Berharaplah Selalu Kepada Tuhan

Bacaan: 

Selasa, 13 Maret 2018 - Hari Biasa Pekan IV Prapaskah (U).
BcE Yeh. 47:1-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; Yoh. 5:1-16.
BcO Im. 19:1-18,31-37.

Siapakah di anatara kita yang ingin sakit? Bisa diyakini bahwa tidak ada seorang pun yang menghendaki agar dirinya sakit, bahkan untuk menderita sakit yang paling ringan sekalipun. Dan jika memang sakit menjadi hal yang tak bisa dihindarkan, maka orang akan berusaha agar bisa segera pulih dari sakit yang dideritanya, orang berupaya agar bisa segera sembuh.
 
Kerinduan untuk sembuh dan sehat kembali ini lalu memacu si sakit dan  mereka yang peduli dengannya untuk mencari pelbagai macam cara, menempuh pelbagai macam upaya yang sekiranya bisa membebaskan si sakit dari apa yang tengah dideritanya. Ada pelbagai macam cara yang kemudian ditempuh, mulai dari cara-cara yang dianggap wajar dan masuk akal, sampai yang tidak masuk akalpun kadangkala dilakukan orang demi mengalami kesembuhan dari sakitnya.
 
Injil hari ini mengangkat kisah tentang mujizat penyembuhan yang dilakukan Yesus di kolam Betesda, sebuah kolam yang menurut kepercayaan orang-orang Yahudi dianggap sebagaisalah satu tempat yang “dikeramatkan”. Hal ini pun tak lepas dari keyakinan bahwa kolam yang letaknya di Yerusalem, dekat dengan Pintu Gerbang Domba ini memiliki sesuatu daya yang luar biasa, di mana pada saat tertentu malaikat Tuhan akan turun ke kolam itu lalu menggoncangkan airnya, dan barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya. Sebuah keyakinan yang didasarkan pada cerita yang diwariskan secara lisan dan turun-temurun mengenai kolam itu. Karena itu, tidaklah mengherankan jika begitu banyak orang lalu datang ke tempat itu agar bisa memperoleh kesembuhan, dan mereka pun berlomba-lomba untuk secepatnya masuk ke dalam kolam itu, tepat sesudah airnya bergoncang.
 
Ternyata di antara sekian banyak orang sakit yang datang mencari kesembuhan ke kolam Betesda, datang pula seorang yang sudah 38 tahun menderita sakit. Tentulah sebagaimana orang-orang sakit lainnya, ia juga sangat mengharapkan kesembuhan bagi dirinya. Memang tidak diketahui secara pasti sudah berapa lama ia berada di sana, tapi dari perkataannya kita bisa menduga bahwa ia sudah cukup lama berusaha dan terus berharap, meski rasanya mustahil mengingat ada begitu banyak orang yang akan saling mendahului agar bisa sembuh. Dan itu terlihat jelas dari jawabannya ketika mendapat pertanyaan dari Yesus yang tiba-tiba datang mengunjungi dirinya di salah satu serambi dekat kolam Betesda."Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."
 
Apa yang terjadi selanjutnya? Harapan untuk memperoleh kesembuhan dari orang yang sakit ini kemudiandijawab oleh Yesus. Yesus lalumenyembuhkan orang itu secara langsung, tanpa perlu repot-repot berebutan untuk menceburkan diri lagi ke dalam kolam setelah air kolam itu bergoncang. "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah." Ia sembuh seketika! Dan Yesus lalu berpesan kepadanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
 
Kisah penyembuhan orang sakit di dekat kolam Betesda ini, nampaknya agak berbeda dengan beberapa kisah mengenai mukjizat kesembuhan yang hadir di beberapa kejadian lain, seperti kisah anak Yairus yang dibangkitkan dan seorang perempuan yang sakit pendarahan (Markus 5:21-43), kisah Yesus menyembuhkan orang kusta (Matius 8:1-4), menyembuhkan hamba seorang perwira Kapernaum (Matius 8:5-13) dan sebagainya. Jika di kisah-kisah yang lainitu, mereka semua mengenal siapa Yesus dan iman akan Yesus membawa mereka kepada mukjizat kesembuhan. Tapi berbeda dengan orang sakit di kolam Betesda ini. Ia sama sekali tidak mengenal Yesus, "Tetapi orang yang baru sembuh itu tidak tahu siapa orang itu, sebab Yesus telah menghilang ke tengah-tengah orang banyak di tempat itu.". Dia tidak mengenal siapa Yesus, tetapi Yesus datang kepadanya.
 
