“Kita Hadir Bukan Untuk Saling Mengintip”

“Pertama-tama kita harus menyadari bahwa perayaan ini adalah perayaan antara saudara dengan saudara, saudari dengan saudari, teman dengan teman. Karena itu maka perayaan ini memang suatu perayaan persaudaraan, perayaan ekaristis, di mana masing-masing boleh merasakan, boleh menikamti betapa baiknya Tuhan di dalam perjalanan hidup ini. Sederhananya bahwa kita sebagai orang beriman sebenarnya selalu mengharapkan dan menegaskan di dalam hati kita bahwa Tuhan itu hadir dalam perjalanan kita, supaya memang sukacita Injil Yesus Kristus ada dalam hati kita.” Demikian diungkapkan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang dalam Perayaan Ekaristi yang dilaksanakan dalam rangka merayakan 50 tahun berdirinya paroki St. Paulus Oinlasi.
 
Pada perayaan yang dilangsungkan bertepatan dengan perayaan 20 tahun tahbisan uskup yang diterima oleh Mgr. Petrus Turang, Kamis, 27 Juli 2107 ini,Bapa Uskup lebih lanjut mengajak semua yang hadir untuk menjadikan perayaan iman ini sebagai kesempatan untuk semakin meneguhkan iman dan kepercayaan kepada Tuhan yang tetap dengan setia mendampingi setiap orang di dalam seluruh perjalanan hidup ini. Dan karenanya, kesempatan merayakan 50 tahun hadirnya persekutuan umat katolik di paroki St. Paulus Oinlasi ini hendaknya pula menjadi sebuah syukur bersama, bukan hanya sebagai perayaan syukur bagi umat katolik semata. Inilah bentuk rasa syukur dari hati yang iklas yang serentak menyadarkan semua pihak akan nilai-nilai kebersamaan yang harus selalu dijaga dan dikembangkan di tengah keberagaman yang ada. “Nomor satu adalah hati kita, apakah memang benar-benar dengan secara sejati bersyukur kepada Tuhan karena kehadiran-Nya dalam perjalanan hidup kita, perjalanan hidup dari orang beriman, sebuah perjalanan bersama-sama yang saling menemani. Karenanya, orang katolik, orang protestan, orang islam, orang Hindu yang ada di dalam ruang yang sama, yang berjalan bersama itu harus saling melihat satu sama lain, bukan saling mengintip satu sama lain. Karena inilah dasar kerukunan di antara masyarakat yang berbeda di dalam kebhinekaan. Di situlah kita saling melihat dengan benar, kita harus saling mendengar dengan benar. Dengan demikian dalam perjalanan bersama yang saling menemani, kita sungguh-sungguh berkembang sebagai orang beriman. Perayaan ini juga meneguhkan bahwa kehadiran umat katolik di wilayah pelayanan paroki Oinlasi ini, adalah satu bagian yang bersahabat dengan semua orang,” ungkap Mgr. Petrus.
 
Mengakhiri sambutan-Nya, Bapa Uskup secara khusus mengapresiasi kebersamaan dan kekompakan yang telah ditunjukkan oleh semua elemen masyarakat, terutama hubungan saling menemani antar umat beragama yang berada di dalam wilayah pelayanan paroki Oinlasi. Suatu kebersamaan yang membuat tidak ada satu pihakpun yang kemudian merasa menjadi orang asing di dalam kebersamaan itu. Dan menurut bapa uskup, inilah yang menjadi anugerah luar biasa dari Tuhan bagi semua yang ada di wilayah ini, dan serentak menjadi sumbangan yang istimewah bagi kemajuan bangsa Indonesia. “Kita punya sumbangan istimewah dari sini, karena kita tidak saling mengintip satu sama lain. Orang yang mengintip satu sama lain berarti dia curiga. Dan karena itu dia berada dalam keadaan membela diri. Di sini, umat katolik, umat protestan, umat Islam, umat Hindu dan lain-lain, anda tidak usah membala diri, karena anda sudah bersatu. Dan karena perayaan ini dengan kehadiran semua pihak, telah menjadi anugerah luar biasa dari Tuhan bagi kita sekalian."
 
Adapun perayaan puncak syukur 50 tahun paroki St. Paulus Oinlasi dan 20 tahun tahbisan Uskup Mgr. Petrus Turang yang penuh dengan nuansa kebersamaan ini, juga dihadiri oleh ribuan umat katolik dan umat agama lainnya yang ada di wilayah ini, para pejabat pemerintah, anggota TNI/ POLRI, para imam, biarawan-biarawati, para tokoh agama katolik dan non katolik, dan para undangan lainnya yang memadati pelataran gereja St. Paulus Oinlasi.***

Suara Gembala

Kita Mengasihi Tidak Dengan Perkataan Tetapi Dengan Perbuatan

1.“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan tetapi dengan perbuatan” (1Yoh 3:18). Perkataan ini dari rasul Yohanes mengungkapkan suatu perintah dari mana tak seorang Kristiani pun dapat mengelak.

Tokoh

Santo Albertus Agung, Uskup dan Pujangga Gereja

Albertus lahir di Lauingen, danau kecil Danube, Jerman Selatan pada tahun 1206. Orang tuanya bangsawan kaya raya dari Bollstadt. Semenjak kecil ia menyukai keindahan alam sehingga ia biasa menjelajahi hutan-hutan dan sungai-sungai di daerahnya.

Renungan Harian

Jalan Menuju Pertobatan Itu Selalu Terbuka

Selasa, 21 Nopember 2017, Peringatan Wajib Santa Perawan Maria dipersembahkan kepada Allah
2Mak. 6:18-31; Mzm. 4:2-3,4-5,6-7; Luk. 19:1-10
BcO Dan 2:1,25-47

Salah satu ceritera Kitab Suci yang sudah begitu akrab di telinga kita, adalah kisah tentang Zakheus, si Pemungut cukai. Di hadapan orang-orang Yahudi, para pemungut cukai termasuk dalam golongan yang dikatakan sebagai orang-orang berdosa.