Berbangga Menjadi Orang Muda Katolik Keuskupan Agung Kupang

Syukur menjadi kata yang tepat pada tempat awal tulisan ini. Syukur karena kesempatan, syukur karena tawaran berbagi refleksi untuk 25 Tahun Keuskupan Agung Kupang mewakili Orang Muda Katolik (OMK) KAK, mengingat sudah setahun ini saya tidak lagi menjadi bagian dari OMK KAK secara nyata karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan untuk pindah ke daerah lain. Namun mengingat juga 26 tahun kehidupan saya dalam KAK maka saya merasa cukup pantas untuk berbagi kisah dalam momen ini. Kiranya refleksi sederhana saya ini dapat diterima dan boleh menjadi sumber permenungan bagi orang muda terutama orang-orang muda katolik di wilayah Keuskupan Agung Kupang.
 
Berbicara mengenai OMK akan selalu berhubungan dengan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. OMK sebagai individu dan OMK sebagai suatu wadah. Di paroki tempat tinggal sayasekarang, pastor moderator kami mengumumkan dari mimbar gereja: “Bagi orang-orang muda katolik diharapkan mendaftarkan diri ke paroki!” Saya terkesima, dan dalam hati berkata “Berarti bagi orang muda katolik yang tidak mendaftarkan diri tidak dianggap sebagai orang muda katolik walaupun mereka masih berusia 18 tahun ataupun belum menikah, karena mereka tidak terdaftar dalam sebuah wadah OMK Paroki?!.” Maka domba yang tersesat pasti akan hilang karena sang gembala tidak mencarinya. Beruntunglah kami OMK di paroki saya yang lama St. Maria Assumpta, dicari sang gembala sampai ke tingkat KUBJ
 
Berhasil mengarungi kehidupan sampai masuk pada usia seperempat abad, bagi saya adalah hal yang luar biasa. Saya teringat setahun yang lalu ketika kehidupan saya mencapai usia 25 tahun, ada semangat yang meluap-luap karena telah menjadi manusia seperempat abad yang dalam kacamata masyarakat, telah dipandang dewasa. Walaupun demikian, saya percaya usia tidak mutlak menjadi faktor penentu utama seseorang dikatakan dewasa/matang secara psikologis, terutama dalam hal iman.
 
Mengamati kehidupan iman orang muda katolik dewasa ini, bagi saya cukup memprihatinkan. Dari hal yang paling sepele sampai yang paling berat.  Seperti yang sering kita lihat saat misa mingguan, orang muda lebih senang duduk di luar walaupun di dalam gereja masih banyak terdapat bangku kosong, bercerita atau mengutak-atik handphone selama misa, berpakaian yang terlalu mini atau seksi atau seperti orang yang mau ke pasar dengan kaos oblong dan celana jeans padahal jika ke pesta bisa menghabiskan ratusan ribu untuk pakaian dan dandanan! Sadar atau tidak, sengaja atau tidak sengaja, itu adalah bentuk kurang menghargai sesama, imam dan Tuhan sendiri. Dalam menghadiri misa, pakaian memang bukan yang terutama. Hati  adalah yang terutama, yang tercermin dari cara bersikap dan berperilaku. Maka berikanlah yang terbaik yang ada padamu sebagai persembahan yang hidup, dengan demikian melalui kita juga nama Tuhan dimuliakan.
 
Ini baru satu aspek. Bagaimana pula dengan orang muda katolik yang lebih senang adu jotos daripada berdialog, memilih balas dendam daripada mengampuni, seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu pada level mahasiswa di sebuah institusi katolik. Sungguh sangat disayangkan. Sama sekali tidak ada belas kasih yang menjadi ciri utama kekatolikan kita. Tenda pesta penuh dengan anak muda yang berjoget dan minum-minuman keras, tapi misa syukur hanya dihadiri orang tua dan anak-anak. Tenda dukacita penuh dengan orang muda bermain judi tetapi doa dan misa penguburan hanya tampak orang-orang tua. Belum lagi seks bebas dan kumpul kebo yang seperti fenomena gunung es, Jika semakin banyak yang seperti ini, bukan tidak mungkin suatu masa, gereja – gereja di Keuskupan Agung Kupang menjadi seperti gereja-gereja di Eropa saat ini, ditinggalkan oleh orang muda dan hanya dijaga oleh orang-orang tua.
 
Kemudian dimana letak kesalahannya? Tidak ada yang salah, tetapi banyak yang tidak sadar.
 
Berapa banyak orang muda katolik yang benar-benar menyadari kekatolikannya itu bukan sebuah agama melainkan  warisan iman yang sangat berharga? Atau dengan kata lain, mengapa kita menjadi katolik? Benar-benar menjadi seorang katolik, bukan karena semata-mata karena orang tua kita katolik. Sudahkah dalam keseharian hidup kita, dalam peristiwa yang kita alami dalam kehidupan, kita sikapi dengan iman katolik? Pernahkah dalam hidup kita, sekali saja kita merindukan Pencipta kita seperti kita merindukan kekasih kita? Jatuh cinta kepada Allah, sudahkah dialami oleh setiap kaum muda?
 
