Bait Allah: Tempat Doa dan Menimba Inspirasi Hidup

Bacaan: 

Jumat, 9 Nopember 2018, Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran (P). E Kem.
BcE Yeh. 47:1-2,8-9,12; Mzm. 46:2-3,5-6,8-9; 1Kor. 3:9b-11,16-17;Yoh. 2:13-22.
O AllTuh. BcO 1Ptr. 2:1-17 atau Why. 21:9-27.

Bagi orang yang emosional, kita gampang maklum dan mengerti kalau orang itu sering marah-marah. Tetapi bagi orang yang berkarakter sabar, murah ampun, gampang menerima, suka berkorban dan selalu berusaha mencari yang terbaik, namun tiba-tiba marah, kita juga akan dengan cepat berkesimpulan bahwa pasti ada sesuatu yang tidak beres dan sesuatu itu telah berada di atas ambang batas kesabarannya. Dengan teropong dan cara pandang yang seperti inilah, kiranya kita harus melihat dan menilai kemarahan Yesus yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini. Dengan demikian, kemarahan tidak selalu harus ditafsirkan sebagai wujud hilangnya belas kasihan.
 
Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang menyatakan cinta-Nya kepada Bapa dengan membersihkan Bait Suci dari berbagai penyalahgunaan. Yesus dengan tegas menegur orang-orang yang mengotori dan berjualan dalam Bait Allah. Bagi Yesus, Bait Allah dibangun sebagai tempat perjumpaan antara Allah dan manusia. Bait Allah adalah tempat berdoa, tempat keheningan dan setiap orang dapat menimba inspirasi bagi hidupnya. Namun tujuan itu menjadi terganggu dengan berbagai usaha dan kepentingan pribadi yang dilakukan segelintir orang untuk mencari keuntungan diri.
 
Tantangan dari banyak kalangan kemudian membuka peluang bagi Yesus untuk mengacu kepada diri-Nya sendiri sebagai Bait Allah yang sesungguhnya, yakni Pribadi yang menghadirkan Allah sendiri, bahkan Dialah Putra Allah yang menentukan sejarah penyelamatan umat manusia.
 
Secara pribadi melalui apa yang dilakukan Yesus ini, kita disadarkan bahwa sikap dan perbuatan kita seringkali tidak jauh dari apa yang dikoreksi oleh Yesus hari ini. Kita sering sibuk dengan berbagai kegiatan gereja, tetapi tidak memiliki kasih yang sejati kepada Allah. Kita rajin mengikuti ibadah dan berkorban, namun kita tidak sungguh-sungguh memiliki kesatuan cinta dengan Bapa. Kita kadang-kadang menggunakan gereja untuk mencari keuntungan, menggunakan organisasi gereja untuk menjual produk-pruduk pribadi kita. Kita menggunakan kelompok-kelompok kategorial paroki untuk mencari keuntungan pribadi. Kita bukan ke gereja untuk mencari Yesus tetapi mencari teman bisnis, mencari jodoh, mencari sahabat, lalu lupa fokus kita kepada Yesus yang adalah jalan, kebenaran dan kehidupan kita menuju Allah Bapa. Melalui sikap dan tindakan kita yang tidak pada tempatnya ini, kita mencemarkan Rumah Allah, dan membuat seolah rumah doa itu tidak lagi menjadi tempat perjumpaan kita dengan Tuhan.
 
Dan lebih dari pada itu, Injil hari ini juga mengingatkan kita bahwa diri kita sendiri juga adalah Bait Allah. Dalam hidup kita Tuhan menunjukkan kepada kita betapa tinggi nilai badan kita. Betapa Dia menciptakan kita sangat baik adanya, bahkan secitra dengan-Nya. Patutlah bagi kita untuk senantiasa menjaga martabat kita yang suci dan luhur, serta menghindari hal-hal yang merendahkan martabat dan badan kita. Semoga kita tidak menyalahgunakan badan kita dengan mencari hiburan ataupun kenikmataan sesaat. Terlebih semoga kita senantiasa menaruh hormat dan menjaga martabat Tuhan sendiri yang Ia pertaruhkan dalam diri sesama kita.
 
Karena itu, marilah kita sungguh-sungguh menata rumah doa kita sebagaimana kita menata hati kita agar menjadi tempat yang pantas bagi Tuhan. Kita adalah Bait-Nya. Karena itu biarkan Tuhan sungguh-sungguh bertahta dalam kehidupan kita yang nyata.

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Santo Paus Leo Agung

Santo Paus Leo I adalah Paus ke-45 dalam sejarah Gereja Katolik. Ia merupakan yang pertama dari 4 orang Paus yang dianugerahi gelar "Agung" (the Great).

Renungan Harian

Janganlah Terbius Oleh Mamon

Sabtu, 10 November 2018, Pw S. Leo Agung, PausPujG (P).
BcE Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2,5-6,8a,9; Luk. 16:9-15; atau dr RUybs.
BcO Keb. 18:1-15a; 19:4-9.

Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Mungkin muncul pertanyaan di benak kita, Bagaimana mungkin Yesus mengatakan bahwa kita harus mengikat persahabatan dengan mamon yang ti