan serta keberhasilan kerja dapat meningkatkan martabat mereka dalam pekerjaan.

 
Keadaan dewasa ini
6. Di tengah gejolak politik dan ekonomi yang semakin bercorak individualistik dengan mobilitas sosial tinggi, persekutuan gerejani perlu mempertajam gerakan-gerakan yang mengutamakan kebersamaan bersaudara, agar persaingan yang tidak sehat semakin terbuka kepada bentuk-bentuk kerjasama yang memungkinkan semua orang untuk melibatkan diri demi kebaikan bersama10. Penguasaan sumber daya hidup harus terbuka bagi semua orang, agar kesenjangan sosial semakin dipersempit dan kelayakan hidup setiap orang semakin tersedia secara efektif, kreatif dan inklusif. Sejalan dengan kenyataan ini, perlulah bahwa sarana dan prasarana pendidikan Katolik berupaya untuk menyumbang bagi pembentukan watak manusiawi, agar kehadirannya sesungguhnya menjadi berfaedah bagi pertumbuhan martabat manusiawi. Perutusan ini selalu mengundang seluruh umat Katolik untuk memanfaatkan pendidikan Katolik sebagai wadah dasar dalam evangelisasi, tanpa membedakan kepemilikan, kedudukan atau kekuasaan. Dalam hal ini, persekutuan gerejani kita pantas mengembangkan hati nurani yang terbuka, khususnya bagi mereka yang berkekurangan dalam hidup dan penghidupan. Dalam bingkai pertautan ekonomi politik yang berkembang, persekutuan gerejani kita mudah-mudahan mampu membangkitkan perayaan-perayaan liturgis yang menampung keprihatinan hidup dan sekaligus membuka keberlanjutan perjalanan bersama dalam pengharapan bersaudara demi kebaikan bersama. Kekuatan perayaan liturgis, khususnya Ekaristi11, harus menjadi tanda nyata dari keutuhan keterlibatan serta peran kita untuk menghadirkan solidaritas Kristiani yang semakin efektif dalam Gereja dan masyarakat demi terciptanya “kerajaan pemberdayaan” dalam peradaban kasih.

 
Lingkungan teknologi digital
7. Kemajuan teknologi digital merupakan suatu tantangan yang bekesinambungan dalam hidup Gereja dan masyarakat dewasa ini. Pertumbuhan globalisasi tidak dengan sendirinya memberikan dampak positif dalam perjalanan bersama. Kemampuan teknologi yang dahsyat telah dan sedang menghadirkan pelbagai perubahan dalam komunikasi manusiawi. Oleh karena itu, perlu suatu pendidikan kecerdasan digital, agar komunikasi manusiawi mendapat manfaat yang berlimpah dalam menunjang dan menyokong suatu perjalanan bersama yang semakin sarat dengan persaudaraan dan persahabatan. Kecenderungan untuk hanya berada dalam lingkungan digital mudah-mudahan menyadarkan persekutuan gerejani kita untuk menjaga serta memelihara kebersamaan yang terbuka, di mana setiap orang senantiasa mengalami martabat yang tidak dirundung. Keluarga-keluarga hendaknya membangun kebiasaan untuk menggunakan teknologi digital secara bijak dan penuh tanggungjawab demi kebaikan bersama, seraya mengindahkan peraturan yang berlaku. Nilai-nilai yang terkandung dalam teknologi digital mudah-mudahan dapat membantu untuk menumbuhkan kepribadian yang asli setiap orang, sebagaimana dicita-citakan oleh Sang Pencipta. Gereja memandang kemajuan komunikasi digital sebagai suatu anugerah guna mengembangkan suatu persekutuan hidup dan saling menghidupkan, khususnya kalangan kaum muda yang sangat gemar berdayung dalam budaya dunia digital.
Persekutuan gerejani kita juga perlu memperhatikan lingkungan ekologis, agar pertumbuhan kebutuhan pangan dapat berjalan berkelanjutan. Kita menjaga keutuhan alam ciptaan, agar kehadiran sumber daya ekologis tidak mendatangkan bencana dalam perjalanan hidup ini12. Kita wajib mengambil bagian dalam segala upaya untuk memelihara sumber daya yang tersedia dengan rasa syukur, yang menjadi nyata dalam tindakan-tindakan seperti tanam pohon, jaga kebersihan lingkungan, penggunaan sarana organik dalam pertanian serta memberdayakan sumber daya air dan penerangan. Dengan demikian, kita mampu menghadapi perubahan iklim dengan bijak dan cerdas dalam bingkai kedaulatan dan ketahanan pangan sekarang dan di masa depan. Panggilan ekologis ini mengisyaratkan bentuk-bentuk kerjasama yang aktif, kreatif, efektif dan inklusif dalam persekutuan gerejani kita yang terbuka pada dialog kehidupan dengan semua orang, tanpa membedakan. Tetapi kita tidak dapat menjabarkan pemahaman akan “pembangunan manusia seutuhnya” dalam ketersediaan sumber daya material, karena manusia menerima keutuhan baru hanya oleh penyempurnaan dari Rahmat, yaitu Permandian.13

