“Kita Tidak Akan Pernah Menjadi Bahagia Oleh Karena Selfie”

“Kita di dalam bergandengan tangan, berjalan bersama menuju Kristus yang naik ke surga hendaknya melakukan karya belas kasih di dunia ini. Kita hendaknya saling memperhatikan, saling menolong, saling membantu supaya tidak ada orang yang tercecer, dan bilamana terdapat orang yang mulai tercecer atau mencecerkan diri, yang tersingkir atau disingkirkan, maka kita harus merangkul mereka supaya kita bisa kembali sama-sama berjalan menuju kerajaan surga.” Demikian dikatakan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang dalam kotbahnya pada Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Yesus Ke surga, yang berlangsung pada Kamis, 5 Mei 2016, di Gereja Paroki sta. Maria Assumpta Kota Baru - Kupang.
 
Dalam perayaan Ekaristi yang juga adalah puncak dari Perayaan Hari Komunikasi Sedunia yang ke-50 tingkat keuskupan Agung Kupang ini, Mgr. Petrus mengajak semua umat beriman untuk bergandengan tangan membangun dunia ini, agar dunia ini menjadi penuh dengan cinta kasih sehingga semua umat manusia pun dapat hidup dengan semangat bersaudara antara satu dengan yang lainnya. “Kita sekalian dipanggil untuk menjadi bersaudara dan bukan untuk menjadi berdarah-darah. Tuhan Yesus meminta kita untuk di dalam berjalan bersama-sama itu, atas contoh dari Dia yang wafat dan bangkit,  kita membangun semangat bersaudara, supaya kita bisa saling gandeng, saling menolong, saling menyokong, saling menopang untuk datang kepada Dia sehingga kita bisa mengalami apa itu berbahagia di dunia ini dan juga hidup dengan penuh pengharapan akan bahagia kelak di surga.
 
Berkaitan dengan peringatan hari Komunikasi sosial sedunia, Mgr. Petrus mengingatkan umat beriman, teristimewah kaum muda untuk menggunakan kemajuan teknologi komunikasi dewasa ini agar bisa menjadi sarana-sarana yang menghantar manusia menuju perjumpaan dan persekutuan hidup yang sejati, sebagaimana persekutuan dari Trinitas, Bapa, Putera dan Roh Kudus. “Dalam perayaan Hari Komunikasi Sedunia dalam Gereja katolik, kita hendaknya harus selalu ingat bahwa kita tidak akan pernah menjadi bahagia oleh karena selfie, kita tidak akan bahagia oleh karena facebook. Mungkin kita senang tetapi itu tidak berarti kita bahagia, karena yang terpenting adalah kita bisa mengalami perjumpaan, face to face, hand to hand, bergandengan tangan, berjalan bersama-sama supaya kita sungguh-sungguh menjadi satu persekutuan yang meneladani persekutuan dari Trinitas, Bapa, Putrea dan Roh Kudus.”
 
Lebih lanjut uskup Petrus menegaskan, “Dengan menemukan dan menggunakan alat-alat komunikasi yang mempermudah dan mempertajam komunikasi antar manusia, kita hendaknya saling membangun, saling memberdayakan untuk saling menemukan Kristus, saling membagikan Kristus, karena alat-alat komunikasi itu adalah sarana evangelisasi, adalah sarana di mana kita mewartakan sukacita Injil, di mana kita bisa berbagi sukacita Injil, di mana kita bisa saling mendukung bilamana kita mengalami kesusahan, kesedihan, kekecewaan, kerisauan, tantangan-tantangan yang berat pun kesulitan-kesulitan dalam keperluan sehari-hari. Alat-alat komunikasi ini ditemukan oleh rahmat Tuhan bagi manusia dan bagi dunia ini, supaya dengan alat itu mempermudah kita untuk saling memanusiawikan, saling mengorangkan. Alat-alat komunikasi ditemukan manusia bukan untuk menghakimi satu sama lain, tetapi untuk saling menyelamatkan, saling membuka jalan, saling membangun jembatan, agar kita bisa menyeberangi dengan leluasa, dengan bebas, dengan ceria dan dengan demikian kita dapat melihat bahwa betapa kita, orang-orang yang menggunakan alat-alat komunikasi sebagai alat-alat dari Allah untuk menghadirkan jembatan antar manusia. Dan tempat bagi kita untuk mulai belajar tentang hal ini adalah di rumah, karena di sanalah tempat pertama dan utama anda mulai belajar tentang cinta kasih, tentang perhatian, tentang kepedulian, tentang pelayanan dan hal-hal baik lainnya.”
 
