“APAKAH KITA MEMANG BERIMAN BENAR KEPADA YESUS KRISTUS?”

Rangkaian kegiatan MUSPAS Keuskupan Agung Kupang hari yang kedua, diawali dengan ceramah dari Mgr. Petrus Turang, Uskup Agung Kupang. Mengawali ceramahnya, Mgr. Petrus mempertanyakan tentang cara setiap pribadi kristiani menghayati imannya secara baik dalam hidup setiap hari. “Yang pertama dalam kehidupan kita sebagai orang kristiani adalah apakah kita memang beriman benar kepada Yesus Kristus? Artinya tidak memperalat Yesus kristus untuk kepentingan kita?”
Pertanyaan awal ini dikemukakan oleh Bapa Uskup, karena beliau menyadari bahwa tidak mudah untuk menjadi orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penyelamat kita. “Seringkali ada kelompok umat katolik, ataupun institusi/ lembaga katolik yang memberikan satu pelayanan untuk membangun suatu kekuatan bagi dirinya sendiri, dan bukan tidak untuk membangun kesadaran agar dirinya dimakan habis oleh orang-orang yang dia layani seperti yang dibuat oleh Kristus! Di sinilah justru memang Kristus dia pakai untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri. Karena itu, tidak mungkin akan terjadi apa yang kita sebut persekutuan benar dalam kristus, karena kita akan mengobok-obok. Artinya mencari apa yang memberikan satu keuntungan, tidak seluruhnya material tetapi suatu keuntungan kehadiran kita dalam dunia ini.”
Karenanya, lebih lanjut Mgr. Petrus menjelaskan bahwa pelayanan seorang berimanhendaknyadiberikan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, karenapersekutuan yang benar dalam Kristus tidak mungkin terjadi jikasetiap pribadi selalumementingkan diri sendiri. Inilah model pelayanan dalam persekutuan sebagai orang-orang yang menyatakan dirinya beriman kepada Kristus.
Dalam ceramah yang dimoderatori oleh RD. Frengky Kopong Mamu dan diikuti oleh 250 orang peserta MUSPAS ini, Bapa Uskup secara khusus menekankan tentang bagaimana setiap orang perlu melihat kembali model pelayanan yang dilakukannya di dalam hidup, agar pelayanannya sungguh menghadirkan rasa persaudaraan yang saling membangun dalam kebersamaan. Di sinilah Mgr. Petrus mengingatkan pula tentang hal yang perlu diwaspadai dalam dunia masa kini. “Salah satu keunggulan yang merusak dunia itu yang selalu disebut oleh paus-paus antroposentrisme yang palsu! Karena dia membangun kemanusiaan untuk kepentingan dirinya sendiri! Bukan untuk menghadirkan martabat mulia yang diberikan oleh allah bagi setiap orang.”
Mengakhiri ceramahnya, Bapa Uskup mengajak setiap orang kristen untuk menghadirkan kesaksian iman melalui kerelaan untuk berkorban bagi sesama dengan mengambil teladan dari Allah sendiri. “Allah adalah kasih dan kita bersekutu di dalam Kasih. Dengan itu kita boleh membangun lingkup persaudaraan sebagai saudara-saudari yang saling memperlakukan sesamanya secara bermartabat.”

Suara Gembala

Pesan Paskah Uskup Agung Kupang

“Jangalah seorangpun yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang mencari keuntungan orang lain.” (1Kor 10:24)
 
Saudara-saudari terkasih,

Tokoh

Beato Innosensius XI, Paus

Benedetto Odescalchi -demikian nama Innosensius- lahir di Como, Italia pada tanggal 19 Mei 1611. Masa pontifikatnya (1676-1689) ditandai dengan suatu perjuangan panjang lagi berat melawan campur tangan Raja Louis XIV dari Prancis (1643-1715) dalam urusan-urusan Gereja.

Renungan Harian

Mari Menjadi Saudara Yang Baik Dan Benar

Rabu, 15 Agustus 2018 - Hari Biasa
Yeh. 9:1-7; 10:18-22; Mzm. 113:1-2,3-4,5-6; Mat. 18:15-20.
BcO Za. 10:3-11:3.
warna liturgi Hijau

Saling mengoreksi seringkali menjadi hal yang tidak mudah. Hal ini bisa saja terjadi karena ketidakpedulian, atau juga karena ada keengganan satu terhadap yang sama lain .