 
Yesus Kristus andalan kita
8. Yesus Kristus adalah andalan hidup Kristiani kita. Di dalam kekuatan-Nya, persekutuan gerejani kita mampu membangun suatu kebersamaan bersaudara dalam cinta kasih yang efektif menurut pelbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, Musyawarah Pastoral kita membuka peluang besar agar kita menemukan kembali semangat-Nya dalam perjuangan hidup kita sehari-hari. Kita wujudkan kebersamaan yang merangkul semua orang, khususnya yang lemah dan miskin14. Yesus Kristus tetap meminta persekutuan gerejani kita untuk menghayati kepedulian bersesama tanpa syarat, agar perjalanan bersama berkelimpahan dengan pelbagai jenis kebaikan. Kehadiran Dewan Pastoral Paroki dan para pemimpin umat setempat harus mewartakan kegembiraan Injil menurut keadaan hidup masing-masing, agar perjalanan bersama semakin menjadi cahaya dalam kegelapan dunia kita. Yesus Kristus sebagai Jalan, Kehidupan dan Kebenaran harus menjadi andalan kita di dalam membarui dan memurnikan perjalanan kita bersama menuju keselamatan, karena “Gereja sebagai sakramen keselamatan dunia di dalam Kristus”15. Perjalanan persekutuan gerejani kita bergerak mengarah kepada janji-Nya berbarengan dengan kemungkinan pelbagai resiko. Namun, kita yakin akan daya Roh-Nya yang senantiasa berkarya dalam diri kita, agar kita selalu hidup sebagai anak-anak Allah, murid-murid Yesus Kristus. Dengan demikian, kita tidak perlu takut akan segala jenis pencobaan, karena kuasa Roh-Nya selalu meneguhkan pengharapan hidup iman kita.Sri Paus Fransiskus berkata: “Jika Dia merencanakan untuk menganugerahi kalian suatu rahmat, suatu karisma yang akan membantu kalian hidup dalam kepenuhan dan menjadi seseorang yang berfaedah bagi orang-orang lain, seseorang yang meninggalkan sebuah tanda dalam hidup, maka itu akan menjadi suatu pemberian yang akan membawa kalian lebih banyak kegembiraan dan kekaguman daripada sesuatu hal lain di dunia ini.”16.

 
9. Proses metodologis mewaktu

  1. September 2019: Panitia ditetapkan
  2. Oktober 2019: IL disebar ke paroki-paroki
  3. November 2019: IL disempurnakan dengan masukan dari paroki-paroki
  4. Desember 2019: IL perbaikan disampaikan kepada para peserta Musyawarah Pastoral untuk dipelajari
  5. Pebruari 2020: Penyelenggaraan Musyawarah Pastoral
  6. Maret 2020: PenyempurnaanHasil Kesepakatan Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Kupang untuk tindak-lanjut
  7. April 2020: Penetapan “Pedoman Arah Pastoral” Keuskupan Agung Kupang 2020-2025

 
Penutup
10. Demikian beberapa pertimbangan dalam mengarahkan persiapan Musyawarah Pastoral Keuskupan Agung Kupang. Mudah-mudahan hati dan pikiran kita boleh memperkaya dan menyuburkan persaudaraan dan persahabatan dalam gugus pelayanan pastoral di keuskupan kita. Keterlibatan para peserta harus dipandang sebagai himpunan gerakan Roh Kudus yang mengaruniakan pelbagai karisma dalam diri kita demi kebaikan bersama, karena “kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama”17.
Kita semua berharap bahwa Musyawarah Pastoral mudah-mudahan menghadirkan serta menegaskan sebuah “pedoman arah pastoral” dalam kurun waktu 2020-2025 di Keuskupan Agung Kupang.

