Awam Katolik: Saksi Kristus Dalam Tata Dunia

Sebagai salah satu bagian dari persiapan menyongsong perayaan Paskah tahun 2017, Komisi Kerasulan Awam Keuskupan Agung Kupang mengadakan rekoleksi bagi para awam katolik yang berkarya di bidang pelayanan publik. Kegiatan yang berlangsung pada hari Sabtu, 18 Maret 2017 ini, selain dihadiri oleh sejumlah tokoh awam katolik, juga menghadirkan Yang Mulia Uskup Agung Kupang sebagai pemberi renungan.
 
Dalam renungannya, Bapa Uskup mengajak para peserta rekoleksi untuk kembali melihat makna dari masa puasa sebagai persiapan menyambut perayaan paskah dan serentak melihat peran awam katolik di dalam membangun tata dunia. “Masa puasa adalah masa yang diberikan melalui Gereja dalam liturgi kita untuk mengalami perkenanan dari Tuhan. Artinya kita kembali kepada awal hidup kita sebagai orang kristiani di mana kita disatukan dengan Kristus dalam rahmat kebangkitan-Nya. Dan saat ini, pada saat kita sudah menjalankan hidup kita dari tahun ke tahun sebagai murid-murid Kristus, kita sebagai manusia yang terbatas dan lemah memang pantas untuk membaharui diri, agar sesuai dengan lingkungan perkembangan yang berjalan, supaya tetap dalam keadaan apapun juga, dalam pengharapan kita, dalam kesulitan kita, dalam perjuangan kita, dan dalam pergumulan hidup kita setiap hari, terutama anda yang mempunyai ciri khas dalam bidang tata dunia, untuk berjumpa dengan Kristus di dalam perjalanan itu. Karena dalam perjumpaan itu kita akan mendapat suatu kekuatan selama kita berziarah di dunia ini.” kata Mgr Petrus Turang.
 
Kepada segenap awam katolik yang hadir, Mgr Petrus mengingatkan kembali tentang rahmat Roh Kudus yang telah diberikan kepada setiap orang kristiani dalam permandian, sebagai sebuah rahmat  yang hendaknya tetap dijaga agar tetap bercahaya. Rahmat Roh Kudus itulah yang memampukan setiap orang untuk berkarya secara benar dan bertanggungjawab di dalam tata dunia. “Dalam kekuatan Roh Kudus kita tidak usa takut untuk membangun kesaksian di dalam dunia ini, bukan kesaksian diri kita dalam kekuatan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan budaya dan lain-lain, itu semua menjadi pelengkap penyerta bagi kita sebagai manusia yang hidup di dunia, tetapi terutama kita adalah saksi-saksi dari Yesus Kristus di dunia ini dalam kekuatan Roh Kudus,” tegas Mgr Petrus.
 
Menurut bapa uskup, salah satu upaya dalam mewujudkan diri sebagai saksi Kristus yang benar di tengah dunia adalah membangun suatu kebersamaan yang kuat di tengah realitas keberagaman yang hadir dalam dunia. Di sini, setiap pengikut Kristus diajak untuk membangun kepedulian dan pelayanan yang benar sesuai dengan tugas dan tanggung jawab yang diembannya.
 
Menutup renungannya, Bapa uskup mengajak setaip awam katolik yang berkarya di dalam tata dunia untuk membangun integritas dengan menghargai kebenaran bersama demi membangun persahabatan. Itulah yang menjadi tanda bahwa kita sesungguhnya tengah bergerak bersama menuju suatu yang lebih baik, yang lebih sesuai dengan kehendak Allah. “Kita orang katolik ada dalam dunia, dipanggil untuk melihat dunia dengan segala keanekaragamannya, serta dipanggil untuk membangun solidaritas dan budaya ekologis yang benar. Karenanya setiap orang perlu berusaha menjadi orang katolik yang baik dengan berani melibatkan diri sebagai pelaku yang benar di sana, sehingga dalam pekerjaannya itu, dia melihat bahwa dia mewujudkan iman kristianinya." ***

Suara Gembala

Keluarga Berwawasan Ekologis

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus, Kita tiba kembali pada masa puasa atau masa prapaskah. Waktu khusus ini selalu mendorong kita untuk memanfaatkannya dengan baik. Waktu berahmat ini menjadi bagian utuh dalam perjalanan hidup iman kita.

Tokoh

TAKUT YANG MEMBUAHKAN RAHMAT

 “Cucu-cucu Indonesia, engkau siap diri sekarang juga untuk ke Noehaen.” Itulah sepenggal kalimat yang masih diingat secara baik oleh Bapak Siprianus Poli ketika ia menerima tugas dari Pater Pfeffier untuk menjadi Guru agama katolik di wilayah Amarasi Timur, tepatnya

Renungan Harian

Dengarkanlah Suara Tuhan!

Kamis, 7 September 2017
Kol. 1:9-14; Mzm. 98:2-3ab,3cd-4,5-6; Luk. 5:1-11.
BcO Am 4:1-13
warna liturgi Hijau

Sebagai manusia, kita mungkin pernah mengalami situasi di mana kita telah berkeja dengan sepenuh hati, telah mengerahkan segala daya dan kemampuan diri kita, namun tak ada hasil yang kita peroleh, tak sesuatu yang bisa kita dapatkan.