Hati manusia seperti sebuah sumur tanpa dasar yang tidak pernah puas. Saat satu tujuan kita tercapai, pada saat yang sama kita akan kembali merasakan kehampaan. Ketika menemukan suatu tujuan baru, dan berhasil kembali menggapainya, akan datang lagi kehampaan yang baru, begitu seterusnya,  karena memang demikianlah Dia membentuk kita dengan menempatkan sebuah ruang hampa di dalam hati kita, yang hanya bisa terisi oleh Dia. Demikianlah cara Allah menandai kita sebagai milik kepunyaanNya. Inilah yang seringkali yang tidak disadari oleh manusia, terutama kaum muda yang dalam hidupnya masih kurang pengalaman. Kekatolikan kita yang bersumber dari  Kristus dan kita kenal melalui iman para rasul dan Bunda Kristus yang diwariskan pada segala zaman, melalui teladan hidup para kudus dan martir, sampai saat ini, membantu kita untuk mengenal Allah sebagai Bapa, sumber dan tujuan hidup kita. Karena alasan inilah kita harus bersyukur dan berbangga menjadi katolik.
 
Orang tua dan gereja yang telah banyak makan asam garam kehidupan, sudah sepantasnya menjadi teladan yang hidup dari iman yang diwariskan karena orang muda katolik baik pada jenjang anak sekami, remaja dan muda-mudi adalah sebuah rangkaian proses pertumbuhan iman katolik yang sejatinya harus dibimbing, diarahkan dan didukung agar kekatolikan  yang diwariskan berakar kuat dan bertumbuh dengan matang.
 
Sejak anak-anak, nilai-nilai kekatolikan harus sudah ditanamkan dengan kuat. Minggu kemaren seorang imiam di paroki St. Yoseph Naekoten, mengeluhkan di mimbar anak-anak calon sambut baru yang akan mengikuti pembinaan berkejar-kejaran di dalam gereja. Dan seorang ibu yang duduk di belakang saya malah justru mengumpat imam tersebut dan berkata” mereka hanya anak-anak, wajar kan kalo seperti itu”, kemudian segera keluar dengan emosi karena himbauan tambahan dari imam tersebut membuat misa semakin lama. Saya pun dulu melewati masa itu; menjadi anak-anak sekami, tetapi kami mampu menjaga sikap kami di dalam gereja, karena sejak kecil  kami diajarkan, Rumah Tuhan adalah Kudus. Lalu kenapa ibu tersebut harus marah? Kepedulian dan perhatian dari orang tua, mempunyai pengaruh yang sangat kuat, karena dari merekalah seorang anak pertama kali mengenal iman mereka.
 
Masa remaja adalah masa peralihan dari sekami menuju orang muda. Perhatian orang tua dan gereja seringkali luput pada masa ini. Padahal masa ini cukup penting terhadap pembentukan iman. Karena pada masa ini seorang remaja katolik  sedang mencari figure untuk pembentukan jati dirinya. Karena itu pada masa ini pun orang tua dan gereja harus menjadi pembimbing yang membimbing mereka untuk mengutamakan hal-hal yang tidak kasat mata, yang mendatangkan kebahagiaan, kedamaian dan cinta kasih bagi sesama dari pada hal-hal yang kelihatan yang hanya mencari puji-pujian yang sia-sia. Tentunya yang bersumber dari figure yang sejati, yaitu Kristus itu sendiri.
 
Sebagai orang muda katolik, orang tua dan gereja haruslah menjadi suporter utama, yang tidak memegang kendali secara penuh tetapi mengawasi dan mendukung, karena masa ini adalah masa mereka untuk berekspresi, mengaktualisasikan nilai-nilai  katolik yang sudah diperoleh sejak anak-anak, figure dirinya yang ia bangun saat remaja dan mempertegas eksistensinya sebagai orang muda katolik dalam sebuah wadah yang yang melihat kepada satu tujuan yang sama yakni Allah sebagai sumber dan tujuan hidup kita.
 
Sebuah wadah yang mengutamakan hati sebagai motor penggerak dan intlektual sebagai rodanya. Kiranya wadah OMK KAK menjadi tempat yang menyenangkan bagi orang muda untuk berbagi kisah hidup, saling menguatkan ketika jatuh, mengekspresikan diri dalam minat dan bakat, belajar berbesar hati menerima kekalahan dan turut bergembira bersama yang menang karena kita semua saudara dalam Kristus, hamba dari Sang Pemberi Hidup. Dan pada suatu saat, ketika kemah kediaman kita di bumi dibongkar, kita pun boleh kembali dan bertemu di rumah kita yang sebenarnya bersama Bapa dalam keabadian.
 
Selamat merayakan seperempat abad OMK Keuskupan Agung Kupang. Mari menjadikan hidup kita lebih hidup.
 
Dian Lusong

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.