 

 
Pertanyaan Persiapan: Oktober 2019
(Sesudah membaca IL, Pastor Paroki bersama DPP memberikan jawaban singkat dan benar terhadap pertanyaan di bawah ini dan disampaikan kepada Panitia Pengarah Musyawarah Pastoral 2020)

  1. Bagaimana pelaksanaan hasil Musyawarah Pastoral di paroki kita?
  2. Bagaimana wujud perutusan Kristiani, khususnya dalam keluarga, di paroki kita?
  3. Bagaimana peran dan harapan kaum muda di paroki kita?
  4. Bagaimana kerukunan sosial di paroki kita?
  5. Apakah ada pastoral teknologi digital di paroki kita?
  6. Bagaimana wujud Yesus sebagai andalan hidup di paroki kita?
  7. Manakah harapan paroki terhadap Musyawarah Pastoral?

 
Kupang, 15 Juli 2019

 
Mgr. Petrus Turang
Uskup Agung Kupang
 
 

1 MusPas Keuskupan Agung Kupang diselenggarakan sekali dalam tiga tahun.

2 Coraknya adalah “sinodal”, yaitu melibatkan seluruh umat dalam Keuskupan.

3 Alat untuk menyatukan pengalaman serta harapan umat untuk dikaji kemudian sebagai bahan musyawarah.

4Lih. Mt 28:19-20

5 Ef 4:20-22

6 Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja “Ecclesia semper reformanda et purificanda”

7 2Tim 1:13-14

8 Fransiskus, Seruan Apostolik Evangelii gaudium, 24 November 2013, no. 207

9 Fransiskus, Ajakan Apostolik Christus vivit, 25 Maret 2019, no. 290.

10 Lih. Kompendium Ajaran Sosial Gereja, Komisi Keadilan dan Perdamaian, no. 194.

11 Ekaristi adalah “sumber dan puncak” hidup Kristiani kita

12 Paroki-paroki perlu membangun sikap hidup yang awas bencana, misalnya dengan pelatihan mitigasi bencana, dalam kerjasama dengan program pemerintah setempat

13 Bdk. 1Yoh 1:3; 3:1.

14 Ungkapan “preferential option for the poor” harus menjadi tindakan nyata dalam hidup persekutuan di paroki-paroki atau kelompok umat basis.

15 Konsili Vatikan II, Lumen Gentium, 1.

16 Fransiskus, Ajakan Apostolik Christus vivit, 25 Maret 2019, no. 288.

17 1Kor 12:7

@page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } p.sdfootnote { margin-bottom: 0cm; direction: ltr; font-size: 10pt; line-height: 100%; text-align: left; orphans: 2; widows: 2; background: transparent } p { margin-bottom: 0.25cm; direction: ltr; line-height: 115%; text-align: left; orphans: 2; widows: 2; background: transparent } a.sdfootnoteanc { font-size: 57% }

Suara Gembala

Membangun Hidup Ekonomi Yang Bermartabat

"Oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus" (Tit.3:5)

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus,

Tokoh

Santo Polikarpus

Polikarpus lahir antara tahun 69 hingga 80. Ia adalah murid langsung dari Rasul Yohanes, saudara Yakobus; dua bersaudara, yang sangat dikasihi Yesus. Ia dibabtis menjadi seorang Kristen oleh Rasul Yohanes ketika pengikut Kristus masih sangat sedikit jumlahnya.

Renungan Harian

Hendaklah Pinggangmu Tetap Berikat Dan Pelitamu Tetap Menyala

Selasa, 20 Oktober 2020
Ef. 2:12-22; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; Luk. 12:35-38.
BcO Sir. 29:1-13; 31:1-4  
warna liturgi Hijau

Kewaspadaan merupakan sebuah tindakan mawas diri untuk tidak terbuai, tidak terlena atau terbenam dalam sesuatu hal yang bisa membelokkan orientasi hidup.