Menutup kotbahnya, Mgr Petrus mengajak, “Janganlah menyerah kepada alat-alat komunikasi itu. Kuasailah alat-alat komunikasi itu untuk membangun diri anda menjadi seorang saudara, menjadi seorang saudari. Dengan demikian kita bisa kembali kepada saudara tua kita, saudara tunggal kita, yaitu Yesus Kristus yang ada di sisi kanan Bapa.”
 
Adapun Perayaan Ekaristi yang dihadiri oleh para pelajar SMA dan SMP yang beragama katolik sekota kupang ini menjadi penutup dan puncak dari rangkaian perayaan Hari Komunikasi Sedunia Ke-50 di tingkat Keuskupan Agung Kupang yang berlangsung dari tanggal 3-5 Mei 2016, yang diisi dengan kegiatan seminar tentang komunikasi sosial bagi kelompok-kelompok kategorial, yakni hari pertama untuk para imam dan para pelayan pastoral non tertahbis; hari kedua bagi Orang Muda Katolik, Biarawan-biarawati, TNI, POLRI, PNS dan wartawan dan para pemerhati media; dan hari ketiga untuk para pelajar tingkat SMP dan SMA sekota Kupang.
 
Kegiatan seminar yang bertemakan Komunikasi, Keluarga dan Kerahiman ini menghadirkan beberapa pembicara, antara lain: Uskup Agung Kupang, Mgr Petrus Turang yang membedah tentang Komunikasi Sosial dan Kerahiman; Kepala Dinas KOMINFO Provinsi NTT yang membedah seputar Kebijakan Pemerintah dalam Komunikasi Sosial; Bapak Prof. Dr. Alo Liliweri yang membahas seputar Keluarga dan Komunikasi Sosial; Pater Dr. Edu Dosi, SVD yang membedah seputar Karya Pastoral dan Komunikasi Sosial; serta Bapak Damian Godho dan Bapak Drs. Dion D. B. Putra yang berbicara tentang Kewartawanan dan Komunikasi Sosial, khususnya kiprah dari para wartawan katolik dalam mewartakan Injil melalui karya mereka di bidang media massa.**

Suara Gembala

Pesan Puasa Uskup Agung Kupang Tahun 2018

Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus, Masa puasa atau prapaskah sudah tiba kembali. Kita hadir lagi dalam masa liturgis khusus. Masa pembaruan hidup iman akan sengsara, wafat serta kebangkitan Tuhan kita Yesus Kristus.

Tokoh

Santa Agatha

Seorang gadis Kristen nan cantik bernama Agatha hidup di Sisilia pada abad ketiga. Gubernur Romawi kafir mendengar kabar tentang kecantikan Agatha dan menyuruh orang untuk membawa gadis itu ke istana untuk dijadikan sebagai isterinya.

Renungan Harian

Koyakkanlah Hatimu Dan Bukan Pakaianmu

Rabu, 14 Februari 2018; HARI RABU ABU (U). Pantang dan Puasa.
E Pemberkatan dan pembagian abu PrefPrap IV.

Hari ini kita memulai masa Prapaskah yang ditandai dengan penerimaan abu di dahi kita. Mengapa pada Hari Rabu Abu kita menerima abu di kening kita? Sejak lama, bahkan berabad-abad sebelum Kristus, abu telah menjadi tanda tobat. Misalnya, dalam Kitab Yunus dan Kitab Ester.