Mungkin kita akan bertanya, Apa yang membuat Yesus bersedia datang menjumpainya? Bisa kita yakini bahwa kegigihannya yang terus penuh dengan pengharapan menantikan kesembuhan dari Tuhan itulah yang mengundang Yesus untuk hadir di sana. Dan itulah yang terjadi. Yesus datang kepada-Nya dan menyembuhkan dirinya secara penuh dalam seketika. Kemauan si sakit untuk sembuh diperhitungkan sebagai iman oleh Yesus, dan hal itu membuka jalan bagi terjadinya mukjizat penyembuhan. Di sini, kolam “Betesda yang “dikeramatkan” oleh masyarakat Yahudi ternyata tidak bisa berbuat apa-apa terhadap si sakit, Sebaliknya, pengharapannya yang tak kunjung padam akan belas kasih dan rahmat kesembuhan dari Tuhan, telah membawanya kepada kesembuhan.
 
Dalam peristiwa di kolam Bethesda, kita diingatkan bahwa Allah memang berbelas kasihan kepada semua orang, kepada siapa saja yang  berharap kepada-Nya. Yesus memiliki sikap belarasa dan kepedulian terhadap kebutuhan semua orang, terutama mereka yang lemah dan tersingkir. Sikap berbelarasa ini ditunjukkan Yesus dengan mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh orang lemah melalui perjumpaan pribadi. Kepedulian ditunjukkan Yesus dengan memenuhi kebutuhan mendasar yang sungguh diinginkan oleh orang lemah itu, yang tidak bisa dipenuhinya sendiri. Bahkan karena kasih-Nya itu, Yesus berani melawan arus dengan resiko dibenci dan diancam oleh orang-orang tertentu yang bermental legalistis, yang merasa kenyamanan dirinya terganggu dengan tindakan kasih yang dilakukan oleh Yesus.
 
Dari kisah ini, kita pun bisa melihat bahwa Yesus tidak pernah memusuhi orang berdosa. Justru sebaliknya, Dia mengasihi orang-orang seperti ini. Dia mengasihi anda dan saya, yang setiap hari tidak luput dari dosa, dan karenanya, kesungguhan dan pengharapan kita tidak akan pernah sia-sia di mata-Nya. Dengan kasih-Nya, setiap saat Dia siap untuk hadir dan memulihkan kita, tidak peduli sebesar apapun dosa yang pernah kita perbuat. Yesus adalah sahabat orang berdosa, Dia mengasihi orang-orang berdosa dan siap memulihkan hidup orang berdosa. Dia hanya berpesan kepada kita, "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk."
 
Kiranya kisah injil yang kita dengarkan dan renungkan pada malam hari ini, semakin meyakinkan kita akan belas kasih dan kemurahan hati Allah, sehingga kita pun tergerak untuk selalu mau dekat kepada-Nya, mau menaruh pengharapan hidup kita pada tangan-Nya. Dan dengan demikian, kita pun tergerak untuk bertobat dan kemudian meneladani kasih Allah itu dalam kehidupan sehari-hari, dengan mulai membangun sikap peduli dan bela rasa dengan semua orang yang hadir di sekitar kita. Sehingga dengan demikian kita sungguh mulai membangun suatu habitus baru dalam kebersamaan kita sebagai orang-orang yang telah mendapatkan rahmat kesembuhan dan keselamatan dari Allah.
Amin.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Beato Yohanes Gabriel Perboyre, Martir

Ketika masih kanak – kanak, Yohanes sudah terbiasa dengan kerja keras. Ia biasa membantu ayahnya menggembalakan ternak – ternak mereka di padang. Pada umur 8 tahun, ia masuk sekolah atas ijin ayahnya. Kemudian ia mengikuti pendidikan imam di seminari menengah.

Renungan Harian

Salib Adalah Tanda Kerahiman Allah

Jumat, 14 September 2018 - Pesta Salib Suci
Bil. 21:4-9; Mzm. 78:1-2,34-35,36-37,38; Flp. 2:6-11; Yoh. 3:13-17.
BcO Gal. 2:19-3:7,13-14; 6:14-18 Est. 1:1-3,9-16,19; 2:5-10,16-17.

Hari ini Gereja Katolik merayakan pesta Salib Suci. Secara liturgis, Pesta ini dirayakan di dalam Gereja Katolik untuk mengenang penemuan Salib Yesus oleh St. Helena, ibunda dari Kaisar Konstantinus pada tanggal 18 Agustus 320.